20 Contoh Dongeng Sebelum Tidur dan Pesan Moralnya

Butuh referensi dongeng untuk tugas sekolah atau bacaan sebelum tidur? Yuk, simak contoh dongeng beserta pesan moralnya di artikel ini!
—
Sadar nggak sih, jauh sebelum ada universe Marvel, kita sebenarnya sudah lebih dulu mengenal yang namanya dongeng. Dari kecil kita sudah disuguhi cerita imajinatif, seperti dongeng Si Kancil yang cerdik dan kisah fiktif lainnya.
Ternyata, dongeng itu nggak cuma satu jenis aja, lho! Ada fabel yang bikin kita belajar dari karakter hewan dan dongeng fantasi yang bersifat khayalan, namun mudah dipahami. Tiap cerita dongeng punya vibes uniknya masing-masing yang bikin kita mikir, “Oh, ternyata maksudnya gitu ya!”
Nah, kalau kamu lagi cari referensi dongeng, berikut beberapa contohnya dari berbagai genre. Nggak cuma seru untuk dibaca, tapi ada pesan moralnya juga yang siapa tahu bisa jadi reminder buat kamu.
Pengertian Dongeng
Merujuk pada KBBI, dongeng adalah sebuah cerita yang tidak benar-benar terjadi, terutama kejadian di zaman dahulu yang aneh-aneh. Sering kali, dongeng berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan supranatural yang kemudian dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Keunikan dongeng terletak pada alurnya yang banyak kejadian luar biasa, sehingga bisa membawa pembaca larut dalam suasananya. Karena termasuk dalam kategori sastra lama, mayoritas dongeng bersifat anonim dan merupakan cerita rakyat fiktif yang lahir dari imajinasi kolektif masyarakat.
Manfaat Dongeng
Sebenarnya, apa sih manfaat dongeng itu? Manfaat dongeng biasanya sebagai sarana hiburan karena memberikan rasa bahagia dan mengasah pemikiran yang kreatif bagi siapapun yang membacanya.
Selain itu, banyak pesan moral yang terkandung dalam dongeng dan bisa diteladani untuk kehidupan kita. Pola cerita dalam dongeng juga biasanya cukup jelas, ada tokoh baik hati yang akhirnya mendapatkan kebahagiaan dan tokoh jahat yang harus menanggung akibat dari perbuatannya.
Pasti kamu masih ingat kan dengan kisah Bawang Merah dan Bawang Putih? Dari cerita itu, kita belajar kalau kebaikan hati pada akhirnya akan berbuah manis, sementara sifat iri dengki hanya akan membawa kerugian.
Baca Juga: Pengertian Fabel dan Legenda Beserta Ciri & Contohnya
Contoh Dongeng beserta Pesan Moralnya
Berikut adalah beberapa contoh dongeng yang bisa kamu jadikan referensi dan bacaan sebelum tidur.
1. Contoh Dongeng Sebelum Tidur
Dongeng Kancil dan Buaya
Alkisah, buaya dan kancil tinggal di wilayah yang sama. Sudah lama buaya mengincar kancil untuk dijadikan santapannya. Namun, kancil selalu bisa menghindari kejarannya. Ia adalah hewan yang banyak akal sehingga buaya selalu kesulitan untuk menangkapnya.
Meski selalu lolos dari kejaran buaya, namun lama-lama kancil merasa khawatir juga. Karena itu, ia pindah rumah ke daerah lain untuk menjauhi buaya. Ia tinggal di bawah sebuah pohon besar di hilir sungai. Awalnya buaya merasa bingung karena tidak melihat kancil di tempat biasanya. Maka ia pun mencarinya ke sana-kemari, bertanya kepada para hewan yang ditemuinya.
“Oh, kancil pindah ke pohon di dekat hilir sungai,” kata burung kecil yang ditanya oleh buaya. Tentu saja buaya senang mendengar informasi itu. Segera saja ia pergi ke tempat yang dimaksud oleh si burung. Ia sudah tidak sabar lagi untuk memburu si kancil.
Ia benar-benar merasa penasaran, ingin menikmati daging kancil yang sudah lama ia idam-idamkan. Setelah berhasil menemukan tempatnya, buaya pun pindah ke sana juga. Namun, kancil masih belum mengetahuinya.
Selama berhari-hari buaya mengawasi kancil. Ia mempelajari kebiasaan kancil seraya merancang strategi untuk menangkapnya. Dari pengamatannya itu, tahulah si buaya bahwa si kancil sering pergi ke sebuah pulau kecil yang ditumbuhi pohon-pohon apel di dekat tempat tinggal kancil. Untuk sampai ke sana, si kancil biasa menyeberang sungai dengan melompati beberapa batu besar yang ada di antara tempat tinggal kancil dengan pulau tersebut.
“Aku punya ide!” seru buaya. Ketika kancil pergi ke pulau kecil, buaya bersembunyi di balik batu di tengah sungai. Ia menunggu kancil melompat ke batu itu.
Hari itu kancil puas memakan buah-buahan yang ada di pulau kecil. Kemudian ia pun pulang dengan riang. Ia melompat dari sisi sungai ke batu-batu untuk sampai di rumahnya. Namun setibanya di tengah sungai, ia melihat bayangan dari batu yang hendak di lompatinya tampak Iebih tinggi dari biasanya.
Akal cerdas si kancil Segera menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
“Jangan-jangan ada buaya di balik batu itu?” batin kancil, curiga. Setelah berpikir, ia berhasil mendapat akal. Ia berteriak ke arah batu, “Hai batu! Gimana kabarmu?”
Hening. Tidak ada jawaban. Kancil kemudian bertanya lagi. “Ada apa batu sahabatku? Biasanya kau menjawab sapaanku.”
“Oh, jadi biasanya batu ini berbicara?” batin Buaya yang sedang berdiam diri di batu itu. “Kalau begitu aku harus pura-pura menjawabnya supaya kancil tidak curiga.”
“Halo juga, kancil,” jawab buaya.
Kancil terkikik dalam hati melihat kebodohan buaya. Lantas ia berkata, “Jadi kau ada di situ ya, Buaya? Tak kusangka, kau mengejarku sampai ke sini.”
Buaya kaget. Rupanya penyamarannya sudah ketahuan. Sadarlah ia bahwa kancil telah mengakalinya. Ia benar-benar kesal dengan kebodohannya sendiri.
“Ya, aku mengejarmu ke sini karena ingin memakanmu!” sahut buaya, jengkel.
Berikutnya. “Bukalah mulutmu lebar-lebar agar aku bisa melompat ke dalamnya.”
Kancil benar-benar cerdik. Ia tahu bahwa mata buaya akan tertutup saat buaya membuka mulutnya lebar-lebar. Dan sesaat setelah buaya membuka mulutnya, kancil segera melompat ke atas kepala buaya, lalu melompati batu batu lainnya dengan lincah, dan setelah tiba di tepi sungai segera memanjat pohon besar tempat tinggalnya.
Lagi-lagi selamatlah kancil dari kejaran buaya. Itu semua berkat kecerdasannya yang jauh melampaui buaya. Sementara buaya terpaksa gigit jari karena lagi-lagi gagal menangkap kancil yang sudah lama diincarnya.
(Sumber: https://dongengceritarakyat.com/cerita-fabel-dongeng-si-kancil-dan-buaya/)
2. Contoh Dongeng Pendek
Bura, Si Beruang yang Sering Lupa
Bura berdiri di depan pintu rumahnya. Ia membuka dan menutup tasnya berulang kali. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengeluarkan isi tasnya.
Prak prak prak… Satu per satu benda di dalam tas Bura dikeluarkan. Namun, Bura masih kebingungan.
“Hai Bura, cari apa?” kata Cendan yang hinggap di pohon dekat rumah Bura.
“Kunci pintu rumahku, Cen. Ah, aku lupa menaruhnya di mana,” kata Bura.
“Wah, hilang lagi? Bukannya dua hari yang lalu juga hilang?” kata Cendan sambil terbang mendekati tas Bura yang tergeletak di atas tanah.
“Haaah, aku memang pelupa Cen,” kata Bura sedih. Ia duduk menyender dan tampak kelelahan.
Cendan membantu Bura mencari kunci sekali lagi dalam tas. Kasihan Bura yang tidak bisa masuk ke rumah. Dua hari yang lalu, ia mencari kunci ke sana ke mari, ternyata ia taruh di kantong. Ah! Cendan ingat sesuatu.
“Coba lihat di kantong, siapa tahu ada,” kata Cendan.
Bura merogoh kantongnya.
“Ah, ini dia!” kata Bura berseru.
“Tuh, kan, sama seperti kemarin. Bura selalu saja lupa,” kata Cendan sambil terbang.
