Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak

Elisabeth Garnistia Jan 26, 2021 • 13 min read


21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1

Artikel ini membahas mengenai tanda-tanda perilaku yang termasuk dalam kategori toxic parenting dalam mengasuh anak 

---

Pernahkah parents mendengar toxic parenting?

Toxic parenting bukan lah konsep yang tetap dalam dunia medis namun ketika orang membahas toxic parenting atau toxic parent, hal ini dapat mengarah pada perilaku orang tua yang tidak memperlakukan anak mereka dengan baik dan menyebabkan anak merasa bersalah, ketakutan, dan merasa harus berperilaku sangat patuh pada orangtuanya.

Perilaku orang tua yang dapat dikatakan sebagai toxic ketika perilaku yang disebutkan di atas berulang dilakukan oleh orang tua sehingga menimbulkan sebuah pola kebiasaan yang mengakibatkan dampak negatif pada kehidupan anak. 

Orang tua yang termasuk kategori  toxic parents biasanya melakukan cara apapun termasuk cara yang dapat mencelakakan atau merusak anak demi memenuhi kebutuhan orang tua sendiri. Contohnya melakukan kekerasan seksual, kekerasan emosional, fisik, dan pengabaian pada anak. 

Parahnya, orang tua yang berperilaku toxic tidak akan mengakui kesalahan mereka pada anak dan tidak peduli jika mereka akan melakukan perilaku tersebut pada anak di kemudian hari. Hal ini tentunya akan menciptakan lingkungan yang tidak sehat untuk tumbuh kembang anak secara psikis dan mental.

Lalu, tanda-tanda apa yang termasuk dalam kategori toxic parenting dalam pengasuhan anak? 

1. Keinginan Selalu Mengontrol Anak

Orang tua Terlalu Mengontrol Anak

Orang tua Terlalu Mengontrol Anak (Sumber: klikdokter.com)

Hati-hati jika parents mempunyai keinginan untuk selalu mengontrol apapun di kehidupan anak termasuk orang-orang yang ada di lingkungan si anak. Hal ini bisa menjadi pertanda bahwa parents sudah melakukan emotional abuse (kekerasan emosional) dalam kehidupan anak.

Keinginan orangtua untuk melakukan yang terbaik adalah hal baik dan wajar, namun hal ini menjadi bahaya jika orangtua memiliki ketakutan berlebih atas keputusan atau pilihan sang anak dan menganggap anak belum cukup dewasa untuk memutuskan pilihan hidupnya. 

Contohnya, melarang anak memutuskan jurusan kuliahnya sendiri, melarang anak berteman tanpa alasan yang jelas. 

Sayangnya, ketakutan berlebihan pada orangtua ini dapat memicu over-controlling pada kehidupan anak. Sebabnya anak tidak mempunyai kesempatan untuk memilih keputusannya sendiri. 

Hal ini dapat berdampak pada perasaan anak, pada akhirnya anak merasa tersinggung dan berpikir bahwa anak tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk memutuskan pilihan personal hidupnya.

2. Menyiksa Fisik atau Verbal

Orang tua Memarahi Anak dengan kata Kasar

Orang tua Memarahi Anak dengan kata Kasar (Sumber: jabar.tribunnews.com)

Jika parents sering melakukan kekerasan fisik seperti memukul dan mencubit anak, atau melakukan kekerasan verbal seperti memanggil anak dengan perkataan tidak senonoh, mengejek anak dengan kata-kata kasar, mendiami anak dalam waktu lama, mengalihkan kesalahan pada anak. 

Hati-hati! Sebaik mungkin parents harus menghentikan kebiasaan tersebut dalam mendidik anak. Apapun bentuk, tindakan, intensitas kekerasan pada anak tidak dapat dibenarkan dan parahnya kekerasan yang dialami anak dapat menyebabkan terganggunya fungsi otak dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang

Dilansir dari laman Alodok, kekerasan pada anak juga dapat menimbulkan rendahnya kepercayaan diri anak, kesulitan mempercayai orang lain, keinginan untuk melukai diri sendiri, sampai keinginan untuk bunuh diri.

Yuk mulai hentikan kekerasan pada anak!

