Pengertian Fabel dan Legenda Beserta Ciri & Contohnya

BA Pojok Sekolah - Fabel dan Legenda_Header

Yuk, belajar tentang fabel dan legenda, mulai dari pengertian, ciri-ciri, hingga contohnya masing-masing. Simak pembahasan berikut, ya!

Siapa yang suka baca cerita fiksi, cuungg! Cerita fiksi apa nih, yang lagi kamu baca sekarang? Kalau aku, sekarang lagi baca novel fiksi berjudul “The Midnight Library” karya Matt Haig. Ceritanya tentang sebuah perpustakaan berisi berbagai buku yang memungkinkan tokoh utamanya, Nora Seed, untuk menjalani kehidupannya dengan cara yang berbeda-beda. Jadi, Nora bisa undo every decision she regrets dan menjalani the should’ve been(s) in her life seandainya ia membuat keputusan yang berbeda ketika menjalani hidup. Seru kali, ya, kalau beneran ada perpustakaan seperti itu?

Nah, tahu nggak sih, ternyata cerita fiksi itu terdiri atas beberapa macam, lho! Di antaranya yang telah ada sejak dahulu kala yaitu cerita fabel dan legenda. Tapi, cerita “The Midnight Library” tadi bukan termasuk fabel atau legenda, ya! Cerita ini tergolong fiksi modern karena berkisah tentang kehidupan masa kini dengan tokoh manusia.

Nah, kalau fabel dan legenda, ceritanya berbeda nih, dengan cerita fiksi pada umumnya. Fabel berkisah tentang kehidupan hewan yang bersifat dan berperilaku layaknya manusia. Sedangkan legenda berkisah tentang kehidupan manusia yang hidup pada zaman dahulu kala dan memiliki kekuatan gaib tertentu atau berkaitan dengan peristiwa magis tertentu yang dianggap nyata dan benar-benar pernah terjadi. Hmm, menarik juga ya! Yuk, kita bahas lebih jauh mengenai fabel dan legenda!

 

Pengertian Fabel 

Fabel berasal dari bahasa Latin, yaitu “Fabula” yang artinya cerita. Fabel adalah cerita fiksi dengan tokoh berupa hewan yang berperilaku dan berwatak selayaknya manusia, seperti dapat berbicara, berpikir, hingga berpakaian. Fabel umumnya mengandung berbagai pesan moral yang dapat dipetik oleh pembaca dan dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

fabel tiga babi kecil

Fabel Tiga Babi Kecil (Sumber: freepik.com)

Fabel mulai berkembang pada abad pertengahan dan telah digunakan sejak saat itu sebagai salah satu sarana untuk mengajarkan berbagai nilai moral kepada manusia, utamanya anak-anak. Salah satu koleksi fabel dibuat pada akhir abad ke-12 oleh Marine de France. Contoh fabel lainnya yang terkenal yaitu cerita “Tiga Babi Kecil” atau dalam bahasa Inggris berjudul “The Three Little Pigs” yang dibuat pada akhir abad ke-18, tetapi diduga berusia lebih tua dari itu. Saat ini pun, cerita fabel juga terus berkembang menjadi berbagai macam bentuk, seperti buku cerita, series, dan film kartun.

Baca juga: Suka Baca Novel? Kenali Ciri, Struktur, Unsur & Kaidah Kebahasaannya

 

Ciri-Ciri Fabel

Fabel memiliki 6 ciri yang membedakan dengan karya fiksi lainnya, yaitu:

  • Tokoh dalam cerita berupa binatang yang berperilaku dan berwatak seperti manusia.
  • Cerita fabel menunjukkan kejadian sebab-akibat.
  • Alur cerita fabel umumnya lebih sederhana namun sarat akan pesan moral.
  • Konflik dalam cerita umumnya diambil dari kehidupan manusia sehari-hari.
  • Menggunakan latar tempat di alam, seperti di hutan, sungai, kebun, kolam, sawah, dan lain-lain.
  • Biasanya berbentuk teks narasi dengan adanya dialog antar tokoh berupa kalimat langsung. Dialog antar tokoh menggunakan bahasa tidak baku atau bahasa sehari-hari.

 

ciri-ciri-fabel

 

Contoh Fabel

Berikut adalah beberapa contoh cerita fabel dengan berbagai pesan moral yang bisa kamu petik:

 

1. Contoh Fabel tentang Semut dan Merpati

Persahabatan Semut dan Merpati

Suatu hari, seekor merpati melihat ada seekor semut yang terjatuh ke sungai. Semut itu berjuang sangat keras untuk berenang supaya tidak tenggelam. Melihat hal itu, Merpati tak hanya diam saja. Ia segera memetik sehelai daun di atas pohon dan dijatuhkannya ke atas sungai dekat dengan posisi semut yang hampir tenggelam.

