Perbedaan Garam Himalaya dengan Garam Dapur: Serupa Tapi Tak Sama

Kak Ali MT Soshum Sep 21, 2021 • 6 min read


Perbedaan Garam Himalaya dengan Garam Dapur

Selain warnanya, apasih yang membedakan garam Himalaya dengan garam dapur? Yuk, baca artikelnya sampai selesai, ya!

--

Kamu pasti pernah denger kan Himalayan Salt? Yap, garam Himalaya memiliki ciri khas tersendiri yang bikin banyak orang jatuh hati. Berbeda dengan garam yang biasa kamu pake masak di dapur, garam Himalaya memiliki warna pink yang sekilas mirip dengan buah persik. 

Garam Himalaya cukup memiliki pamor di dapur banyak orang, loh, khususnya para elit yang mengklaim bahwa garam ini lebih baik dan sehat dibandingkan garam pada umumnya. Tapi kamu tahu nggak, sih? Bahkan garam Himalaya itu bukan garam beneran yang biasanya berasal dari laut, loh! Yuk, simak pembahasan kali ini mengenai perbedaan garam Himalaya dengan garam dapur!

 

Apa itu Garam?

Sebelum aku bahas perbedaan garam dapur dan garam Himalaya, coba kita ulik sedikit tentang garam, nih. Garam adalah mineral yang sebagian besar terdiri dari sodium klorida (NaCl). Secara umum, garam bisa dihasilkan dari 2 metode, yaitu ditambang ataupun dari proses evaporasi air laut. 

Apabila ditambang, garam dapat ditemukan dalam bentuk bongkahan batu yang diberi nama Halit. Halit disebut juga batu garam, karena yaa emang asin banget rasanya, gais. Nah, tadi kan aku bilang garam Himalaya bukan berasal dari laut, kan? Karena Garam Himalaya ini sebenarnya ditambang gitu, gais. Ada tambangnya berbentuk gua yang besar banget, yaa mirip sama tambang emas atau barang tambang pada umumnya, deh.

Asal Mula Garam

Jadi, garam Himalaya itu garam juga dong masuknya? Err, iya bener sih, sebenernya masuk kategori garam juga. Cuma beda aja sama garam yang biasa kita konsumsi. Simpelnya, kalo kamu makan pake garam Himalaya, sama aja kayak kamu lagi gadoin batu gitu, xixixi. Sekarang kita bahas tentang garam Himalayanya, yuk!

 

Garam Himalaya

Sekarang ke bagian serunya, nih. Apasih garam Himalaya itu? Garam Himalaya adalah halit atau batu garam yang berasal dari provinsi Punjab, Pakistan. Mirip dengan garam dapur, kandungan garam Himalaya sebagian besar adalah sodium klorida. Hal yang membedakan dengan garam dapur adalah, garam Himalaya ditambang manual dengan tangan dan tidak melalui proses pengawetan. Ini lah penyebab garam Himalaya dianggap lebih natural.

Karena proses penambangannya natural, garam Himalaya ini masih memiliki beragam kandungan mineral di dalamnya, terutama zat besi yang menghasilkan warna pink cerah. Beberapa mineral yang bisa ditemukan pada garam Himalaya antara lain adalah zat besi, Zinc, Kalsium, Magnesium, dan lain-lain. Beberapa peneliti bahkan memperkirakan terdapat 84 jenis mineral yang terkandung dalam garam Himalaya.

Garam Himalaya

Baca Juga: Perang Anglo-Zanzibar, Tersingkat dalam Sejarah Peradaban Manusia

Berangkat dari penemuan tersebut, berarti bener dong ya, garam Himalaya itu lebih sehat dibanding garam dapur pada umumnya? Eits, nggak juga nih. Malah bisa dibilang, hampir nggak ada pengaruh yang signifikan buat kita kalo beralih ke menggunakan garam Himalaya, loh. Coba sekarang kita battle dulu deh, garam dapur sama garam Himalaya.

 

Garam Dapur vs Garam Himalaya

Di sebelah kiri kita saat ini sudah hadir si putih merona dari laut biru, garam dapur. Dan di sebelah kanan kita hadir si manis merona (asin sebenernya sih), siapa lagi kalo bukan garam Himalaya. Mari kita adu keduanya, gais! Let’s go~

Pertama, kita bahas dulu tentang garam dapur. Sesuai namanya, garam dapur sudah menjadi legenda di seluruh dapur peradaban manusia. Stoknya yang melimpah menyebabkan garam dapur mudah diperoleh dan memiliki harga yang murah. Garam dapur saat ini juga sudah difortifikasi iodine atau yodium, loh. Jadi kamu nggak perlu khawatir dengan penyakit seputar kelenjar tiroid seperti gondok.