Baca Juga: Toxic Positivity: Ketika Ucapan Positif Berdampak Negatif

3. Kurang Empati

Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak

Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak (Sumber: halosehat.com)

Orang tua yang tidak empati terhadap keadaan anak akan menganggap kebutuhan orang tua lebih penting dari kebutuhan anak. Orang tua seperti ini akan selalu menuntut anak untuk melakukan sesuatu untuk keuntungan atau kesenangan pribadi si orang tua

Misalnya, anak harus dituntut untuk selalu mendapat nilai sempurna di sekolah karena hal tersebut dapat menimbulkan kesenangan atau kebanggaan pada diri orang tua. 

Namun sayangnya, orang tua tidak memikirkan kemampuan si anak, apakah anak akan mampu untuk selalu mendapatkan nilai sempurna, apakah hal tersebut bisa mengganggu kesehatan mental anak. 

Orangtua yang kurang empati akan menimbulkan dampak negatif pada anak, seperti anak akan sering mengabaikan kebutuhannya sendiri, menyalahkan diri sendiri atas ketidakpuasan orang tuanya, tidak memiliki pendapat sendiri.

4. Terlalu Mengkritik Anak


Orang tua teralu Mengkritik Anak
Orang tua Terlalu Mengkritik Anak (Sumber: id.theasianparent.com)

Hati-hati parents jika telah melakukan kritik berlebih pada anak. Semua hal yang dilakukan oleh anak ditanggapi secara negatif oleh orang tua. Perilaku orang tua yang “terlalu mengkritik” akan cenderung menyakiti perasaan anak.

Mungkin orang tua bermaksud baik atas kritik yang diberikan namun salah-salah mengkritik dapat menghancurkan kepercayaan diri si anak. 

Misalnya, orang tua mengkritik penampilan anak saat anak mencoba berpenampilan baru, tidak menghargai pencapaian anak dengan membandingkan pencapaian anak lain, mengkritik saat anak menunjukan bakatnya. 

Sifat terlalu mengkritik dapat menurunnya rasa kepercayaan diri anak karena anak merasa tidak mampu untuk melakukan apapun dengan benar. 

Yuk, parents lebih sering lagi memberi pujian dan menghargai usaha anak!

Baca Juga: Mengenal Emotional Neglect and Suppression dari film NKCTHI

5. Mengganggu Privasi Anak

Orang tua Melewati batas privasi anakOrang tua Melewati batas privasi anak (Sumber: bbc.com)

Ciri-ciri jika parents sudah mulai mengganggu privasi anak, yaitu seperti melihat seluruh isi pesan anak dengan teman-teman, membaca buku jurnal anak, mengikuti kemana anak pergi dengan temannya, hingga melanggar batasan yang sudah anak tetapkan 

Jika orangtua sering menanyakan hal-hal privasi tersebut pada anak tanpa memikirkan batasan yang sudah ditentukan, tentu ini akan membuat anak merasa tidak dihargai oleh orang tuanya dan anak akan merasa tidak dapat diandalkan oleh orang tuanya. 

Yuk parents, mulai hentikan kebiasaan mengganggu privasi anak di luar batas.

6. Menganggap Anak Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Orang Tua 

Orangtua membuat Anak MemilihOrangtua membuat Anak Memilih (Sumber: bonobology.com)

Ciri-ciri ketika orang tua sudah melakukan toxic parenting pada anak, ketika orang tua sudah menuntut suatu hal kepada anak seperti menyuruh anak memilih antara orang tua dengan temannya bahkan pasangannya. Atau menyuruh anak sering mengorbankan aktivitas yang mereka sukai demi mengabulkan permintaan orang  tua.

Orang tua seperti ini cenderung menganggap bahwa perilaku ini untuk membangun hubungan yang sehat dengan anak namun sebenarnya orang tua malah membangun hubungan yang tidak sehat karena anak dituntut untuk terus mengorbankan apa yang membuat mereka bahagia dan membatasi mereka sebagai individu yang mandiri. 

Baca Juga: 10 Skill Dasar yang Penting untuk Anak Miliki

Sebagai orangtua pasti menginginkan anaknya untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup mereka. Namun, terkadang melakukan sesuatu yang berlebihan malah akan membatasi anak untuk mendapatkan hal baik dari hidupnya. 