“Semut, cepat berenang dan naiklah ke atas daun ini!” teriak Merpati.

Semut lantas berenang menuju daun dan naik di atasnya. Semut akhirnya selamat dan tidak tenggelam di sungai.

“Terima kasih, Merpati! Kau telah menyelamatkan nyawaku!” ujar Semut.

“Sama-sama, Semut!” ujar Merpati.

Sejak saat itu, Semut dan Merpati pun menjadi sahabat.

Beberapa hari berikutnya, Semut yang sedang berjalan melihat sahabatnya, Si Merpati, sedang terbang dan hinggap di atas ranting pohon. Tiba-tiba, datang seorang pemburu yang langsung mengarahkan senapannya kepada Merpati. Semut yang ingin menyelamatkan Merpati, langsung menggigit kaki Si Pemburu. Pemburu tersebut kesakitan dan senapannya pun menembak melesat jauh dari Merpati. Merpati yang terkejut langsung terbang dan melihat sahabatnya Semut yang sedang menggigit kaki Pemburu. Merpati pun selamat dari bidikan pemburu.

Kemudian, Merpati berucap, “Terima kasih ya, Semut! Kau telah menyelamatkan nyawaku!”

Semut pun menjawab, “Terima kasih kembali, Merpati!”

Pesan Moral: Berbuat baiklah kepada sesama dan biasakan sikap tolong-menolong antar sesama. Perbuatan yang baik pasti akan mendapat balasan yang baik pula.

Baca juga: Memahami Cerpen dari Struktur sampai Ciri-cirinya

 

2. Contoh Fabel tentang Kelinci dan Kura-Kura

Lomba Lari Kelinci dan Kura-Kura

Dahulu kala, hiduplah seekor kelinci. Kelinci bisa berlari dengan sangat cepat. Ia bangga dengan keahliannya itu. Suatu hari, Kelinci melihat Kura-Kura yang berjalan sangat lambat. Melihat betapa lambatnya Kura-Kura berjalan, Kelinci pun menertawakan Kura-Kura dan berkata, “Kamu berjalan sangat lambat ya, Kura-Kura! Hahaha..”

Mendengar hal itu, Kura-Kura pun menimpali, “Rupanya kamu sangat bangga dengan kecepatanmu, ya, Kelinci. Bagaimana kalau kita berlomba dan kita lihat siapa yang sebenarnya bisa lari lebih cepat?”

“Lomba lari? Denganmu? Tentu saja aku yang akan menang!” ujar Kelinci dengan sombongnya.

Keesokan harinya, Kelinci dan Kura-Kura pun berlomba. Seluruh hewan di hutan turut berkumpul untuk menonton perlombaan itu.

Perlombaan pun dimulai. Seperti dugaan, Kelinci langsung berlari sangat cepat, meninggalkan Kura-Kura yang berjalan lambat di belakang. Meskipun tertinggal jauh, Kura-Kura tetap berusaha untuk berlari.

Setelah beberapa saat, Kelinci berbalik untuk melihat di mana Kura-Kura berada. Ternyata, Kura-Kura berjalan sangat lambat dan berada jauh di belakangnya.

“Kura-Kura akan butuh waktu sangat lama untuk mendekatiku,” pikir Kelinci. Kelinci pun memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon. Teduhnya pohon yang rindang membuat Kelinci jadi mengantuk. Akhirnya, Kelinci pun tertidur di bawah pohon tersebut.

Beberapa saat kemudian, Kura-Kura berhasil sampai di titik di mana Kelinci tertidur pulas di bawah pohon. Melihat Kelinci yang tertidur pulas, Kura-Kura berusaha berlari tanpa menimbulkan suara agar Kelinci tidak terbangun. Perlahan tapi pasti, Kura-Kura pun berhasil melewati Kelinci yang tetap tertidur pulas.

Saat Kelinci akhirnya terbangun, ia kaget melihat Kura-Kura sudah sangat dekat dengan garis finish. Kelinci pun segera bangkit dan berlari dengan kencang.

Namun, usaha Kelinci ternyata sia-sia. Kura-Kura yang sudah lebih dekat dengan garis finish akhirnya berhasil memenangkan perlombaan. Kelinci sangat kecewa. Seluruh hewan di hutan pun mengakui bahwa pemenang lomba lari tersebut adalah Kura-Kura yang tetap berusaha dengan gigih sampai garis akhir.