Bura masuk ke rumah. Walaupun lelah, tetapi ia juga lapar. Jadi, ia memutuskan untuk membuat makan siang.
Bura memang beruang yang sangat pintar memasak. Ia sering mengundang teman-teman untuk makan di rumahnya. Ia juga selalu membawa makanan lezat saat piknik bersama.
“Sya lalalalala…. aku akan buat makan siang lezat untuk Cendan,” kata Bura.
“Lalu, aku akan antarkan ke rumahnya untuk jadi kejutan. Pasti ia senang,” kata Bura.
Aroma masakan Bura begitu sedap. Apalagi saat ia membuka jendela dapurnya, aroma lezat menyebar ke area hutan. Ia membuat begitu banyak makanan karena ada banyak bahan yang tersimpan di dapur.
Bura tinggal bersih-bersih sedikit lagi. Tiba-tiba ada suara pintu diketuk.
“Siapa yang datang, ya?” tanya Bura pada dirinya sendiri.
Saat Bura membuka pintu, sudah ada Cendan, Seta, Hari, Tuan Lanlan, Bu Liba, dan banyak sekali penduduk hutan lainnya.
“Selamat ulang tahun Buraaaa…” teriak seluruh tamu saat Bura membuka pintu.
Bura kaget sekali. “Memangnya aku ulang tahun hari ini?” tanya Bura polos.
Semua tamu menggeleng-gelengkan kepala.
“Bura lupa lagi, yaa. Kan, kamu mengundang kami datang ke rumah siang ini karena kamu ulang tahun,” kata Tuan Lanlan.
“O, iya! Aku lupa,” kata Bura.
“Ah, Bura…..” kata seluruh tamu.
“Tapi tenang saja, aku sudah buat banyak makanan. Kita bisa makan siang sama-sama sesuai rencana,” kata Bura.
“Yaaaayy,” sorak semua tamu berbahagia.
“Nah, sebelum mulai makan, kami punya hadiah untuk Bura,” kata Seta, si semut hitam.
“Taraaaaa,” Hari mengeluarkan bungkusan kado yang cukup besar.
Bura membuka isinya. Sebuah papan tulis, lengkap dengan spidol warna-warni.
“Itu namanya papan pengingat. Supaya Bura bisa mencatat, hihihi,” kata Bu Liba, ibu lebah yang anggun.
Bura sangat bahagia. Ia berterima kasih pada seluruh teman-temannya yang datang dan begitu sayang padanya.
(Sumber: https://bobo.grid.id/read/083684521/dongeng-anak- bura-si-beruang-yang-sering-lupa-mendongenguntukcerdas?page=all)
3. Contoh Dongeng Panjang
Legenda Sangkuriang dan Tangkuban Perahu
Legenda Sangkuriang berasal dari Jawa Barat dan menceritakan asal-usul terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. Kisah ini berawal dari Dayang Sumbi, seorang wanita cantik yang hidup di hutan bersama anjing bernama Tumang, yang sebenarnya adalah jelmaan dewa. Dari hubungan mereka, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang.
Saat remaja, Sangkuriang gemar berburu. Suatu hari, karena marah, ia membunuh Tumang tanpa mengetahui bahwa itu adalah ayahnya. Ketika Dayang Sumbi mengetahui hal tersebut, ia sangat marah dan mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi mengembara meninggalkan rumah.
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang kembali sebagai pemuda gagah dan tanpa sadar jatuh cinta pada Dayang Sumbi, yang tetap awet muda. Saat akan menikah, Dayang Sumbi menyadari bahwa pria itu adalah anaknya dari bekas luka di kepalanya. Ia pun berusaha menggagalkan pernikahan tersebut.
Dayang Sumbi memberi syarat mustahil, yaitu Sangkuriang harus membendung sungai dan membuat perahu dalam satu malam. Dengan bantuan makhluk halus, Sangkuriang hampir berhasil. Namun, Dayang Sumbi menggagalkan usahanya dengan membuat suasana seolah-olah sudah pagi.
Merasa sudah dicurangi membuat Sangkuriang marah besar. Sangkuriang menendang kapal besar yang sudah dibuatnya sehingga jatuh tertelungkup. Kapal besar ini kemudian menjelma menjadi sebuah gunung, Gunung Tangkuban Perahu yang berarti perahu yang tertelungkup. Karena takut akan kemarahan Sangkuriang, Dayang Sumbi terus berlari dan akhirnya menghilang di Gunung Putri. Sangkuriang yang tidak berhasil menemukan Dayang Sumbi akhirnya menghilang ke alam gaib.
Dari dongeng tersebut beberapa pesan moral yang bisa dipelajari adalah kejujuran. Kejujuran akan membawa kebaikan di kemudian hari, sementara perbuatan curang akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, jangan gegabah dan buru-buru dalam memutuskan sesuatu, apalagi kalau kita sedang marah.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-jawa-barat- legenda-sangkuriang-dan-tangkuban-perahu/)
4. Contoh Dongeng Fabel
Flik Tupai di Musim Kenari
Di sebuah pohon oak besar, di tepi sungai, tinggallah keluarga tupai. Pada musim gugur, ibu tupai berkata pada keempat anaknya, “Ini waktunya untuk mengumpulkan persediaan makanan musim dingin!”
“Kami akan pergi,” teriak anak tupai terbesar.
“Flik, ayo ikut! Lebih baik kamu menolong kami, daripada cuma bermain akrobat di dahan pohon!” seru anak tupai nomor dua pada adiknya.
“Tapi aku ini pemain akrobat hebat!” teriak Flik, si tupai paling kecil.
Beberapa kelinci dan burung-burung di dekat situ memberi semangat, “Flik hebat! Ayo, akrobat di pohon lagi!”
Flik semakin bersemangat. Ia kembali bersalto dan melompat dari dahan ke dahan. Ketiga kakaknya hanya menggeleng kepala dan pergi mencari kenari.
Sorenya, ketiga kakaknya pulang membawa kantong kenari. Mereka bergotong royong menaikkan kantong kenari ke atas pohon. Disitu ada lubang tempat penyimpanan makanan keluarga mereka.
“Flik tidak pernah membawa persediaan makanan apapun,” keluh ketiga kakaknya setiap pulang mencari kenari.
Flik memang lebih suka berakrobat, atau mendengarkan dongeng dari burung hantu. Atau mendengarkan lagu para jangkrik menyanyi.
“Kalian mengumpulkan kenari. Aku mengumpulkan lagu dan dongeng,” kata Flik santai. Ia memang belum pernah merasakan musim dingin. Ia tak percaya, kalau ada salju yang sangat dingin turun dari langit di musim salju.
Akhirnya, musim salju pun datang. Flik hampir tak percaya melihat salju putih dan sangat dingin turun dari langit. Ia bergelung di sarang sambil melahap buah-buah kenari.
“Saljunya berkilau sangat indah. Sayang, dingin sekali. Aku jadi malas keluar rumah,” kata Flik.
“Itu sebabnya, kau harus mengumpulkan persediaan makanan selama musim gugur. Supaya tidak perlu keluar rumah saat musim dingin tiba!” marah ketiga kakaknya.
“Sudah, jangan bertengkar. Flik kan baru kali ini merasakan musim salju,” kata ibu mereka menenangkan.
“Maafkan, aku Kak! Aku memang tidak ikut mengumpulkan kenari. Tapi, ayo, duduklah! Aku akan ceritakan dongeng yang aku kumpulan dari burung hantu tua!” kata Flik.
Malam itu, bulan tampak bulat. Cahayanya masuk ke dalam pohon tempat keluarga tupai itu tinggal. Semua tupai asyik mendengarkan dongeng Flik. Setelah selesai mendongeng, Flik berkata,
“Akan ku panggilkan teman-temanku untuk menghibur kalian,” kata Flik lagi. Tak lama kemudian, datanglah Pak Jangkrik membawa gitar, dan Pak Belalang membawa akordion.
Flik membaca puisi diiringi musik gitar dan akordion. Para kelinci menari mengikuti irama musik.
“Oo, ini seperti pesta yang indah, Flik!” puji ibunya. Ketiga kakaknya juga merasa sangat senang.
Flik gembira bisa membawa kebahagiaan di pohon tempat tinggalnya. Flik membuat mereka semua bisa melalui musim dingin dengan hati yang hangat.
Ketiga kakak Flik memaafkannya walau ia tidak ikut mengumpulkan kenari di musim itu. Namun di musim gugur berikutnya, tentu saja Flik berjanji akan ikut mencari kenari. Ia kini sudah tahu, seperti apa musim salju itu. Musim yang indah, tetapi sangat dingin.