On the other side, garam dapur yang berwarna putih ini telah melewati beberapa proses pemurnian dan pengawetan. Pemurnian yang menggunakan klorin ini ditakutkan dapat menimbulkan efek buruk pada kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah besar. Hmm, tapi emang sesuatu yang kebanyakan pasti nggak baik sih.. kecuali belajar mungkin ya, hehe

Ada lagi nih, yang masih hangat belakangan ini. Kondisi air laut yang kini makin tercemar dengan plastik turut memberi risiko kesehatan pada garam yang kita konsumsi. Telah ditemukan kontaminasi mikroplastik pada beberapa garam yang diambil dari air laut. Hal ini tentunya dapat berbahaya bagi manusia, karena microplastik dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan.

Sekarang kita ke kontender berikutnya, garam Himalaya. Selain warnanya yang indah, garam Himalaya memiliki jenis mineral yang lebih banyak dibandingkan garam biasa. Beberapa penelitian juga menyatakan kandungan sodium garam Himalaya lebih rendah dibanding garam biasa. Garam Himalaya memiliki 1680mg sodium per sendok teh, sedangkan garam biasa memiliki 2360mg sodium per sendok teh.

Tapi di sisi lain, konsumsi garam Himalaya sebagai pengganti garam dapur dapat menyebabkan kekurangan yodium, loh. Ini karena walaupun terdapat yodium secara alami pada garam  Himalaya, persentasenya sangat kecil, jadi tubuh kamu masih tetap akan kekurangan yodium. Walaupun memiliki kandungan mineral yang banyak, sekita 96% - 99% kandungan garam Himalaya adalah sodium klorida. Sehingga efek dari beragam mineral di dalamnya tidak berpengaruh signifikan untuk kita.

Kemudian dari segi harga, garam Himalaya jauh lebih mahal dibandingkan dengan garam biasa. Proses penambangan garam Himalaya tidak mudah dan hanya dapat ditambang dari beberapa tempat saja. Hal ini yang menyebabkan garam Himalaya memiliki harga yang mahal. Tren yang diciptakan oleh banyak tokoh elit juga menyebabkan garam Himalaya menjadi barang mahal, sehingga nilainya naik di pasaran.

Garam Dapur vs Garam Himalaya

Baca juga: Fakta Menarik Awan: Asal Mula, Bentuk, Klasifikasi, dan Arah Gerak

Kesimpulannya, garam Himalaya memang memiliki sedikit perbedaan dengan garam dapur pada umumnya. Namun perbedaan ini tidak menyebabkan garam Himalaya lebih superior dibandingkan garam biasa untuk faktor kesehatan. Tren dan klaim yang tidak saintifik menyebabkan garam Himalaya lebih dipuja dibandingkan garam biasa. Padahal mah, gitu-gitu aja kok, gais. Hehe.

Sesekali kalo mau pake garam Himalaya nggak ada salahnya kok, gais. Aku juga penasaran soalnya, beda nggak ya nasi gorengku kalo digareminnya pake garem mahal? Xixixi. Menarik kan, bahasan kita kali ini? Kalo kamu mau tanya tentang hal unik macem ini langsung tanya aja di kolom komentar, ya! Nanti kalo menarik bisa jadi bahan buat tulisanku selanjutnya loh, hehehe. Sampai jumpa di bahasan berikutnya, ya! Dadah~

CTA Blog Brain Academy Brainies Bertanya

Referensi:

Sharif, Q., Hussain, M., Hussain, M. (2007). ‘Chemical Evaluation of Major Salt Deposits of Pakistan’. Journal-Chemical Society of Pakistan. 29. 569-574 [daring]. Diakses pada: https://www.researchgate.net/publication/299078172_Chemical_Evaluation_of_Major_Salt_Deposits_of_Pakistan  (16 September 2021)

Hassan, A., Mohy-ud-Din, A., Ali, S. (2017). ‘Chemical Characterisation of Himalayan Rock Salt’. Pakistan Journal of Scientific and Industrial Research Series A: Physical Sciences. 60. 67-71 [daring]. Diakses pada: https://www.researchgate.net/publication/319098296_Chemical_Characterisation_of_Himalayan_Rock_Salt (16 September 2021)

Shilton, A. ‘Pink Himalayan Salt is a Waste of Money’, VICE, 18 Januari 2019 [daring]. Diakses pada: https://www.vice.com/en/article/yw7a8y/is-pink-salt-good-for-you-himalayan-salt-vs-regular-salt (15 September 2021)

‘Himalayan Pink Salts: Are There Health Benefits?’, WebMD, 2 Desember 2020 [daring]. Diakses pada: https://www.webmd.com/diet/himalayan-pink-salt-health-benefits (15 September 2021)

Pearson, K. ‘Is Pink Himalayan Salt Better Than Regular Salt?’. healthline, 16 Mei 2017 [daring]. Diakses pada: https://www.healthline.com/nutrition/pink-himalayan-salt (15 September 2021)

Hall, H. ‘Pink Himalayan sea salt: An update". Science-Based Medicine, 31 Januari 2017 [daring]. Diakses pada: https://sciencebasedmedicine.org/pink-himalayan-sea-salt-an-update/ (16 September 2021)

Profile

Kak Ali MT Soshum

Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta. Hobi berkebun, menulis, dan membaca (yang fiksi aja tapi hehe). Suka ngajar dan ngelatih juga. Pelatih Paskibra favoritmu.

Beri Komentar