Biografi Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka merupakan pahlawan nasional yang memikirkan gagasan Republik Indonesia. Yuk, ketahui biografi, perjuangan, pemikiran, serta karya-karyanya!
—
Tahukah kamu bahwa gagasan tentang Republik Indonesia sudah dituliskan sebelum Indonesia merdeka? Tokoh penting di balik pemikiran besar itu adalah Tan Malaka. Ia dijuluki Bapak Republik Indonesia oleh Muhammad Yamin karena menjadi orang pertama yang merumuskan konsep Republik Indonesia dalam bukunya Naar de Republiek. Siapa Tan Malaka? Yuk, kita kenalan lebih jauh!
Biografi Tan Malaka
Tan Malaka adalah tokoh kelahiran Sumatera Barat dengan nama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ia dikenal sebagai pejuang di jalur pendidikan dan politik. Ayahnya adalah HM. Rasad Caniago, seorang buruh tani dan ibunya adalah Rangkayo Sinah Simabur, seorang putri tokoh terpandang di desa mereka.
Sejak kecil, ia sudah bersekolah dan melanjutkan pendidikan di Kweekschool Bukittinggi, sekolah calon guru yang biasanya hanya bisa dimasuki anak-anak terpandang.

Foto Tan Malaka. (Sumber: commons.wikimedia.org)
Kecerdasannya membuat salah satu gurunya, G.H Horensma membantu Tan Malaka melanjutkan pendidikan ke Belanda di Rijks Kweekschool. Setelah lulus, ia berangkat ke Haarlem sebagai calon guru. Saat itu, guru dinilai sebagai profesi yang keren dan tinggi peminat.
Selama tinggal di Belanda, Tan Malaka mulai mengenal berbagai politik Eropa seperti liberalisme, nasionalisme, dan komunisme.
Tan Malaka meninggal pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Jawa Timur. Tan Malaka meninggal karena ditangkap lalu dieksekusi mati oleh Tentara Indonesia tanpa proses pengadilan.
Makam Tan Malaka masih menjadi misteri, namun seorang peneliti sejarah meyakini bahwa jasadnya tidak dibuang ke sungai Brantas, tapi dikuburkan di halaman markas militer dekat Peristiwa penembakan terjadi.
Baca juga: Nama Pahlawan Nasional serta Biografi Singkatnya
Perjuangan Tan Malaka
Sepulangnya ke Indonesia, Tan Malaka bekerja sebagai guru bahasa Melayu untuk anak-anak di perkebunan Sinembah, Sumatera Utara. Di sana, ia melihat langsung penderitaan buruh yang ditipu dan dibayar murah. Inilah yang mendorongnya aktif dalam perjuangan politik. Ia kemudian bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia.
Pada 1920-an, ia pindah ke Jawa dan mendirikan sekolah untuk anak-anak Sarekat Islam di Semarang. Karena aktivitas politiknya, ia ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada 1922. Sejak itu, ia hidup berpindah-pindah dan terus menjadi buronan Belanda.
Tan Malaka hidup berpindah-pindah di berbagai negara seperti Tiongkok, Rusia, Jepang, Singapura, dan Filipina. Meski sering berada di luar negeri, ia tetap menentang penindasan.
Selama tinggal di Tiongkok, Tan Malaka menulis buku Naar de Republiek Indonesia. Di buku ini, ia merumuskan cita-cita dan struktur negara Indonesia merdeka yang menurutnya paling tepat berbentuk Republik.
Pada tahun 1942, Tan Malaka kembali ke Indonesia setelah 20 tahun hidup dalam pelarian. Ia hidup di Kalibata sebagai pedagang buah untuk memahami kehidupan rakyat. Kemudian ia pindah ke Banten, bekerja sebagai juru tulis romusha dengan nama samaran Ilyas Hussein.
Setelah proklamasi 17 Agustus, Tan merasa Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Untuk membuktikan bahwa kemerdekaan didukung rakyat, ia menggerakan pemuda melalui aksi massa. Puncaknya terjadi pada 19 September 1945 dalam Rapat Raksasa Lapangan IKADA yang dihadiri 200 ribu orang.
Karena pengaruh dan gagasannya, Tan sempat ditawari jabatan sebagai Menteri Penerangan, tapi ia menolak dan memilih mendukung dari belakang dengan menggerakan rakyat.
Situasi memanas saat Belanda datang kembali bersama sekutu. Pemerintah (Sjahrir, Soekarno, Hatta) memilih jalur diplomasi, sementara Tan dan Jenderal Soedirman menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi.
Rasa kecewa ini melahirkan Persatuan Perjuangan pada 4 Januari 1946 yang diikuti ratusan organisasi. Tan dan Soedirman menjadi tokoh utamanya dan menolak perundingan seperti Perjanjian Linggarjati. Konflik politik memuncak pada peristiwa 3 Juli 1946 dan berujung pada penangkapan Tan Malaka.
Baca juga: Biografi R.A Kartini, Wanita Tangguh Pejuang Emansipasi!
Pemikiran Tan Malaka
Tan Malaka memiliki beberapa pemikiran dalam bidang pendidikan, yaitu:
- Wajib belajar bagi seluruh penduduk Indonesia secara cuma-cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang utama.