Pesan Moral: Kita tidak boleh sombong dan meremehkan orang lain hanya karena kita memiliki kemampuan yang lebih baik dari mereka karena pada akhirnya, usaha keras dan kegigihan lah yang mampu membawa kita menuju kesuksesan.

 

3. Contoh Fabel tentang Rubah dan Gagak

Rubah dan Gagak

Suatu hari, di dalam hutan, ada seekor rubah yang melihat seekor gagak sedang terbang dengan sepotong daging di paruhnya. Sang Gagak lantas bertengger di dahan pohon. Rubah yang sejak pagi belum makan, ingin sekali mendapatkan daging tersebut. Ia pun berjalan hingga ke bawah pohon yang dihinggapi Gagak tadi.

“Selamat siang, Nyonya Gagak yang cantik,” serunya. “Betapa mempesonanya penampilanmu hari ini. Matamu tampak cerah, paruhmu bersih dan bulumu berkilau.”

Mendengar pujian itu, Gagak menoleh ke bawah. Senang sekali ia mendapati Rubah sedang mengaguminya di sana. Melihat reaksi Gagak, Rubah melanjutkan rencananya. Ia memuji Gagak lebih jauh lagi.

“Melihat penampilanmu yang luar biasa, aku yakin suaramu pasti melebihi suara burung lain di hutan ini. Biarkanlah aku mendengar satu lagu darimu, Nyonya Gagak. Tentu akan terdengar sangat merdu!” ujar Rubah.

Merasa tersanjung, Gagak mengangkat kepalanya dan bersiap membuka suara. Ia lupa, ada daging di paruhnya. Potongan daging yang jatuh ke tanah segera diambil oleh rubah, sementara Gagak terus saja bernyanyi.

Ketika ia selesai bernyanyi dan Rubah sudah jauh pergi, Gagak baru menyadari apa yang telah terjadi. Ia menyesal, sudah lengah hanya karena dipuji.

Pesan Moral: Kita perlu untuk bersikap waspada dan tidak lengah, karena bisa saja ada pihak yang ingin mengambil keuntungan atau mencelakai diri kita.

Nah, sekarang kita lanjut yuk, ke pembahasan tentang legenda. Let’s gooo~

[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online

 

Pengertian Legenda

Legenda berasal dari bahasa Latin, yaitu “Legere” yang artinya cerita rakyat. Legenda adalah cerita rakyat yang ada dalam kehidupan masyarakat dan umumnya dikaitkan dengan suatu peristiwa sejarah tertentu. Peristiwa dalam cerita rakyat tersebut bisa melahirkan asal usul suatu tempat, nama daerah, atau hal-hal yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sekitar.

Legenda Malin Kundang

Legenda Malin Kundang (Sumber: katadata.com)

Legenda biasanya menceritakan tentang tokoh, peristiwa, atau tempat tertentu yang berisi campuran antara fakta historis (sejarah) dengan mitos. Hal inilah yang membuat cerita legenda sering dianggap “sejarah” kolektif dan dipercayai memang menceritakan peristiwa nyata yang benar-benar pernah terjadi pada zaman dahulu.

Baca juga: Mengenali Jenis Teks Sejarah dari Ciri, Struktur, dan Contohnya

 

Ciri-Ciri Legenda

Legenda memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut:

  • Tokoh dalam cerita memiliki kesaktian tertentu
  • Terdapat unsur keajaiban dalam cerita
  • Dihubungkan dengan hal-hal gaib
  • Terdapat unsur sejarah dan ceritanya dianggap nyata atau benar-benar terjadi
  • Memiliki amanat atau pesan moral yang dapat dipelajari

 

ciri-ciri-legenda

 

Contoh Legenda

Kira-kira apa nih, contoh cerita legenda yang pernah kamu baca sebelumnya? Atau kamu sudah lupa legenda apa yang pernah kamu baca? Kalau lupa, yuk baca beberapa contoh legenda berikut ini!

 

1. Contoh Legenda Malin Kundang yang Berasal dari Padang, Sumatera Barat

Legenda Malin Kundang

Dahulu kala, di Padang Sumatera Barat, tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis, ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya. Karena sejak kecil, Malin Kundang sudah ditinggal pergi oleh ayahnya.

Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nelayan. Ibunya sudah tua. Dia hanya bekerja sebagai penjual kue. Ketika sudah dewasa, Malin berpamit kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu, memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis. Meski dengan berat hati, akhirnya Mande Rubayah mengijinkan anaknya pergi.

