Pengendalian Sosial: Pengertian, Tujuan, Bentuk, & Contohnya

pengendalian sosial

Pengendalian sosial memiliki peran untuk mengatur masyarakat agar hidup tertib. Apa itu pengendalian sosial? Yuk, simak penjelasannya!

Setiap masyarakat pasti memiliki aturan dan norma yang harus dipatuhi. Aturan ini ada untuk menjaga ketertiban dalam kehidupan. Namun, tidak semua orang selalu patuh pada aturan yang berlaku. Terkadang, ada perilaku yang dianggap menyimpang dari norma sosial, seperti melanggar tata tertib sekolah atau tidak mematuhi aturan lalu lintas.

Nah, dalam Sosiologi, ada proses yang berfungsi untuk menjaga agar ketertiban sosial tetap terjaga, yaitu pengendalian sosial. Proses ini bertujuan mengawasi, mengingatkan, bahkan memberikan sanksi kepada individu atau kelompok yang melanggar norma. Contoh yang paling mudah adalah ketika guru menegur siswa yang berbuat gaduh di kelas atau masyarakat yang menegur seseorang karena membuang sampah sembarangan.

Apakah pengendalian sosial selalu berupa hukuman? Tidak selalu ya! Ada banyak bentuk pengendalian sosial, mulai dari teguran halus hingga sanksi yang lebih tegas. Yuk, kita bahas lebih dalam tentang pengertian, tujuan, jenis, dan berbagai contoh pengendalian sosial yang ada di sekitar kita di artikel berikut!

 

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial adalah proses yang dilakukan oleh kelompok, individu, atau lembaga di masyarakat untuk memastikan semua orang tetap mengikuti aturan dan norma yang berlaku. Tujuannya yaitu mencegah hal-hal yang bisa membuat kekacauan dan menjaga kehidupan bermasyarakat tetap aman, rukun, dan tertib. 

 

Tujuan Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial bertujuan untuk menjaga ketertiban dan keseimbangan dalam masyarakat. Adanya pengendalian sosial, tindakan yang menyimpang dari norma bisa dicegah, sehingga kehidupan bersama tetap harmonis. Berikut beberapa tujuan lain dari pengendalian sosial:

1. Mencegah Penyimpangan Sosial

Pengendalian sosial berfungsi untuk mencegah perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Dengan begitu, potensi terjadinya konflik atau gangguan sosial bisa diminimalisir.

 

2. Menjaga Ketertiban dan Keamanan

Dengan adanya aturan dan sanksi yang jelas, masyarakat bisa hidup lebih tertib dan aman. Pengendalian sosial memastikan setiap individu mematuhi aturan demi terciptanya lingkungan yang harmonis.

 

3. Membangun Kesadaran Sosial

Pengendalian sosial membantu menanamkan kesadaran pada individu tentang pentingnya menghormati aturan dan nilai yang berlaku. Ini membuat orang lebih bertanggung jawab dalam berperilaku.

 

4. Memperkuat Solidaritas Sosial

Ketika semua orang mematuhi norma yang sama, rasa kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat akan tumbuh. Ini penting untuk menciptakan lingkungan yang saling mendukung.

 

5. Menciptakan Stabilitas Sosial

Pengendalian sosial berperan menjaga keseimbangan dalam masyarakat dengan meredam potensi konflik. Stabilitas ini mendukung terciptanya kehidupan yang lebih tertata dan damai.

Baca juga: Konflik Sosial: Pengertian, Penyebab, Dampak, & Contoh

 

Jenis Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu berdasarkan formalitas, tujuan, dan cara penerapannya. Nah, masing-masing jenis memiliki penjelasan sebagai berikut:

1. Berdasarkan Formalitas

a. Pengendalian Sosial Formal

Dilakukan oleh lembaga resmi seperti pemerintah, kepolisian, dan sistem peradilan. Contohnya meliputi penegakan hukum pidana, pemberian tilang atas pelanggaran lalu lintas, dan pembubaran organisasi yang melanggar hukum.

b. Pengendalian Sosial Informal

Dilakukan oleh individu, kelompok informal, atau norma sosial yang tidak tertulis. Contohnya seperti teguran orang tua kepada anak, sanksi adat, dan tekanan sosial dari teman sebaya.