- Menghaluskan sistem pelajaran sekarang serta menyusun sistem yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingan negara Indonesia yang sudah ada dan akan dibangun.
- Memperbaiki serta memperbanyak jumlah sekolah kejuruan, pertanian, perdagangan, dan sebagainya.
- Memperbanyak dan memperbaiki sekolah bagi para pegawai tinggi di lapangan teknik dan administrasi.
Pemikiran-pemikiran pendidikan Tan Malaka ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah paham Marxisme, yang menekankan Pentingnya pendidikan bagi rakyat sebagai alat pembebasan dan kemajuan sosial.
Baca juga: Sejarah Sumpah Pemuda 1928: Tokoh, Isi Teks, dan Maknanya
Buku-Buku Tan Malaka
Tan Malaka memiliki karya berupa buku yang menunjukkan pemikiran kritis dan visit besarnya untuk bangsa Indonesia. Yuk, simak beberapa buku Tan Malaka berikut ini!
1. Madilog Tan Malaka
Madilog adalah karya Tan Malaka yang paling terkenal. Dalam buku ini ia menjelaskan bahwa kemajuan manusia berjalan melalui tiga tahap: logika mistika, filsafat, dan ilmu pengetahuan (sains). Menurutnya, selama Indonesia masih terjebak dalam cara berpikir mistis, bangsa ini akan sulit maju dan merdeka sepenuhnya. Karena itu, Madilog ditulis sebagai jalan keluar agar masyarakat bisa berpikir lebih rasional dan ilmiah.
2. Aksi Massa
Buku Aksi Massa membahas pentingnya gerakan rakyat yang terorganisir dan sadar untuk mencapai kemerdekaan sejati. Tan Malaka menolak cara-cara kudeta atau tindakan kecil yang tidak melibatkan rakyat, karena baginya revolusi harus muncul dari kebutuhan ekonomi dan politik masyarakat banyak. Buku ini menjadi seruan agar rakyat bangkit dari ketertinggalan dan membebaskan diri dari sistem kolonial serta feodal.
3. Autobiografi Tan Malaka: Dari Penjara ke Penjara
Autobiografi ini berisi kisah hidup Tan Malaka yang penuh perjuangan, mulai dari masa penjara di Hindia Belanda dan Filipina hingga perjalanan panjangnya di berbagai negara sebelum kembali ke Indonesia. Buku ini menunjukkan pemikirannya yang radikal dan perannya dalam pergerakan kemerdekaan.
4. Menuju Merdeka 100%
Dalam buku ini, Tan Malaka menekankan bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi juga kemandirian penuh dalam ekonomi, politik, dan mental. Ia menolak dominasi asing dan mendorong rakyat untuk mengelola sumber daya sendiri demi mewujudkan negara yang benar-benar berdaulat.
5. Gerpolek Gerilya Politik Ekonomi
Gerpolek berisi strategi perjuangan kemerdekaan Indonesia secara total, tanpa kompromi dengan Belanda. Tan Malaka menekankan perlawanan rakyat melalui gerilya yang disatukan dengan langkah politik dan ekonomi. Buku ini ditulis saat ia dipenjara di Madiun pada tahun 1948.
6. Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang
Buku ini berisi gagasan tentang perjuangan mencapai kemerdekaan 100% melalui gerakan massa yang radikal dan anti kolonial. Tan Malaka menekankan hubungan erat antara politik dan ekonomi, menolak kesepakatan yang merugikan rakyat, serta menawarkan dasar pembangunan negara yang berdaulat dan lebih egaliter.
—
Itulah kisah Tan Malaka, mulai dari keluarga, latar belakang pendidikan, perjuangan, serta buku-bukunya. Ia merupakan tokoh yang bergerak di bidang pendidikan, pergerakan politik, hingga pemikirannya tentang pendidikan dan pembangunan bangsa. Ia selalu dikenang sebagai tokoh yang berani dan visioner.
Kalau kamu ingin belajar lebih banyak hal-hal seru dan menambah wawasan, yuk belajar bareng di Brain Academy!
Sumber:
Kresnoadi, 2024. Tan Malaka: Bapak Republik yang Jejaknya Sempat Dihapus [daring]. Tautan: https://www.ruangguru.com/blog/tan-malaka
Kompas. 2024. Kenapa Tan Malaka Dieksekusi Mati oleh Tentara? [Daring]. Tautan: https://www.kompas.com/stori/read/2024/04/18/150000779/kenapa-tan-malaka-dieksekusi-mati-oleh-tentara
Kumparan. 2024. Biografi Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia [daring]. Tautan: https://kumparan.com/profil-tokoh/biografi-tan-malaka-bapak-republik-indonesia-23tNS16C9DP/3
Kompas. Sesudah Satu Abad Pemikiran Republik Tan Malaka [daring]. Tautan: https://www.kompas.id/artikel/sesudah-satu-abad-pemikiran-republik-tan-malaka (Diakses 28 November 2025)
![[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online](https://cdn-web.ruangguru.com/landing-pages/assets/cta/e5070f85-673f-4221-bef5-1021e2f4d494.jpeg)