(Sumber: https://bobo.grid.id/read/08967578/dongeng-anak- flik-tupai-di-musim-kenari?page=2)
Baca Juga: Contoh Cerita Fabel Bahasa Indonesia & Inggris Singkat
5. Contoh Dongeng Legenda
Legenda Batu Menangis
Di sebuah desa terpencil di perbukitan Kalimantan, hiduplah seorang janda tua bersama anak gadisnya yang bernama Darmi. Darmi memiliki paras yang sangat cantik jelita, namun sayangnya, kecantikannya tidak sejalan dengan sifatnya. Ia sangat manja dan enggan membantu ibunya yang setiap hari bekerja keras di sawah.
“Ibu, jangan dekat-dekat aku, nanti baju baruku kotor terkena debu dari pakaianmu yang kumal itu!” seru Darmi sambil asyik bercermin, sementara ibunya hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan putrinya.
Suatu hari, sang ibu mengajak Darmi turun ke pasar di kaki bukit untuk membeli kebutuhan pokok. Darmi setuju ikut, namun dengan syarat ibunya harus berjalan di belakangnya agar tidak memalukan. Sepanjang jalan, Darmi tampil sangat anggun dengan gaun indahnya, sedangkan sang ibu berjalan tertatih-tatih di belakang sambil menggendong keranjang yang berat. Orang-orang di pasar terpana melihat kecantikan Darmi dan mulai bertanya-tanya siapa wanita tua yang mengikutinya.
“Hai gadis cantik, apakah wanita dibelakangmu itu ibumu?” tanya seorang pedagang dengan ramah.
Darmi langsung membuang muka dan menjawab dengan nada ketus, “Tentu saja bukan! Dia hanyalah pembantuku yang aku bawa untuk membawakan barang-barang.”
Sang ibu terdiam, matanya berkaca-kaca menahan perih di hati. Ia masih mencoba bersabar dan menganggap itu mungkin hanya candaan anaknya agar tidak malu di depan orang banyak.
Namun, pertanyaan serupa muncul berkali-kali dari warga lain, dan jawaban Darmi tetap sama, bahkan semakin menyakitkan. “Dia itu budak yang aku pungut dari desa tetangga,” ucap Darmi dengan sombong saat ditanya lagi oleh seorang pemuda. Hati sang ibu akhirnya hancur berkeping-keping. Ia berhenti melangkah, menjatuhkan keranjangnya, dan bersimpuh di atas tanah sambil menengadah ke langit. “Ya Tuhan, hamba sudah tidak kuat lagi. Berikanlah pelajaran kepada anak hamba yang sudah melampaui batas ini,” doanya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, langit yang cerah berubah menjadi gelap gulita dan petir menyambar-nyambar dengan hebatnya. Darmi merasa kakinya menjadi sangat kaku dan tidak bisa digerakkan. Pelan tapi pasti, dari ujung jari kakinya berubah menjadi batu kelabu.
“Ibu! Apa yang terjadi dengan kakiku? Ibu, tolong aku! Maafkan aku, Ibu!” teriak Darmi histeris sambil menangis tersedu-sedu. Ia mencoba meraih tangan ibunya, namun proses perubahan itu terus merambat naik ke pinggang hingga ke dadanya.
Meskipun Darmi terus memohon ampun dengan deru air mata yang mengalir deras, semuanya sudah terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya membeku menjadi sebuah batu besar. Keajaiban terjadi; meskipun sudah menjadi batu, orang-orang masih bisa melihat tetesan air mata yang terus mengalir dari kedua mata batu tersebut. Hingga kini, penduduk sekitar menyebutnya sebagai Batu Menangis, sebuah pengingat abadi bahwa doa seorang ibu adalah keramat dan kasih sayang orang tua tidak boleh dibalas dengan kedurhakaan.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-kalimantan- barat-legenda-batu-menangis/)
6. Contoh Dongeng Jenaka
Si Kabayan Berburu Kijang
Suatu pagi, Kabayan bangun lebih awal karena ingin ikut berburu kijang bersama mertuanya (Abah).
“Kang… katanya mau ke hutan?” panggil Nyi Iteung pelan.
“Iya, iya… aku bangun ini,” jawab Kabayan sambil bersiap.
Kabayan lalu bertemu Abah di jalan.
“Bah! Jadi kita berburu hari ini?”
“Pasti! Makanya cepat, nanti kita ketinggalan rombongan!”
Mereka pun berangkat ke hutan bersama rombongan pemburu. Namun, seperti biasa, Kabayan tidak benar-benar serius berburu. Ia lebih banyak kebingungan dan tidak fokus saat mencari kijang.
Ketika pemburu lain mulai menyusun strategi, Kabayan justru berpikir dengan caranya sendiri yang aneh dan tidak efektif. Ia tidak memahami cara berburu yang benar, sehingga malah menyulitkan dirinya sendiri.
Dalam beberapa versi cerita, Kabayan bahkan lebih banyak mengandalkan keberuntungan daripada usaha. Tingkahnya yang polos dan nyeleneh justru membuat situasi menjadi lucu, sementara para pemburu lain terlihat lebih serius.
Pada akhirnya, Kabayan tidak benar-benar berhasil berburu dengan baik, tetapi sikapnya yang santai dan cara berpikirnya yang unik justru menjadi hiburan bagi orang-orang di sekitarnya.
(Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/3567/1/Si%20kabayan.pdf)
7. Contoh Dongeng Mitos
Asal-usul Nyi Roro Kidul
Dahulu kala di Kerajaan Pajajaran, hiduplah seorang putri cantik bernama Dewi Kandita. Ia adalah putri dari Prabu Siliwangi yang sangat disayangi karena budi pekertinya yang luhur. Namun, kebahagiaan itu terusik oleh rasa iri hati dari para selir dan putra-putri raja lainnya yang takut Dewi Kandita akan menjadi pewaris takhta tunggal.
Para selir kemudian bersekutu dengan seorang dukun sakti untuk menyantet Dewi Kandita. Suatu pagi, sang putri terbangun dengan tubuh penuh borok dan bau busuk yang menyengat. Prabu Siliwangi sangat sedih dan bingung, sementara para selir menghasutnya. “Baginda, penyakit putri ini adalah kutukan. Ia harus diasingkan agar tidak membawa petaka bagi kerajaan,” ucap salah satu selir dengan nada berpura-pura cemas.
Dewi Kandita yang merasa dirinya menjadi beban akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana secara diam-diam. Ia berjalan tanpa arah tujuan ke arah selatan, menembus hutan belantara dan mendaki gunung. “Kemanapun kaki ini melangkah, aku berserah diri pada Yang Maha Kuasa,” isaknya di tengah kesunyian malam yang dingin.
Setelah berhari-hari berjalan, ia tiba di tepi pantai Laut Selatan yang memiliki ombak sangat besar dan ganas. Karena kelelahan, sang putri tertidur dan bermimpi mendengar sebuah suara gaib yang bergema di antara deburan ombak. “Wahai putri cantik, ceburkanlah dirimu ke dalam laut. Air suci itu akan menyembuhkanmu dan mengembalikan kecantikanmu.”
Terbangun dari mimpinya, Dewi Kandita berdiri di atas tebing karang yang curam. Ia sempat ragu melihat keganasan samudra di bawahnya. “Jika memang ini takdirku untuk sembuh atau mati, maka biarlah laut ini yang menjadi saksinya,” teriaknya dengan berani sebelum akhirnya melompat ke dalam gulungan ombak hijau yang pekat.
Begitu menyentuh air laut, sebuah keajaiban terjadi. Borok dan penyakit di kulitnya hilang seketika, berganti dengan kulit yang jauh lebih halus dan bercahaya dari sebelumnya. Tidak hanya itu, ia merasa memiliki kekuatan magis yang luar biasa atas air dan seluruh makhluk di dalam samudra tersebut.
Namun, mukjizat itu memiliki konsekuensi; Dewi Kandita tidak bisa kembali lagi menjadi manusia seutuhnya. Ia kini telah menjadi bagian dari alam gaib laut selatan. Para penguasa jin dan makhluk halus di sana tunduk kepadanya. Mereka berseru serempak, “Engkaulah pemimpin kami, Sang Ratu penguasa pantai selatan!”
Sejak saat itu, ia dikenal dengan nama Nyai Roro Kidul. Ia membangun istana megah di dasar laut yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Kabar tentang kecantikan dan kekuatannya pun menyebar luas hingga ke seluruh pelosok tanah Jawa, menjadikannya sosok yang paling disegani sekaligus ditakuti.
Suatu ketika, seorang nelayan yang terdampar mengaku pernah melihat sosoknya muncul di atas ombak dengan kereta kencana. Rekan nelayannya bertanya dengan gemetar, “Benarkah kau melihat Sang Ratu? Apa ia tampak marah?” Sang nelayan menjawab, “Ia tampak agung sekaligus mengerikan, mengenakan pakaian hijau sutra yang berkilauan.”