 

2. Berdasarkan Tujuan

a. Pengendalian Sosial Preventif

Pengendalian ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang sebelum hal tersebut terjadi. Contoh tindakan preventif meliputi pendidikan moral, penyuluhan tentang kesehatan, serta kampanye anti-narkoba.

b. Pengendalian Sosial Represif

Pengendalian ini bertujuan untuk menghentikan dan memberikan sanksi atas penyimpangan sosial. Contohnya meliputi tindakan penangkapan pelaku kejahatan, penalti atas pelanggaran, dan rehabilitasi pecandu narkoba.

 

3. Berdasarkan Cara Penerapan

a. Pengendalian sosial melalui internalisasi

Pendekatan ini mendorong individu untuk menginternalisasi nilai dan norma sosial sehingga menjadi bagian dari karakter mereka. Contohnya dapat dilihat dalam pendidikan agama atau penanaman nilai moral sejak usia dini.

b. Pengendalian sosial melalui sugesti

Metode ini memanfaatkan sugesti untuk membentuk perilaku individu agar sejalan dengan norma sosial. Contoh penerapannya meliputi pidato yang membangkitkan semangat, propaganda, hingga kampanye sosial yang persuasif.

c. Pengendalian sosial melalui paksaan

Pendekatan ini menggunakan tekanan berupa ancaman sanksi atau hukuman agar individu mematuhi aturan yang berlaku. Contohnya terlihat dalam penegakan hukum pidana, pemberian denda, hingga tindakan penahanan.

 

Bentuk Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial dalam masyarakat memiliki berbagai bentuk. Beberapa di antaranya adalah:

1. Berdasarkan Lembaga yang Melakukan

a. Pengaturan sosial oleh badan negara

Dilaksanakan oleh institusi resmi seperti pemerintah, kepolisian, dan lembaga peradilan. Contohnya meliputi penerapan hukum pidana, pemberian sanksi bagi pelanggaran lalu lintas, serta pembubaran organisasi yang bertentangan dengan hukum.

b. Pengaturan sosial oleh badan swasta

Dijalankan oleh organisasi non-pemerintah/swasta, lembaga pendidikan, dan media massa. Contohnya antara lain kampanye anti-narkoba yang diadakan oleh LSM, penyuluhan kesehatan oleh komunitas profesi, serta pemberitaan tentang risiko pelanggaran hukum yang disampaikan melalui media.

c. Pengaturan sosial oleh masyarakat

Dilakukan oleh individu atau kelompok dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dengan mengandalkan norma dan tradisi yang berlaku. Contohnya seperti teguran orang tua kepada anak, pemberian sanksi adat, hingga tekanan sosial dari kelompok sebaya.

 

2. Berdasarkan Metode Penerapan

a. Pengaturan sosial persuasif

Menggunakan pendekatan yang bersifat membujuk, memberi arahan, serta mendidik agar individu mengikuti norma sosial. Contohnya adalah kampanye anti-narkoba, penyuluhan kesehatan, dan pendidikan karakter.

b. Pengaturan sosial koersif

Dilakukan dengan memberikan tekanan atau paksaan agar individu mematuhi aturan yang berlaku, biasanya disertai ancaman sanksi. Contohnya meliputi penegakan hukum pidana, pemberian denda, hingga penahanan.

c. Pengaturan sosial preventif

Bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial sebelum terjadi. Contohnya adalah edukasi moral, penyuluhan kesehatan, dan kampanye yang mengajak masyarakat menghindari perilaku menyimpang.

d. Pengaturan sosial represif

Dilakukan setelah penyimpangan terjadi, dengan tujuan menghentikan pelanggaran serta memberikan sanksi kepada pelakunya. Contohnya mencakup proses hukum bagi pelaku kejahatan, pemberian denda, hingga rehabilitasi bagi pecandu narkoba.

 

Cara Pengendalian Sosial

Cara pengendalian sosial adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga ketertiban dan mencegah penyimpangan sosial dalam masyarakat. Secara umum, ada beberapa cara yang digunakan untuk melakukan pengendalian sosial, yaitu:

1. Internalisasi Nilai dan Norma

Proses ini terjadi ketika seseorang secara sadar menerima dan mematuhi nilai serta norma sosial hingga menjadi bagian dari kepribadiannya. Contohnya adalah pendidikan moral sejak dini dan pembiasaan sopan santun di lingkungan keluarga.

 

2. Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses pengenalan nilai dan norma kepada individu agar mereka memahami aturan yang berlaku dalam masyarakat. Hal itu sering dilakukan melalui pendidikan, lingkungan keluarga, sekolah, hingga media massa.

