Perang Anglo-Zanzibar, Tersingkat dalam Sejarah Peradaban Manusia

Perang Tersingkat dalam Sejarah Peradaban Manusia

Artikel ini berisi pembahasan mengenai perang dengan durasi tersingkat dalam sejarah peradaban manusia.

--

 

Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, bumi kita telah menjadi saksi bisu bagi berbagai macam perang yang menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa. Dari perang dengan durasi paling lama, hingga perang tersingkat tetapi menimbulkan korban jiwa yang paling banyak. Tapi kamu tahu gak sih, durasi perang yang paling singkat itu berapa lama? Percaya gak kalau aku bilang, ada sebuah perang yang durasinya kurang lebih sama seperti kamu lagi duduk selama 1 jam pelajaran di kelas? Yap, kamu nggak salah! Ada sebuah perang yang durasinya kurang lebih hanya 40 menit, loh. Yuk, simak pembahasan berikut mengenai perang tersingkat dalam sejarah peradaban manusia!

Baca Juga: Teknik Belajar Cepat ala Richard Feynman

Perang Anglo-Zanzibar

Alkisah pada tahun 1896 di sebuah kepulauan bernama Zanzibar, terdapat sebuah kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Hamad bin Thuwaini. Semua baik-baik saja tentunya, sampai suatu ketika pada tanggal 25 Agustus 1896 Sultan Hamad meninggal secara tiba-tiba. Kaget dong khalayak umum, tapi usut punya usut sih meninggalnya karena diracun oleh saudaranya sendiri yang kemudian menggantikan posisinya. Beliau adalah Khalid bin Barghash. Terus apakah ini penyebab perang yang durasinya cuma 40 menit ini? Yak, tentu saja bukan.

Secara langsung, sebenarnya bukan pembunuhan Sultan Hamad lah yang memicu perang, melainkan naiknya Sultan Khalid ini sebagai penggantinya. Mengapa begitu? Ternyata, pihak Britania Raya, atau biasa disebut United Kingdom (UK) bete banget sama Sultan Khalid ini. Menurut mereka, Sultan Khalid ini terlalu independen dan kurang cocok aja gitu sama pihak Britania Raya. Mereka lebih setuju kalau yang menggantikan sebagai sultan adalah Hamud bin Mohammed. Eh tapi ya, kenapa kok dari awal Britania Raya malah ikut campur sama rumah tangga Kesultanan Zanzibar ini?

Ikuti Kelas Gratis: Live Teaching bareng STAR Master Teacher

Live Teaching Brain Academy Online

Pada tanggal 14 Juni 1890, terdapat sebuah perjanjian yang menyatakan Zanzibar berada dalam kekuasaan dan perlindungan Britania Raya. Pada perjanjian ini, dinyatakan bahwa kandidat penerus kesultanan harus mendapat izin dari pihak Britania Raya. Inilah yang menjadi masalah, karena Sultan Khalid ini tentunya tidak mendapat izin dong dari pihak Britania Raya. Akhirnya Britania Raya menganggap perbuatan ini adalah casus belli, yang artinya adalah “tindakan yang memancing peperangan” dan langsung memberi ultimatum pada Zanzibar. Inti dari ultimatumnya adalah agar Sultan Khalid menyerah dan segera meninggalkan istana. 

Latar belakang perang Anglo-Zanzibar

Yap, kamu pasti tahu dong gimana kelanjutannya. Tentu saja Sultan Khalid nggak mau menyerah dong. Mungkin dalam hati Sultan Khalid gini ya:

“Eh enak aja, udah susah-susah ngeracun sodara sendiri, belom jabat seminggu masa udah disuruh mundur aja, sih!”

Alhasil, Sultan Khalid mengabaikan ultimatum yang diberikan Britania Raya hingga akhirnya ultimatum tersebut kadaluarsa. Sultan Khalid justru berlindung di istananya dan meningkatkan jumlah pasukan untuk melindungi dirinya. Pada tanggal 27 Agustus 1896 pukul 09.00 Waktu Afrika Timur, pihak Britania Raya sudah mengumpulkan 1050 pasukan dan 3 kapal perang milik angkatan lautnya. Sedangkan pihak kesultanan memiliki 2800 pasukan yang melindungi istana. Sayangnya, kebanyakan pasukannya berasal dari penduduk sipil, walaupun ada sedikit yang merupakan prajurit kerajaan dan budak-budak milik sultan. Istana Kesultanan memiliki beberapa artileri di depan istana yang siap menembak pasukan Britania Raya.

Tak bisa dihindari, perang pun meletus. Dor. Pada pukul 09.02, kapal milik Britania Raya membombardir istana dengan serangan meriam. Hal ini dengan cepat melumpuhkan artileri yang dimiliki istana, sehingga istana dengan cepat kehilangan kekuatan untuk melawan. Serangan terus berlanjut, hingga akhirnya pada pukul 09.46 tembakan dihentikan. Ternyata setelah digempur pihak Britania Raya, Sultan Khalid melarikan diri ke konsulat Jerman dan akhirnya secara rahasia diselundupkan ke luar negeri.

Pada akhirnya, Kesultanan Zanzibar kalah dari Britania Raya. Pihak Zanzibar kehilangan kurang lebih 500 nyawa, sedangkan pihak Britania Raya hanya mengalami 1 korban yang mengalami luka-luka. Berakhirnya perang ini sekaligus mengakhiri jabatan Sultan Khalid yang hanya berlangsung selama 3 hari, yakni tanggal 25 hingga 27 Agustus 1896. Jadi bukan hanya perangnya yang singkat, tapi ternyata masa jabatan Sultan Khalid juga, gais. Sungguh ironis.

Perang Anglo-Zanzibar

Lalu apa yang terjadi dengan Zanzibar yang sekarang tidak memiliki Sultan? Tentunya sesuai kemauan pihak Britania Raya, Hamud bin Mohammed dinobatkan menjadi sultan yang baru. Sultan Hamud kemudian memegang kekuasaan hingga dia meninggal pada tahun 1902. The End.  

---

Wah, menarik banget kan bahasan tentang perang tersingkat dalam sejarah peradaban manusia! Kalau ada saran atau pertanyaan untuk bahasan berikutnya, tulis di kolom komentar, ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, Dadah~

BA online

Referensi:

Glenday, Craig, ed. (2007), Guinness World Records 2008, London: Guinness World Records

Hernon, Ian (2003). Britain's Forgotten Wars. Stroud: Sutton Publishing.

Alf Wilkinson. ‘The shortest war in history: The Anglo-Zanzibar War of 1896’, [daring]. Diakses pada: https://www.history.org.uk/secondary/resource/7950/the-shortest-war-in-history-the-anglo-zanzibar-wa (30 Juni 2021)

Sumber foto:

Foto Hamad bin Thuwaini [daring]. Diakses pada: https://en.wikipedia.org/wiki/Hamad_bin_Thuwaini_of_Zanzibar (30 Juni 2021)

Foto Khalid bin Barghash [daring]. Diakses pada: https://en.wikipedia.org/wiki/Khalid_bin_Barghash_of_Zanzibar (30 Juni 2021)

Profile

Kak Ali MT Soshum

Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta. Hobi berkebun, menulis, dan membaca (yang fiksi aja tapi hehe). Suka ngajar dan ngelatih juga. Pelatih Paskibra favoritmu.

Beri Komentar