Hingga kini, mitos Nyai Roro Kidul tetap hidup di masyarakat. Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Selatan sering diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, karena dipercayai warna tersebut adalah warna kesukaan Sang Ratu, dan siapapun yang melanggarnya akan “diambil” untuk menjadi pelayannya di kerajaan bawah laut.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat -jawa-barat-legenda-nyi-roro-kidul/)
Baca Juga: Contoh Cerita Rakyat Singkat dengan Berbagai Tema
8. Contoh Dongeng Bahasa Inggris
The Rabbit and The Turtle
One day a rabbit was boasting about how fast he could run. He was laughing at the turtle for being so slow. Much to the rabbit’s surprise, the turtle challenged him to a race. The rabbit thought this was a good joke and accepted the challenge. The fox was to be the umpire of the race. As the race began, the rabbit raced way ahead of the turtle, just like everyone thought.
The rabbit got to the halfway point and could not see the turtle anywhere. He was hot and tired and decided to stop and take a short nap. Even if the turtle passed him, he would be able to race to the finish line ahead of him. All this time the turtle kept walking step by step by step. He never quit no matter how hot or tired he got. He just kept going.
However, the rabbit slept longer than he had thought and woke up. He could not see the turtle anywhere! He went at full speed to the finish line but found the turtle there waiting for him.
(Sumber: https://www.moralstories.org/the-rabbit-and-the-turtle/)
9. Contoh Dongeng Fantasi
Pensil Ajaib
Laila adalah seorang gadis miskin yang pandai. Sebagian waktunya ia gunakan untuk belajar dan membantu orang tuanya. Selain itu, Laila juga suka menghabiskan waktunya untuk menggambar.
Sayangnya, kini ia tidak dapat menggambar lagi karena pensil yang dimilikinya sudah hampir habis dan sangat pendek sehingga tidak dapat digunakan lagi. Laila juga tidak bisa membeli pensil baru karena tidak memiliki cukup uang.
Dalam kesehariannya, Laila membantu orang tuanya memunguti plastik yang ada di jalan. Saat mengambil plastik, Laila menemukan ada sebuah pensil yang tergeletak di jalan. Laila mengambilnya dengan senang karena akan dapat menggambar lagi sepulang mencari plastik.
Saat di rumah, Laila mulai mengeluarkan pensil yang ia temukan tadi di jalan. Laila mencoba menggambar bunga di kertasnya. Alangkah kagetnya ketika selesai menggambar, tiba-tiba menjadi bunga sesungguhnya dan tergeletak di atas kertas tempat ia menggambar.
Laila merasa kaget dan tidak percaya. Ia mulai menggambar ayam untuk memastikan apakah yang ia lihat memang nyata. Sesaat setelah ia menggambar ayam, alangkah kagetnya tiba-tiba di hadapannya ada seekor ayam hidup yang berkokok sangat kencang.
Kini ia menyadari bahwa ia memiliki sebuah pensil ajaib. Dengan sigap ia segera menggambar berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh keluarganya. Ia menggambar beras, makanan, lauk-pauk, uang, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Saat orang tua Laila datang, alangkah kagetnya mereka melihat rumah dipenuhi banyak benda yang mereka butuhkan. Ibunya hampir menangis karena merasa sangat bahagia kebutuhan mereka dapat tercukupi.
Meski begitu, Laila menggunakan pensil ajaibnya dengan bijak. Ia tidak sembarangan menciptakan benda dengan pensil ajaibnya. Ia tahu bahwa bersikap berlebihan nantinya akan menimbulkan petaka baik untuk dirinya maupun dengan keluarganya.
(Sumber: buku Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII, dilansir via kumparan.com)
10. Contoh Cerita Dongeng Sebelum Tidur Berjudul Calon Arang
Calon Arang Dari Girah
Di Kerajaan Daha, Kediri, pada masa pemerintahan Raja Erlangga yang arif dan bijaksana, hiduplah seorang janda yang sangat bengis, bernama Calon Arang. Ia tinggal di Desa Girah.
Calon Arang adalah penganut sebuah aliran hitam, yakin kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan dengan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena putrinya sudah cukup dewasa, Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali menjadi perawan tua. Ia pun berusaha mencari cara agar Ratna Manggali segera mendapatkan jodohya dan menikah.
Tetapi, karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang berani memperistri Ratna Manggali, putrinya. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat menghukum warga Desa Girah.
“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang perawan hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam perawan itu harus dibawa ke Candi Durga!” perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya.
Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang perawan. Suatu pekerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.
Sebelum matahari terbit, gadis perawan yang malang itu sudah dibawa ke Candi Durga. Ia berusaha berontak dan meronta-ronta ketakutan.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” teriaknya.
Lama kelamaan gadis itu pun lelah karena kehabisan tenaga dan jatuh pingsan. Ia kemudian dibaringkan di altar persembahan. Tepat pada tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan gadis yang tak berdosa itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka. Setelah membakar dupa, Calon Arang mengucap mantra, lalu menikam jantung gadis tersebut hingga tewas.
Tuah jahat Calon Arang pun menjadi kenyataan. Desa Girah diterjang banjir dari luapan Sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air Sungai Brantas, ia pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya.
Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu.
Melihat kejadian tersebut, Prabu Erlangga marah besar. Ia pun menabuh genderang perang untuk melawan dan menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditumpas. Para prajurit yakin bahwa tugas suci itu akan menjadi bangga dan merasa yakin bahwa tugas tersebut akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.
Sesampainya di Desa kediaman Calon Arang, ledakan-ledakan menggelegar di antara para prajurit Kerajaan Daha. Mereka tiba-tiba menggelepar-gelepar di tanah, tanpa penyebab yang pasti. Korban pun berjatuhan. Calon Arang mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, maupun tanpa senjata.
Prabu Erlangga pun mencari cara lain untuk mengalahkan calon arang.
“Untuk dapat mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih sayang,” kata Empu Baradah dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang itu disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi putri tunggalnya.”
Empu Baradah kemudian meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.
Akhirnya, rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. Calon Arang pun bahagia. Pernikahan antara Empu Bahula dan Ratna Manggali pun dilangsungkan. Mereka saling mencintai satu sama lain. Di sisi lain, Empu Bahula memanfaatkan suasana tersebut untuk melaksanakan tugasnya.
Empu Bahula pun bertanya kepada istrinya, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti? Ratna Manggali menjawab, bahwa kesaktian Calon Arang terletak pada Kitab Sihir yang ia gunakan.
Empu Bahula segera mencari cara dan mengatur siasat untuk dapat mencuri Kitab Sihir tersebut. Ia pun berhasil, dan kitab itu langsung diserahkan ke Empu Baradah.
Amarah Calon Arang meledak ketika mengetahui Kitab Sihir miliknya lenyap. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab Sihir tersebut dengan tekun. Setelah berhasil, ia pun menantang Calon Arang.
Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belaha telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantra untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang.
Karena Kitab Sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup angin kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, Desa Girah menjadi aman tentram seperti sedia kala.
(Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/1602/1/Calon%20Arang%20 Dari%20Jirah%201995.pdf)
11. Contoh Dongeng Parabel
Si Tudung Merah
Ada seorang gadis kecil yang dikenal sebagai Si Tudung Merah karena selalu memakai tudung merah pemberian neneknya. Suatu hari, ibunya meminta ia mengantarkan makanan untuk neneknya yang sedang sakit di tengah hutan.
Sebelum berangkat, ibunya berpesan,
“Jangan berbicara dengan orang asing dan jangan keluar dari jalan!”
Di tengah perjalanan, Si Tudung Merah bertemu seekor serigala licik.
“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya serigala.
“Aku mau ke rumah nenekku, mengantarkan makanan,” jawabnya polos.
Serigala pun menipu Si Tudung Merah agar mengambil jalan yang lebih jauh sambil ia sendiri berlari cepat ke rumah nenek. Sesampainya di sana, serigala memakan nenek dan menyamar dengan mengenakan pakaian nenek.
Ketika Si Tudung Merah tiba, ia merasa ada yang aneh.
“Nenek, kenapa telingamu besar?”
“Supaya bisa mendengar lebih jelas.”
“Kenapa matamu besar?”
“Supaya bisa melihatmu lebih baik.”
“Kenapa mulutmu besar?”
“Supaya bisa memakanmu!”
Untunglah saat itu ada seorang pemburu yang melihat Si Tudung Merah dalam bahaya. Ia membidik serigala dan terdengar letusan “Dor!”.
serigala rubuh. Si Tudung Merah mendekati Si Pemburu dan berterima kasih. Nenek Si Tudung Merah ditemukan masih hidup di dalam perut serigala. Semuanya bahagia dan pulang kerumah.
(Sumber: https://www.ikatagentur.com/.cm4all/uproc.php/0/SI%20TUDUNG%20 MERAH.pdf?)