 

3. Penerapan Sanksi

Pengendalian sosial dilakukan dengan memberikan sanksi kepada individu yang melanggar norma. Sanksi ini bisa bersifat tegas seperti hukuman pidana, denda, atau sanksi administratif, serta bersifat sosial seperti pengucilan atau teguran. 

penerapan sanksi

Penerapan sanksi hukuman pidana untuk memberi efek jera agar pelanggaran tidak terulang (Sumber: freepik.com)

 

4. Pengaruh Informal

Pengendalian ini terjadi melalui interaksi sosial sehari-hari tanpa adanya aturan tertulis. Contohnya berupa nasihat dari orang tua, sindiran dari teman, hingga tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Cara ini lebih mengandalkan hubungan sosial dan norma yang hidup di masyarakat.

Baca juga: Interaksi Sosial: Pengertian, Ciri, Syarat, Bentuk, & Faktor

 

Fungsi Pengendalian Sosial

1. Menjaga Ketertiban Sosial

Membantu menciptakan lingkungan yang tertib dan teratur dengan mencegah perilaku yang menyimpang dari norma.

2. Membentuk Kesadaran Kolektif

Menanamkan nilai dan norma sosial agar menjadi kesadaran bersama, memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas sosial.

3. Mencegah Penyimpangan Sosial

Berfungsi sebagai alat pencegahan agar individu menghindari tindakan yang melanggar aturan melalui sosialisasi dan pemberian sanksi.

4. Memberikan Sanksi dan Koreksi

Memberikan konsekuensi bagi pelanggaran norma serta membantu individu untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalur yang sesuai dengan aturan sosial.

5. Mendorong Integrasi Sosial

Membantu menyatukan berbagai kelompok dalam masyarakat dengan mendorong penerapan nilai-nilai yang mendukung keharmonisan dan kerjasama.

 

Lembaga Pengendalian Sosial

Lembaga pengendalian sosial adalah institusi yang berperan dalam menjaga ketertiban dan mencegah penyimpangan sosial dengan menerapkan aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Lembaga ini terbagi menjadi beberapa jenis antara lain:

1. Lembaga Keluarga

Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membentuk karakter individu. Orang tua dan anggota keluarga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai sosial serta membimbing anak agar memahami dan menghormati norma yang berlaku di masyarakat.

 

2. Lembaga Pendidikan

Sekolah melanjutkan peran keluarga dengan memberikan pendidikan formal tentang norma dan nilai sosial. Melalui proses pembelajaran, siswa diajarkan tentang moral, etika, dan tanggung jawab sosial agar tumbuh menjadi individu yang sadar akan peran mereka dalam masyarakat.

 

3. Lembaga Agama

Sebagai pilar moral, lembaga agama memberikan bimbingan spiritual yang mendukung kepatuhan terhadap nilai-nilai sosial. Ajaran agama mendorong umatnya untuk menjalani kehidupan yang jujur, berbuat baik, dan saling menghormati, membentuk fondasi etika yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.

 

4. Media Massa

Media berfungsi sebagai penyebar informasi dan sarana edukasi mengenai pentingnya norma sosial. Melalui berbagai konten yang disajikan, media berperan membangun kesadaran masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.

 

5. Lembaga Penegak Hukum

Lembaga ini berperan menegakkan aturan dan memastikan adanya sanksi bagi pelanggar norma sosial. Dengan keberadaannya, diharapkan tercipta rasa keadilan dan ketertiban dalam masyarakat.

Baca juga: Lembaga Sosial: Pengertian, Fungsi, Ciri, Jenis, & Contohnya

 

Sifat Pengendalian Sosial

Sifat pengendalian sosial merujuk pada karakteristik atau ciri-ciri yang melekat dalam proses pengawasan masyarakat terhadap perilaku individu agar tetap selaras dengan norma dan nilai yang berlaku. Berikut adalah sifat pengendalian sosial beserta penjelasannya:

1. Universalitas

Pengendalian sosial bersifat universal, artinya terjadi di semua masyarakat, tanpa memandang tempat dan waktu. Setiap kelompok sosial memiliki cara tertentu untuk mengatur perilaku anggotanya, baik melalui aturan tertulis maupun norma tidak tertulis. Contohnya, memberi teguran kepada orang yang melanggar antrian adalah bentuk pengendalian sosial yang ditemukan di berbagai budaya.

 

2. Dinamika

Sifat ini menunjukkan bahwa pengendalian sosial bersifat dinamis, artinya selalu berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman, kondisi sosial, serta budaya masyarakat. Metode yang digunakan untuk mengendalikan perilaku bisa berubah seiring waktu, misalnya dahulu masyarakat lebih mengandalkan sanksi sosial, sementara kini banyak yang mengadopsi aturan hukum tertulis.