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore, Mande Rubayah memandang ke laut. Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. la menengadahkan kedua tangannya ke atas sembari berdoa agar anaknya selamat dalam pelayaran.

Jika ada kapal yang datang merapat, ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi, semua awak kapal atau nakhoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan, ia sudah mulai terbungkuk-bungkuk.

“Ibu sudah tua Malin, kapan kamu pulang…”, rintih Mande Rubayah setiap malam.

Hingga berbulan-bulan, Malin belum juga datang menjenguknya. Namun, ia yakin bahwa pada suatu saat, Malin pasti akan kembali.

Harapannya terkabul. Pada suatu hari, dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat-tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda-mudi berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya, si Malin Kundang. Belum lagi tetua desa sempat menyambut, ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluk Malin erat-erat. Seolah takut kehilangan anaknya lagi.

“Malin, anakku! Mengapa begitu lamanya engkau tidak memberi kabar?”, katanya menahan isak tangis karena gembira.

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang-camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya ke mana saja.

Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”

Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perlakuan anaknya. Ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!”

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. la malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, Perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”

Wanita tua itu terkapar di pasir. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Di laut, dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu, “Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, ya Tuhan…!”

Tidak lama kemudian, cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Badai itu pun disusul sambaran petir yang menggelegar.

Seketika, kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian, terhempas ombak hingga ke pantai. Ketika matahari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit, terlihat kepingan kapai yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang.

Tak jauh dari tempat itu, nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon, itulah tubuh Malin kundang, si anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Di sela-sela batu itu, berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Baca juga: Apa sih Hikayat Itu? Yuk Kenali Karakteristik, Jenis & Contohnya

 

2. Contoh Legenda Lutung Kasarung yang Berasal dari Kebumen, Jawa Tengah

Legenda Lutung Kasarung dan Purbasari

Cerita lutung kasarung bisa ditemui di daerah Pasundan. Di daerah tersebut, tinggal seorang raja yang sangat bijaksana bernama Prabu Tapa Agung. Raja ini mempunyai dua orang anak yang bernama Purbasari dan Purbararang.

Di akhir hidup sang ayah, ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa ia ingin turun tahta. Ia meminta Purbasari agar menggantikan kedudukannya sebagai seorang pemimpin di kerajaannya. Kakaknya merasa tidak terima mendengar pesan tersebut karena ia merasa lebih pantas menggantikan ayahnya. Purbararang akhirnya ingin mencelakai adiknya dengan menemui seorang nenek sihir.

Akibat dari nenek sihir itu, kulit adiknya kini penuh dengan totol-totol berwarna hitam. Keadaan tersebut ia pakai untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Di sana, Purbasari mempunyai teman, yaitu hewan-hewan, sehingga ia tidak merasa kesepian.

Salah satu hewan yang menemaninya adalah seekor kera. Kera itu selalu membawakan buah serta bunga untuk menghiburnya. Pada suatu malam, sang kera bersemedi. Kemudian, secara tiba-tiba, muncul air yang membentuk sebuah telaga. Air itu sangat jernih dan wangi.

Lalu, Purbasari diminta mandi di telaga tersebut oleh sang kera. Tubuhnya seketika berubah menjadi seorang putri yang cantik seperti semula.

Pada suatu ketika, Purbararang menjenguk Purbasari. Melihat adiknya sudah kembali cantik, membuatnya terkejut. Ia kemudian meminta untuk adu panjang rambut kepada sang adik. Hasilnya, rambut Purbasari ternyata lebih panjang. Purbararang juga meminta Purbasari agar mau adu tampan pasangan dengan tunangannya. Purbasari kala itu menggandeng seekor kera yang sudah menemaninya hidup di hutan selama ini.

Keajaiban terjadi pada kera yang tiba-tiba berubah menjadi seorang laki-laki yang sangat tampan. Bahkan, ia lebih tampan dibandingkan dengan tunangan Purbararang. Hal ini membuat adu tampan tunangan dimenangkan oleh Purbasari.

Kemudian, Purbararang meminta maaf kepada Purbasari dan mengakui kesalahannya. Setelah itu, Purbasari akhirnya menjadi seorang pemimpin kerajaan, warisan dari ayahnya yang bijaksana bersama lutung tersebut. Kakaknya juga sudah dimaafkan oleh Purbasari. Ia tidak berniat untuk memberikan hukuman kepada kakaknya tersebut.