Baca Juga: Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Super Seru, Wajib Baca!
12. Contoh Dongeng Mite
Legenda Putri Tadampali dari Sulawesi Selatan
Alkisah, di Sulawesi Selatan berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Datu Luwu. Rakyat Luwu hidup berdampingan dengan sejahtera, aman, dan tenteram.
Datu Luwu dikaruniai seorang keturunan bernama Putri Tadampali. Kabar tentang paras cantiknya tersebar ke seluruh pelosok negeri, tak terkecuali ke telinga Raja Bone. Mendengar berita ini, Raja Bone yang juga memiliki putra yang gagah dan tampan, memutuskan untuk menikahkan putranya dengan Putri Tadampali.
Dengan tekad yang kuat, Raja Bone kemudian mengutus para duta kerajaan untuk mendatangi Kerajaan Luwu dan meminang Putri Tadampali. Namun, ketika pinangan tersebut sampai, Datu Luwu justru menjadi bimbang. Adat istiadat Luwu tidak memperbolehkan seorang putri untuk menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun, jika menolak pinangan Raja Bone, Datu Luwu khawatir akan muncul peperangan antara dua kerajaan. Setelah menimbang-nimbang keputusan besar ini dengan baik, dan untuk menghindari pertumpahan darah dan mengorbankan rakyatnya, pinangan Raja Bone pun akhirnya diterima Datu Luwu. Duta dari kerajaan Bone kembali untuk menyampaikan berita bahagia tersebut kepada sang raja.
Tidak lama setelah itu, Kerajaan Luwu digemparkan oleh sebuah kejadian tidak terduga. Sekujur tubuh Putri Tadampali mendadak dipenuhi oleh bintik-bintik yang mengeluarkan cairan kental dan berbau tidak sedap. Seluruh tabib didatangkan dari pelosok negeri untuk memulihkan putri kesayangan Datu Luwu. Malangnya, hasilnya berbuah nihil. Tidak ada tabib yang sanggup mengobati Putri Tadampali meski sudah diupayakan sekuatnya. Mereka justru menyampaikan bahwa penyakit putri adalah penyakit menular.
Khawatir penyakit ini tertular ke seluruh rakyatnya, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan Putri Tadampali ke tempat yang jauh. Meski merasa sedih, Putri Tadampali tetap patuh pada keputusan ayahnya dan bersedia diasingkan demi kebaikan orang banyak. Sebelum berangkat, Datu Luwu memberi sebuah keris pusaka sebagai tanda cintanya pada sang putri. Ia berharap keris tersebut dapat menjadi pengingat bahwa ia tidak akan pernah melupakan sang putri.
Setelah lama berlayar, Putri Tadampali dan para pengawal setianya akhirnya berlabuh di sebuah pulau. Pulau ini diberi nama Wajo oleh sang putri karena banyaknya buah wajo yang tersebar di sekitar pulau.
Suatu hari, saat Putri Tadampali sedang menghabiskan waktu di tepi danau, seekor kerbau buleng (putih) datang menghampirinya. Kerbau tersebut kemudian menjilati kulitnya. Karena tampak jinak, Putri Tadampali tidak mengusir kerbau dan membiarkannya menjilati kulitnya. Sungguh ajaib, setelah beberapa saat, kulit Putri Tadampali yang dijilati kerbau berangsur-angsur pulih dan kembali mulus seperti sediakala tanpa tersisa satu bercak pun. Sebagai tanda syukur, sang putri berpesan kepada para pengawalnya untuk tidak menyembelih apalagi memakan kerbau putih yang ada di Pulau Wajo.
Karena sudah terlanjur jatuh cinta kepada Putri Tadampali, Putra Mahkota menjadi sering termenung setelah kembali ke Kerajaan Bone. Ia selalu teringat akan pertemuannya dengan sang putri. Memperhatikan kelakuan Putra Mahkota, Panglima Kerajaan Bone yang menyaksikan langsung pertemuan Putra Mahkota dengan Putri Tadampali di Pulau Wajo, menceritakan tentang hal ini kepada Raja Bone. Raja Bone pun setuju dengan usulan panglima dan mengirim utusan untuk meminang Putri Tadampali di Pulau Wajo sebagai istri Putra Mahkota.
Setibanya di Pulau Wajo, Putri Tadampali memberikan keris pusaka pemberian sang ayah kepada para utusan dan meminta Putra Mahkota untuk mendapatkan restu ke Kerajaan Luwu terlebih dahulu. Jika keris tersebut diterima dengan baik oleh Datu Luwu, berarti pinangan diterima. Putra Mahkota pun berangkat sendiri menuju Kerajaan Luwu.
Sesampainya di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan sang putri kepada Datu Luwu. Ia menceritakan kabar tentang pulihnya penyakit Putri Tadampali dan niatnya untuk menjadikan sang putri istrinya. Melihat ketulusan hati dan besarnya minat Putra Mahkota untuk meminang putrinya, Datu Luwu pun memberikan restunya dan menerima keris pusaka yang diberikan oleh Putri Tadampali dengan senang hati.
Bersama dengan sang Putra Mahkota, Datu Luwu dan Permaisuri kemudian berangkat menuju Pulau Wajo untuk menjumpai putri tercinta. Setibanya di sana, Datu Luwu meminta maaf kepada sang putri karena telah mengasingkannya. Tapi, Putri Tadampali justru memanjatkan syukur karena dapat menyelamatkan rakyat Luwu dari penyakit menular yang menimpa dirinya dan mendapatkan kesembuhan di Wajo.
Putri Tadampali akhirnya melangsungkan pernikahan dengan Putra Mahkota Bone di Wajo. Semua yang hadir, termasuk keluarga dari Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone merayakannya dengan sukacita. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota didaulat untuk naik tahta dan menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Kerajaan Bone.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat -sulawesi-selatan-putri-tadampali/)
13. Contoh Dongeng Sunda tentang Fabel
Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet Ngala Cau
Kacaritakeun di hiji leuweung, aya dua sato anu geus lila sosobatan, nyaéta Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet. Hiji poé, Sakadang Monyet ngajak Sakadang Kuya pikeun melak cau. Manehna boga ide supaya engké jaganing pagéto maranéhna boga kadaharan sorangan sarta teu kudu hésé néangan ka ditu ka dieu deui.
Sakadang Kuya satuju kana ajakan éta. Tuluy maranéhna néangan binih cau anu alus di sisi leuweung. Sanggeus meunang binihna, maranéhna milih tempat anu subur pikeun melakna. Sakadang Kuya melak binih cau anu aya akaran, sedengkeun Sakadang Monyet anu rada kedul mah kalah milih melak pucuk cauna wungkul sabab ceuk pikirna bakal gancang buahan.
Waktu terus lumangsung, unggal poé Sakadang Kuya mah rajin ngurus tangtang cauna. Diberé gemuk, diséboran, sarta dipariksa bisi aya hileud. Sabalikna, Sakadang Monyet mah ukur bisa ulin waé. Manéhna yakin yén tangtu tangkal cauna bakal leuwih gancang tumuwuh ti batan milik Sakadang Kuya.
Lila-lila, tangkal cau anu dipelak ku Sakadang Kuya téh geus mimiti jangkung sarta kaluar jantungna. Teu lila ti harita, cauna geus arasak, konéng kacida matak kabita nu ningali. Sedengkeun tangkal cau milik Sakadang Monyet mah kalahka paéh, da melakna ogé ngan ukur pucukna wungkul tanpa akar.
Sakadang Monyet ngarasa sirik ningali tangkal cau Sakadang Kuya anu geus leubeut ku buah. Manéhna tuluy nyieun akal licik. Manéhna nyampeurkeun Sakadang Kuya bari api-api hayang nulungan ngala cauna, sabab manéhna nyaho Sakadang Kuya mah teu bisa naék tangkal. “Kuya, urang tulungan ngala cauna nya, pan anjeun mah teu bisa naék,” ceuk Monyet.
Sakadang Kuya anu jujur jeung percaya ka sobatna téh langsung satuju. “Sok atuh Monyet, nuhun pisan nya, engké urang bagi dua cauna,” témbal Kuya. Sakadang Monyet langsung gura-giru naék ka luhur tangkal cau kalayan lincahna. Tapi, barang nepi ka luhur, Sakadang Monyet malah poho kana jangjina.
Di luhur tangkal, Sakadang Monyet kalahka dalahar sorangan kalayan ponyona. Sakadang Kuya anu nunggu di handap ukur bisa gogeroan ménta bagianana. “Monyet, mana bagian uing? Alungkeun atuh hiji mah ka handap!” ceuk Kuya bari sedih. Tapi, Sakadang Monyet kalahka milih cau anu panggedéna sarta ngalungkeun cangkangna wungkul ka handap.