 

3. Formal dan Informal

Pengendalian sosial formal dilakukan oleh lembaga resmi seperti polisi, pengadilan, dan sekolah, dengan dasar hukum atau aturan tertulis. Contohnya adalah pemberian denda kepada pengendara yang melanggar aturan lalu lintas. 

Sementara itu, pengendalian sosial informal terjadi secara spontan oleh individu atau kelompok tanpa adanya aturan tertulis, biasanya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, nasihat dari orang tua kepada anak yang berperilaku tidak sopan.

 

4. Terstruktur dan Tidak Terstruktur

Pengendalian sosial terstruktur berjalan secara sistematis dan terorganisasi, biasanya melibatkan lembaga resmi atau kelompok tertentu. Contohnya adalah proses sidang di pengadilan yang bertujuan memutuskan hukuman atas pelanggaran hukum. Sebaliknya, pengendalian sosial tidak terstruktur bersifat spontan dan tidak direncanakan, sering kali muncul dari reaksi langsung masyarakat terhadap suatu perilaku. Misalnya, cibiran atau tatapan tidak setuju yang diberikan kepada seseorang yang membuang sampah sembarangan.

Baca juga: Ketimpangan Sosial: Pengertian, Penyebab, Bentuk & Dampak

 

Contoh Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial berperan penting dalam menjaga keselarasan sosial dengan mengatur perilaku individu agar selaras dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Berikut beberapa contoh pengendalian sosial yang bisa membantu memahami peran dan keberadaannya:

1. Teguran terhadap Pelanggaran Norma

Ketika seseorang melanggar norma sosial, seperti berbicara kasar di tempat umum, orang di sekitarnya mungkin memberikan tatapan tajam atau menegur secara langsung.

teguran

Teguran adalah bentuk pengendalian sosial informal yang bertujuan untuk mengingatkan individu agar menjaga sikap (Sumber: freepik.com)

 

2. Penerapan Sanksi Hukum

Dalam kasus pelanggaran hukum, seperti pencurian atau pelanggaran lalu lintas, pihak berwenang seperti polisi atau pengadilan akan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Pengendalian sosial formal ini bertujuan memberikan efek jera dan menjaga ketertiban masyarakat.

 

3. Adanya Adat dan Tradisi Lokal

Di beberapa daerah, adat dan tradisi menjadi alat pengendalian sosial yang kuat. Misalnya, di komunitas adat, pelanggaran terhadap norma adat bisa berujung pada sanksi sosial berupa pengucilan sementara atau kewajiban mengikuti upacara adat tertentu untuk menebus kesalahan.

 

4. Peran Media Massa

Media massa juga berfungsi sebagai alat pengendalian sosial dengan memberikan informasi dan edukasi tentang nilai-nilai yang dijunjung masyarakat. Misalnya, berita tentang pentingnya menjaga lingkungan, dapat mempengaruhi sikap masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

 

5. Peraturan Sekolah

Di lingkungan pendidikan, sekolah menerapkan aturan seperti larangan merokok atau kewajiban mengenakan seragam tertentu. Jika ada siswa yang melanggar, mereka akan mendapat peringatan atau sanksi dari pihak sekolah sebagai upaya menjaga disiplin dan tata tertib.

Nah, itulah pembahasan mengenai pengendalian sosial mulai dari pengertian, tujuan, jenis, bentuk, cara, fungsi, lembaga, hingga contohnya. Semoga membantu kamu ya! Mau belajar tentang Sosiologi lebih dalam lagi? Yuk, cobain kelas gratis Brain Academy! Disana, kamu bisa belajar bareng kakak-kakak STAR Master Teacher yang berpengalaman dan siap membantumu.

Brain Academy Center

 

Referensi:

Pengendalian Sosial: Pengertian, Tujuan, Cara & Contoh | Sosiologi Kelas 10 [daring]. Tautan: https://www.ruangguru.com/blog/pengendalian-sosial (Diakses: 15 Maret 2025)

Ruswanto. 2025. Sosiologi SMA/MA [daring]. Tautan: https://repository.bbg.ac.id/bitstream/526/1/Sosiologi_SMAMA.pdf (Diakses: 15 Maret 2025)

Sri Uji. 2025. Ragam Gejala Sosial Sosiologi Kelas X [daring]. Tautan: https://repositori.kemdikbud.go.id/21962/1/X_Sosiologi_KD-3.3_FINAL.pdf (Diakses: 15 Maret 2025)

Olivia Yunita