Perilaku toxic parenting harus diubah sesegera mungkin karena pengalaman-pengalaman yang didapat anak saat mendapat perlakuan buruk dari orang tua akan tertanam dan anak dapat mewarisi perlakuan buruk pada orang lain. 

Jika parents merasa telah melakukan kesalahan dalam mengasuh anak, cobalah untuk mengubah secara bertahap dan konsisten. Pikirkan bahwa anak merupakan seorang individu yang harus dihormati seperti kita menghormati orang lain. 

Yuk, mulai ubah kebiasaan toxic parenting demi memutus rantai pola asuh yang tidak sehat pada anak kelak.

Parents juga bisa lho mengajak anak untuk mendaftar Brain Academy Online agar anak dapat memiliki pengalaman belajar online yang lebih efektif bersama master teacher di Ruangguru. 

Referensi:

Bunda dan Ayah, Yuk, Kenali Ciri-Ciri Toxic Parents. 3 Agustus 2020. Tautan: https://www.alodokter.com/bunda-dan-ayah-yuk-kenali-ciri-ciri-toxic-parents (daring). (Diakses: 13 Januari 2021

Douglas,M. 11 Mei 2017.  Signs You Have A Toxic Parent:This how you know they've crossed the line from annoying to toxic. Tautan: https://www.healthyway.com/content/signs-you-have-a-toxic-parent/ (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 

Efek Kekerasan pada Anak Bisa Berlanjut Hingga Dewasa. 30 Desember 2018. Tautan: https://www.alodokter.com/efek-kekerasan-pada-anak-bisa-berlanjut-hingga-dewasa (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).

Fajar, A. 24 November 2020. Anak yang Dibesarkan Oleh Ortu Narsis Tumbuh Jadi Orang Rendah Diri. Tautan: https://hellosehat.com/parenting/remaja/efek-pola-asuh-orangtua-narsis/#gref (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 

Kusumoastuti,W. 29 November 2019. Dampak Pola Asuh Toxic Parents pada Tumbuh Kembang Anak. Tautan: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3618988/dampak-pola-asuh-toxic-parents-pada-tumbuh-kembang-anak (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).

Gabba, S. 2 Maret 2020. 4 Signs You Are the Child of a Toxic Parent. Tautan: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/addiction-and-recovery/202003/4-signs-you-are-the-child-toxic-parent (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 

Ulio & Saskara, A. (2020). Peran Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi “Toxic Parents” Bagi Kesehatan Mental Anak. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 5 (2). Tautan: journal.ihdn.ac.id (daring). (Diakses: 13 Januari 2021)

Septiana, T. 27 Oktober 2020. Hati-hati, ini tanda-tanda orangtua narsistik yang perlu diketahui. Tautan: https://lifestyle.kontan.co.id/news/hati-hati-ini-tanda-tanda-orangtua-narsistik-yang-perlu-diketahui?page=all (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).

Understanding and Dealing with Toxic Parents and Co-Parents. July 16, 2020.  Tautan: https://www.healthline.com/health/parenting/toxic-parents#What-can-you-do-when-dealing-with-a-toxic-parent (daring). (Diakses: 13 Juli 2021).

Sumber Gambar:

Orangtua Terlalu Mengontrol Anak. Tautan: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3618988/dampak-pola-asuh-toxic-parents-pada-tumbuh-kembang-anak (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 

Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak. Tautan: https://hellosehat.com/parenting/remaja/efek-pola-asuh-orangtua-narsis/#gref. (Diakses: 13 Januari 2021). 

Orangtua Terlalu Mengkritik Anak. Tautan: https://id.theasianparent.com/toxic-parents. (Diakses: 13 Januari 2021). 

Orangtua Melewati Batas Privasi Anak. Tautan: https://www.bbc.com/news/technology-30930512 (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 

Orangtua Memarahi Anak dengan kata Kasar. Tautan: https://jabar.tribunnews.com/2019/04/02/hati-hati-saat-memarahi-anak-ini-dampak-yang-mungkin-terjadi?page=all (daring). (Diakses: 13 Janari 2021). 

Orangtua Membuat Anak Memilih. Tautan: https://www.bonobology.com/signs-toxic-parents/ (daring). (Diakses: 13 Januari 2021). 



 

Beri Komentar