Sakadang Kuya ngarasa nyeri haté pisan ku kalakuan sobatna éta. Manéhna tuluy néangan akal pikeun méré palajaran ka Sakadang Monyet. Kuya ngumpulkeun cucuk-cucuk salak jeung rangrang anu seukeut, tuluy diteundeun di handapeun tangkal cau, pas di tempat Sakadang Monyet engké bakal turun atawa luncat.
Sanggeus seubeuh dahar cau, Sakadang Monyet niatna hayang langsung kabur luncat ka handap. Tapi, manéhna teu nempo aya cucuk anu seukeut di handap. “Aduh! Nyeri!” ceuk Sakadang Monyet bari gegerungan sabab sukuna katusuk cucuk. Manéhna labuh sarta nandang kanyeri anu pohara akibat kalakuanana sorangan.
Ahirna, Sakadang Monyet ménta hampura ka Sakadang Kuya sarta ngaku kana kasalahanana anu geus sarakah. Sakadang Kuya anu bageur mah méré hampura, tapi hubungan maranéhna geus teu akrab jiga baheula. Ti saprak harita, Sakadang Monyet diajar yén sarakah téh ngan bakal mawa cilaka pikeun diri sorangan sarta ngaruksak silaturahmi.
(Sumber: https://www.dongengek.web.id/2018/01/dongeng-sakadang- kuya-jeung-sakadang.html)
14. Contoh Dongeng Sebelum Tidur Panjang
Asal-Usul Danau Toba dan Pulau Samosir
Ada seorang petani kebun bernama Toba. Setiap hari, Toba bekerja dengan giat di ladangnya. Menanam, mengurusi ladang, serta memanen. Di sela-sela atau di akhir kegiatan berladang, Toba tak jarang pergi ke sungai. Di sungai, ia mencari ikan untuk dibawa pulang dan dijadikan santapan, maupun dijual lagi jika ia berhasil mendapat beberapa ikan.
Tapi di suatu hari yang biasa-biasa saja, Toba nampak kebingungan. Setelah meladang seharian, perutnya lapar. Ia pergi ke sungai seperti biasa untuk memancing ikan. Tapi anehnya, di hari itu, tak satupun ikan yang berhasil dia dapatkan. Sambil menunggu keajaiban, ia berangan, seandainya ia memiliki istri, pastilah ia tak perlu susah payah menunggu tangkapan ikan seperti ini. Toba membayangkan betapa senangnya jika ada seorang istri di rumahnya, yang menyambut ia pulang berladang dan menyiapkan hidangan untuk dinikmati bersama.
Lalu kail yang tadinya bergeming tiba-tiba bergoyang. Toba pun kaget. Ia buru-buru menarik pancingnya. Seekor ikan mas yang besar terangkut di kailnya. Wah! Toba belum pernah melihat ikan sebesar itu di sungai yang selama ini biasa ia datangi. Ia segera membawa ikan tersebut pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Toba kegirangan. Ia membayangkan betapa nikmatnya santapannya hari itu. Seekor ikan besar siap diolah menjadi makanan yang lezat.
Setibanya di rumah, Toba bergegas untuk siap-siap memasak. Ia menyimpan ikan tangkapannya baik-baik di dapur sementara dia mempersiapkan hal lainnya. Namun betapa terkejutnya Toba, ketika ia kembali ke dapur, ikannya sudah tidak ada. Lebih mengejutkan lagi ketika ada sosok seorang perempuan yang begitu menawan. Perempuan itu berterima kasih pada Toba. Masih terkejut, Toba berusaha bertanya siapa perempuan itu dan mengapa ia ada di rumahnya. Perempuan itu mengaku bahwa dirinya adalah seorang putri yang dikutuk dewa menjadi seekor ikan yang diselamatkan dari sungai oleh Toba.
Sang putri merasa berhutang budi pada Toba. Sebagai wujud rasa terima kasihnya, sang putri bersedia menjadi istri Toba. Namun ada satu syarat bagi Toba sebelum menjadikannya istri, yaitu merahasiakan asal-usul sang putri dari seekor ikan. Toba tidak keberatan. Lantas keduanya pun menjadi sepasang suami istri.
Waktu berjalan dan sepasang suami istri ini akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Samosir. Samosir menjadi kebanggaan sang ayah terutama sang ibu yang sangat mencintainya.
Namun berbeda dengan sang ayah yang amat rajin dan giat bekerja, Samosir tumbuh menjadi anak pembangkang. Tak jarang kedua orang tuanya dibuat pusing karena tingkah lakunya. Bukan cuma itu, konon nafsu makannya pun juga luar biasa besar. Bahkan sang ayah harus semakin giat berladang demi mencukupi kebutuhan makan anaknya yang luar biasa besar. Sayangnya, Samosir enggan membantu atau bahkan sekadar menemani ayahnya berladang.
Namun berbeda dengan sang ayah yang amat rajin dan giat Saking besarnya cinta Toba pada anaknya, ia sama sekali tak pernah mengeluh. Toba tetaplah seorang pekerja keras yang giat dan rajin. Setiap hari ia pergi ke ladang seharian demi membahagiakan keluarga kecilnya.
Suatu hari, Samosir diminta bantuan oleh ibunya. Di tengah hari yang terik, sang ibu meminta tolong pada Samosir untuk mengantar makan siang ayahnya ke ladang. Tentu saja Samosir tak langsung menurutinya. Sambil bersungut-sungut, ia terpaksa mengiyakan permintaan ibunya.
Sepanjang jalan ia tak berhenti mengeluh. Sambil bermalas-malasan dan berlama-lama di jalan, Samosir merasa kelaparan. Ia membayangkan terus masakan ibunya yang nikmat. Apalagi makanan yang ada di tangannya itu. Dari aromanya saja ia sudah bisa membayangkan kenikmatannya.
Bukannya lekas-lekas diantar ke ayahnya, Samosir malah bolak-balik mengintip bekal makan siang ayahnya. Sampai akhirnya ia tergoda untuk memakannya. Pikirnya, sedikit saja ia makan pasti ayahnya tidak tahu. Tapi rupanya mencicipinya satu kali tidaklah cukup.
Dengan tetap berlambat-lambat, ia kelaparan lagi di perjalanan. Samosir kembali memakan sebagian bekal makan siang sang ayah. Kejadian ini pun terjadi berkali-kali hingga ia tiba di ladang bertemu ayahnya.
Toba lekas-lekas berhenti dari kegiatannya di ladang. Buru-buru ia menghampiri anaknya yang membawa makan siang. Namun betapa terkejutnya Toba ketika membuka bungkusan makan siangnya. Bungkusan itu kosong dan tak nampak sesuap pun nasi untuk ia makan. Rasa lapar di tengah siang yang terik ditambah lelah setelah berladang dari pagi membuat Toba marah.
Ia menghardik Samosir dengan mempertanyakan kemana makanan untuknya. Samosir mengaku bahwa dirinya tak kuasa menahan lapar di jalan. Aroma masakan ibunya yang begitu nikmat membuat ia ingin memakannya. Tanpa rasa bersalah dari kata-kata dan raut wajahnya, Samosir membuat ayahnya semakin marah.
Kali ini, Toba benar-benar diamuk kecewa. Ia betul-betul emosi pada anaknya. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Ia menghardik Samosir sebagai anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung. Amarahnya membuat Toba kelewat melontarkan umpatan pada Samosir. “Dasar anak ikan!” begitu teriaknya pada Samosir. Samosir pun kaget. Toba makin memperjelas ucapannya bahwa Samosir memang anak dari perempuan yang dulunya seekor ikan. Rasa jengkel, kesal, dan luapan emosi Toba membuatnya tak sadar bahwa dia sudah mengingkari janjinya pada sang istri.
Mendapati kenyataan seperti itu dari ayahnya, Samosir buru-buru pulang. Diiringi tangis dan kesedihan ia cepat-cepat lari menuju rumahnya. Setibanya di rumah, ibunya pun kaget mendapati anaknya menangis. Samosir langsung memeluk sang ibu dan mengadukan perkataan ayahnya.
Betapa kaget dan sedihnya sang ibu melihat perasaan anaknya terluka oleh perkataan ayahnya sendiri. Ditambah perkataan Toba pada sang anak juga melukai hatinya sebagai istri. Toba telah mengingkari janjinya sebelum menjadikannya istri yakni mengungkap asal-usulnya dari seekor ikan. Dalam rasa marah, sedih, dan kecewa, ia pergi bersama sang anak dari rumah.
Toba yang menyadari ucapannya bergegas pulang dari ladang menuju rumahnya. Namun ia terlambat, sang istri dan anaknya sudah tidak ada di rumah. Saat itu, langit pun diliputi awan gelap. Gemuruh terdengar dari seluruh penjuru. Seakan alam ikut marah karena Toba mengingkari janjinya. Ia berlari tanpa arah. Ke sana-sini ia berusaha mencari istri dan anaknya.