Bahkan, kata balas dendam pada sang kakak tidak terbesit sedikit pun. Purbasari akhirnya sudah hidup dengan bahagia bersama dengan sang kekasih hatinya.

 

3. Contoh Legenda Danau Toba yang Berasal dari Sumatera Utara

Legenda Danau Toba

Pada zaman dahulu, ada seorang petani bernama Toba. Dia tinggal menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Toba bekerja di sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya. Selain mengerjakan ladangnya, Toba juga suka pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya.

Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya. Karena di sungai yang jernih itu, memang banyak sekali ikan. lkan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang, Toba langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tidak lama, tiba-tiba pancingnya disambar ikan, dan langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hati Toba menjadi gembira karena tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya, pasti ikan yang besar.

Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ikan itu ke sana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya, tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar.

Dengan cepat, ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira, mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Toba tersenyum sambil membayangkan, betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau dipanggang. Dia pun langsung meninggalkan sungai dan pulang ke rumah karena hari juga sudah mulai senja.

Setibanya di rumah, Toba langsung membawa ikan besar hasil pancingannya ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar, dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Pada saat Toba tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu diletakkan, tampak terhampar beberapa keping uang emas. Toba segera membawa keping uang emas ke dalam kamar.

Ketika Toba membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap. Di dalam kamar itu, berdiri seorang perempuan cantik dengan rambut panjang terurai. Toba menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah Toba menyalakan lampu, perempuan itu bercerita bahwa dia adalah penjelmaan ikan besar yang tadi didapat Toba ketika memancing di sungai. Kemudian, dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya.

Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, Toba pun melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan itu bersedia menerima lamarannya dengan syarat, Toba harus bersumpah seumur hidup agar dia tidak pernah mengungkit asal usul istrinya yang merupakan jelmaan seekor ikan. Toba pun kemudian bersumpah.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Samosir sangat dimanjakan ibunya, sehingga mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.

Setelah cukup besar, Samosir disuruh ibunya mengantar nasi untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia tolak, sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, Samosir disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak, tapi karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nasi itu.

Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk-pauknya dia makan. Setibanya di ladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit, dia berikan kepada ayahnya. Toba sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan.

Toba sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya bersisa sedikit. Amarahnya semakin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar nasi itu.

Kesabaran Toba hilang, dia memukuli anaknya sambil mengatakan, “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Dasar keturunan perempuan ikan!”

Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Dia mengadu kalau dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan ayahnya, dia ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali. Terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.

Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka, dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Saat si ibu melihat Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka. Ketika dia tiba di tepi sungai itu, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar.

Sesaat kemudian, si ibu melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenangiah lembah tempat sungai itu mengalir.

Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Danau itulah yang kemudian hari dinamakan orang sebagai Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

 

Perbedaan Fabel dan Legenda

Walaupun sering disandingkan, fabel dan legenda adalah dua jenis cerita yang berbeda. Apa sih bedanya? Cerita fabel di dalamnya menggunakan karakter binatang, namun memiliki sifat dan tindakan seperti manusia. Umumnya, karakter di cerita fabel bisa berbicara dan berperilaku seperti manusia.

Di sisi lain, cerita legenda menggunakan tokoh-tokoh sejarah atau mitologis. Kadang, karakter pada cerita legenda memiliki kemampuan yang di luar akal sehat, sehingga sering dianggap sebagai pahlawan atau orang penting di masyarakat.

Itu dia pembahasan mengenai fabel dan legenda, meliputi pengertian, ciri-ciri, dan contohnya masing-masing. Gimana? Kamu jadi tertarik baca fabel dulu atau legenda dulu, nih? Atau malah pengen baca fiksi modern seperti novel “The Midnight Library”?

Kalau mau belajar lebih banyak lagi, yuk, join di Brain Academy! Di sana kamu bisa belajar bersama Master Teacher yang berpengalaman dan pastinya asyik diajak diskusi. Bisa coba kelas gratis secara online atau datang langsung ke cabang terdekat dari rumahmu!

[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online

Sumber Gambar:

Fabel Tiga Babi Kecil [Daring]. Tautan: https://www.poskata.com/wp-content/uploads/2020/10/000183-00_dongeng-babi-dan-serigala_tiga-anak-babi-dan-serigala_800x450_ccpdm-min.jpg

Legenda Malin Kundang [Daring]. Tautan: https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2020/04/07/malin-kundang-3-5e8bf0bed541df7d57264872.jpg

(Diakses 24 Februari 2023) 

Kenya Swawikanti