Toba tak berhasil mendapati istri dan anaknya. Keduanya menghilang tanpa jejak. Sementara itu, sang putri yang pergi bersama Samosir, sang anak, sudah mengetahui akan terjadi bencana besar seketika itu juga. Dari langkah-langkah kakinya di tanah yang dipijak, perlahan-lahan keluar air terus-menerus. Sambil terus pergi menjauh, ia berusaha menyelamatkan sang anak. Ia menyuruh Samosir untuk pergi ke daratan paling tinggi di desa itu. Keduanya berpisah dalam rasa sedih yang teramat dalam.
Sang putri terus berlari tapi air terus keluar dari tanah yang iya pijak hingga akhirnya memenuhi seluruh penjuru desa. Air tak terbendung lagi. Dengan cepat seluruh desa tenggelam. Sang putri kembali menjadi ikan. Saking besarnya luapan air, daratan luas tersebut berubah menjadi danau. Danau itulah yang kini kita kenal sebagai Danau Toba. Dataran tinggi yang berhasil menjadi tempat Samosir menyelamatkan diri lantas menjadi Pulau Samosir.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat -sumatra-utara-asal-usul-danau-toba/)
15. Contoh Dongeng Sebelum Tidur Lucu
Si Kabayan Mencari Keong Sawah
Suatu pagi, seperti biasa, Kabayan masih saja tidur bermalas-malasan di rumah. Sementara itu, istrinya, Nyi Iteung, sudah sibuk di dapur menyiapkan makanan.
“Kabayan, bangun! Cari lauk buat makan!” kata Nyi Iteung kesal.
Kabayan menjawab sambil malas, “Nanti sebentar lagi… lagi enak mimpi.”
Karena kesal, Nyi Iteung akhirnya membangunkannya dengan paksa dan menyuruhnya mencari keong sawah (tutut). Dengan terpaksa, Kabayan pun pergi ke sawah sambil menggerutu.
Sesampainya di sawah, bukannya turun untuk mencari tutut, Kabayan malah duduk di pinggir pematang sambil mencoba “menangkap” keong dengan tongkat. Ia takut turun karena mengira sawah itu sangat dalam.
Tak lama kemudian, Nyi Iteung menyusul.
“Kamu lagi ngapain, Kabayan?”
“Ini lagi cari tutut.”
“Masa cari tutut dari atas? Turun ke sawah!”
Kabayan menjawab, “Nggak mau, nanti tenggelam. Dalam banget itu sawah!”
Mendengar jawaban itu, Nyi Iteung semakin kesal. Tanpa banyak bicara, ia langsung mendorong Kabayan ke sawah.
“Eh! Ternyata dangkal!” teriak Kabayan kaget saat jatuh.
Akhirnya, Kabayan sadar bahwa ketakutannya tidak beralasan. Ia pun bisa dengan mudah mencari tutut di sawah tersebut.
(Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/3567/1/Si%20kabayan.pdf)
16. Contoh Dongeng Princess Sleeping Beauty
Sleeping Beauty
Alkisah, di sebuah kerajaan, seorang Raja dan Ratu akhirnya dikaruniai seorang putri cantik setelah bertahun-tahun menunggu. Mereka mengadakan pesta besar dan mengundang tujuh peri baik untuk memberikan anugerah kepada sang putri. Namun, suasana ceria itu berubah mencekam ketika seorang peri tua yang jahat tiba-tiba muncul tanpa diundang.
Peri jahat itu merasa terhina karena tidak diundang ke istana. Dengan suara menggelegar, ia menunjuk ke arah bayi itu dan mengutuknya, “Saat putri ini berusia enam belas tahun, jarinya akan tertusuk jarum pemintal benang dan ia akan mati!” Seluruh tamu di istana pun gemetar ketakutan mendengar kutukan mengerikan tersebut.
Untungnya, peri ketujuh yang belum memberikan anugerahnya segera maju untuk memperingan kutukan itu. “Sang Putri tidak akan mati,” ucapnya dengan lembut. “Namun, ia akan jatuh tertidur lelap selama seratus tahun, dan hanya bisa dibangunkan oleh ciuman dari seorang pangeran yang tulus mencintainya.”
Raja yang sangat khawatir segera memerintahkan agar seluruh alat pemintal benang di kerajaannya dihancurkan dan dibakar. Ia melarang siapa pun memiliki alat tersebut agar putrinya tetap aman. Waktu berlalu, sang putri yang diberi nama Aurora tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, baik hati, dan dicintai oleh semua orang.
Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-16, Aurora menjelajahi sudut-sudut kastil yang belum pernah ia kunjungi. Ia menemukan sebuah tangga kecil yang menuju ke menara tertinggi. Di sana, ia melihat seorang wanita tua yang sedang memintal benang. Karena belum pernah melihat alat itu sebelumnya, Aurora merasa sangat penasaran.
“Nenek, benda apa yang sedang kau putar itu?” tanya Aurora dengan polos. Wanita tua yang sebenarnya adalah penyamaran peri jahat itu menjawab, “Mari mendekatlah, Manis, cobalah kau sentuh sendiri.” Saat Aurora menyentuhkan jarinya ke jarum pemintal, ia pun langsung jatuh pingsan ke lantai sesuai dengan kutukan yang telah diucapkan.
Seluruh penghuni istana pun seketika jatuh tertidur di posisi mereka masing-masing. Raja, Ratu, para pengawal, hingga hewan peliharaan pun terlelap dalam tidur yang ajaib. Tak lama kemudian, semak berduri yang sangat tebal tumbuh mengelilingi kastil tersebut, melindunginya dari dunia luar dan menyembunyikannya dari pandangan manusia.
Seratus tahun berlalu, kabar tentang kastil yang tersembunyi di balik duri itu sampai ke telinga seorang pangeran yang gagah berani. Banyak orang yang mencoba menembusnya namun gagal, tetapi pangeran ini tidak menyerah. “Aku harus melihat sendiri kebenaran tentang putri cantik yang tertidur di sana,” tekad sang Pangeran sambil menebas semak berduri.
Setelah perjuangan keras, ia berhasil masuk ke dalam istana yang sunyi dan menemukan Putri Aurora di menara. Pangeran terpesona oleh kecantikannya yang tidak memudar meski waktu telah lama berlalu. Ia kemudian berlutut dan mencium kening sang putri dengan lembut sebagai tanda kekaguman dan cinta yang tulus.
Seketika, mata Aurora terbuka dan ia tersenyum melihat pangeran di hadapannya. Kutukan itu pun hancur, dan seluruh istana terbangun dari tidur panjang mereka. Tak lama kemudian, diadakanlah pesta pernikahan yang sangat meriah. Pangeran dan Putri Aurora pun hidup bahagia selamanya, membuktikan bahwa cinta sejati mampu mengalahkan sihir tergelap sekalipun.
(Sumber: https://www.appletreebsd.com/5-dongeng-princess-sebelum-tidur-yang- menenangkan-dan-penuh-makna/)
17. Contoh Dongeng Sebelum Tidur Romantis
Princess Cinderella
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia.
Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderela”. Cinderella artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu !” kata mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. “Asyik! kita akan pergi dan berdandan secantik cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka.Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderella mulai berdandan dengan gembira. Cinderella sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. “Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju seperti itu?”, kata kakak Cinderella.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderella kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras kerasnya karena hatinya sangat kesal. “Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi..” Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderella, berhentilah menangis.” Ketika Cinderella berbalik, ia melihat seorang peri.
Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderella bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. “Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Terakhir, Cinderella berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.
Karena gembiranya, Cinderella mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata, “Cinderella, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. “Ya Nek. Terimakasih,” jawab Cinderella. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderella menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderella.
Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderella. “Cantiknya putri itu! Putri dari negara mana ya ?” tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderella. “Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya. “Ya!,” kata Cinderella sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan.
Ibu dan kedua kakak Cinderella yang berada di situ tidak menyangka kalau putri yang cantik itu adalah Cinderella.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderella. “Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderella lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. “Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderella menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari keluar Istana.
Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderella tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderella, tetapi ia kehilangan jejak Cinderella. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. “Aku akan mencarimu,” katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderella kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela.
“Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini,” kata para pengawal. Kedua kakak Cinderella mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderella . “Hai kamu, cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderella menjadi marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”.
Kemudian Cinderella menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. “Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderella, selamat..,” Cinderella menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderella berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. “Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderella diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderella menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.
(Sumber: https://www.appletreebsd.com/5-dongeng-princess-sebelum- tidur-yang-menenangkan-dan-penuh-makna/)
18. Contoh Dongeng Fantasi Berjudul Bawang Merah dan Bawang Putih
Bawang Merah dan Bawang Putih
Pada zaman dahulu, hiduplah dua saudari tiri bernama Bawang Merah dan Bawang Putih. Sejak kecil, Bawang Putih sudah kehilangan ibunya.
Bawang Putih dikenal sebagai gadis yang baik, rajin, dan sabar, sedangkan Bawang Merah memiliki sifat malas, iri, dan suka memanfaatkan orang lain.
Sejak ayah mereka meninggal, Bawang Putih hidup menderita karena diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan Bawang Merah. Ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara saudara tirinya hanya bersantai. Meski begitu, Bawang Putih tetap sabar dan tidak pernah mengeluh.
Suatu hari, saat mencuci pakaian di sungai, salah satu baju hanyut. Karena takut dimarahi, Bawang Putih mencari baju tersebut hingga bertemu seorang nenek. Nenek itu bersedia membantu dengan syarat Bawang Putih mau menolong pekerjaannya. Dengan tulus, Bawang Putih membantu tanpa pamrih.
Sebagai balasan, ia diberi pilihan hadiah. Bawang Putih memilih hadiah yang kecil karena tidak serakah. Namun, ketika dibuka di rumah, hadiah tersebut ternyata berisi emas dan perhiasan. Melihat itu, ibu tiri dan Bawang Merah menjadi iri dan ingin mendapatkan hal yang sama.
Bawang Merah kemudian meniru langkah Bawang Putih, tetapi dengan sikap yang sombong dan malas. Ia tidak mau membantu nenek tersebut dan justru meminta hadiah terbesar. Namun, saat dibuka, hadiah itu berisi hal-hal mengerikan yang membawa kesialan bagi mereka.
(Sumber: https://www.appletreebsd.com/5-dongeng-sebelum-tidur-terbaik- untuk-anak-indonesia/)
19. Contoh Dongeng Nusantara yang Melegenda
Legenda Candi Prambanan: Roro Jonggrang
Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan besar bernama Pengging. Sang raja memiliki seorang putra bernama Bandung Bondowoso yang terkenal sangat sakti dan memiliki pasukan tentara dari bangsa jin. Suatu hari, ia berhasil menaklukkan Kerajaan Baka dan membunuh rajanya, Prabu Baka, dalam sebuah peperangan yang sengit.
Di tengah reruntuhan Kerajaan Baka, Bandung Bondowoso melihat putri Prabu Baka yang bernama Roro Jonggrang. Terpikat oleh kecantikannya yang luar biasa, Bandung berniat menjadikannya permaisuri. “Wahai Roro Jonggrang, jadilah istriku. Aku akan memberikanmu segala kemewahan di kerajaan ini,” rayunya dengan penuh ambisi.
Roro Jonggrang merasa bimbang. Ia membenci Bandung karena telah membunuh ayahnya, namun ia juga takut menolak keinginan pria sakti itu. Akhirnya, ia mengajukan syarat yang mustahil. “Aku mau menikah denganmu, asalkan kau bisa membangunkan seribu candi dalam waktu hanya satu malam sebelum matahari terbit.”
Bandung Bondowoso yang sombong langsung menyetujui syarat tersebut. Pada malam yang ditentukan, ia memanggil ribuan pasukan jin dari dalam bumi. Suasana menjadi gelap dan mencekam saat para jin mulai bekerja dengan kecepatan luar biasa, menyusun batu-batu besar menjadi candi-candi yang megah.
Menjelang tengah malam, Roro Jonggrang melihat pekerjaan itu hampir selesai. Ia mulai panik karena jumlah candi sudah mencapai 999 buah. “Jika aku tidak bertindak, aku akan terjebak dalam pernikahan ini selamanya,” batinnya gelisah. Ia segera membangunkan para dayang dan seluruh wanita di desa tersebut.
Roro Jonggrang memerintahkan mereka untuk memukul alu (alat penumbuk padi) pada lesung dan membakar tumpukan jerami di sisi timur. Cahaya kemerahan dari api jerami serta suara riuh lesung menciptakan suasana seolah-olah pagi telah tiba. Ayam-ayam jantan pun terbangun dan mulai berkokok dengan nyaring.
Mendengar suara kokok ayam dan melihat cahaya di ufuk timur, pasukan jin ketakutan. Mereka mengira fajar telah menyingsing dan matahari akan segera muncul. “Cepat lari! Matahari sudah terbit, kita akan terbakar!” teriak para jin sambil berlarian masuk kembali ke dalam bumi, meninggalkan pekerjaan mereka.
Bandung Bondowoso terkejut melihat pasukannya menghilang. Ia mencoba menghitung candi yang sudah berdiri, namun ternyata jumlahnya hanya 999 buah. Ia gagal memenuhi syarat karena kurang satu candi saja. Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa fajar itu hanyalah tipu muslihat dari Roro Jonggrang.
Amarah Bandung meledak saat mengetahui dirinya dicurangi. Ia menghampiri Roro Jonggrang dengan mata yang merah membara. “Kau telah menipuku, Jonggrang! Karena kau sangat licik, maka kaulah yang akan menggenapi candi yang keseribu!” teriaknya sambil mengarahkan tangannya yang sakti ke arah sang putri.
Seketika, tubuh Roro Jonggrang membatu. Ia berubah menjadi sebuah patung batu yang sangat cantik untuk melengkapi candi terakhir. Hingga saat ini, patung tersebut dipercayai berada di dalam Candi Prambanan sebagai Candi Roro Jonggrang, mengingatkan kita bahwa niat buruk dan tipu daya hanya akan berujung pada duka.
(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat- jawa-tengah-roro-jonggrang-dan-candi-prambanan/)
20. Contoh Dongeng Pengantar Tidur
Kura-Kura dan Kelinci
Pada suatu hari, hiduplah seekor kelinci yang tinggal di dalam hutan. si Kelinci terkenal sebagai hewat yang bisa berlari dengan cepat dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya di hutan.
Suatu ketika, Kelinci yang merasa kemampuannya semakin hebat dalam balap lari, mengajak Kura-Kura untuk bertanding. Kura-Kura yang rendah hati pun menyambut dengan antusias ajakan dari Kelinci. Akhirnya keduanya mempersiapkan balap lari tersebut dan ditemani oleh hewan-hewan lainnya yang ada di hutan.
Kelinci yang merasa lebih hebat berhasil lari lebih kencang dibandingkan dengan Kura-Kura yang pergerakannya amat lambat. Meski berjalan dengan pelan, namun Kura-Kura masih tetap bersemangat untuk mengikuti balap lari ini.
Ketika mendekati garis finish, Kelinci memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kelinci yakin kalau Kura-Kura tidak akan bisa menyusulnya.
“Ah dia kan jalannya saja lambat,” ujar si Kelinci.
Tanpa sadar, Kelinci malah tertidur di bawah pohon rindang tersebut. Kelinci tidak menyadari saat dia tertidur, Kura-Kura sudah berhasil melewatinya dan sekarang posisi Kura-Kura lebih dekat dari garis finish. Kelinci sudah berusaha untuk berlari dengan cepat, tapi dia tetap tidak bisa menyusul Kura-Kura yang tiba tepat waktu di garis finish.
Cerita ini mengajarkan bahwa kesabaran dan ketekunan sering kali lebih penting daripada kecepatan atau kemampuan alami. Meskipun Kelinci lebih cepat, ia kalah karena terlalu percaya diri dan tidak tekun. Kura-Kura, dengan langkah lambatnya namun pasti, membuktikan bahwa dengan konsistensi dan usaha kita bisa mencapai tujuan kita, meskipun tampaknya kita tidak punya keunggulan.
(Sumber: https://www.appletreebsd.com/5-dongeng-sebelum-tidur-terbaik- untuk-anak-indonesia/)
—
Nah, itulah pembahasan mengenai cerita dongeng pendek dan pesan moralnya. Ada dongeng bahasa sunda juga, lho! Gimana dari sekian banyak dongeng di atas, ada nggak yang jadi favorit kamu?
Kalau mau belajar lebih banyak lagi, yuk, join di Brain Academy! Di sana kamu bisa belajar bersama Master Teacher yang berpengalaman dan pastinya asyik diajak diskusi. Bisa coba kelas gratis secara online atau datang langsung ke cabang terdekat dari rumahmu ya!
Referensi:
Gramedia. 5 Contoh Cerita Dongeng Pendek dengan Pesan Moralnya [Daring]. Tautan: https://www.gramedia.com/literasi/5-contoh-cerita-dongeng-pendek-dengan-pesanmoralnya. Diakses 1 April 2026
Raden Putri. 4 Maret 2026. 15 Cerita Dongeng Anak Pendek Penuh Pesan Moral Terbaik [Daring]. Tautan: https://blog.tempoinstitute.com/berita/cerita-dongeng. Diakses 1 April 2026


