Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Ternama Indonesia

Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan ternama di Indonesia. Yuk, ketahui perjalanan hidup, karya-karya legendaris, serta penghargaan yang pernah Pram terima!
—
Apakah kamu pernah menonton film Bumi Manusia? Film yang sempat ramai pada tahun 2019 ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Karya tersebut merupakan salah satu novel paling populer milik Pramoedya Ananta Toer. Nggak hanya itu, masih banyak lagi karya beliau yang nggak kalah keren! Yuk, kenalan lebih jauh dengan salah satu sastrawan terbesar Indonesia dan karya-karyanya!
Biografi Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer atau yang akrab disapa Pram lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dengan nama lengkap Pramoedya Ananta Mastoer. Ia merupakan anak sulung dari Mastoer Imam Badjoeri dan Siti Saidah. Pak Toer merupakan Kepala Institut Boedi Oetomo (IBO) dan istrinya berdagang nasi.
Pada Mei 1942, Pramoedya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai juru ketik di kantor berita Domei. Pengalaman ini banyak membentuk cara pandangnya terhadap politik dan dunia sastra.
Saat masa perjuangan kemerdekaan, pada 1946 ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Letnan Dua. Ia ditempatkan di Cikampek. Tapi, pada 1947 ia ditangkap oleh marinir Belanda karena ketahuan membawa dokumen gerakan bawah tanah. Ia kemudian dipenjara di penjara pemerintah Bukit Duri sampai 1949.
Selama dalam penjara, Pramoedya menulis novel pertamanya yang berjudul Perburuan. Karya ini berhasil menenangkan Hadiah Sayembara Balai Pustaka. Karya inilah yang menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai sastrawan.
Pada 1965, Pramoedya kembali ditangkap tanpa pengadilan karena dianggap dekat dengan Lekra, organisasi kebudayaan sayap kiri. Ia diasingkan ke Pulau Buru selama sepuluh tahun, dan di masa inilah ia menulis sebagian besar karya-karyanya, termasuk Tetralogi Pulau Buru ang dikenal luas.
Meski hidup dalam tekanan politik, Pramoedya terus menulis hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada 30 April 2006 di Jakarta pada usia 81 tahun.
Baca juga: Mengenal Raden Saleh, Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia
Pendidikan Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya memulai pendidikan di usia 4 tahun, sekitar tahun 1929 di Sekolah Dasar Institut Boedi Oetomo. Sayangnya pada 1932, IBO terdampak Wilde School Ordonantie yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda. IBO dianggap sebagai sekolah ilegal dan ijazahnya tidak diakui pemerintah.
Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Radio Vakschool di Surabaya pada tahun 1940-1941. Namun, pecahnya Perang Pasifik pada akhir 1941 dan pendudukan Jepang pada 1942 membuat Pram tidak pernah mendapat ijazah resmi dari sekolah ini.
Saat bekerja di Jakarta, Pramoedya tetap melanjutkan pendidikannya. Ia belajar di Taman Siswa pada 1942-1943, lalu mengikuti kursus stenografi pada 1944-1945, dan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta, ia mengambil bidang filsafat, sosiologi, dan sejarah.
Baca juga: Perbedaan Buku Fiksi & Non-fiksi dari Ciri, Struktur, serta Contoh
Karya-Karya Pramoedya Ananta Toer
Pram mulai menulis sejak tahun 1947 hingga 2014. Selama kariernya, ia menerbitkan sekitar 40 karya yang mencakup cerpen, novel, memoar, hingga buku nonfiksi. Berikut beberapa karya Pramoedya Ananta Toer yang paling dikenal:
1. Tetralogi Pulau Buru
Tetralogi Pramoedya Ananta Toer ini lahir saat Pram diasingkan di Pulau Buru. Awalnya, ia menceritakan kisahnya secara lisan ke sesama tahanan karena dilarang menulis.

Buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. (Sumber: goodreads.com)
Tetralogi Pulau Buru ini berisi empat novel sejarah yang menceritakan kebangkitan nasional melalui tokoh utama Minke, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
2. Arok Dedes
Novel Arok Dedes mengangkat kisah perebutan kekuasaan di Tumapel pada masa Jawa Kuno. Ceritanya dimulai dari Dedes, putri cantik seorang brahmana yang dipaksa menjadi istri Tunggul Ametung, penguasa Tumapel yang Jahat.
Pertemuan Dedes dan Arok menjadi titik awal perubahan. Arok jatuh cinta pada Dedes dan melihat peluang untuk menggulingkan Tunggul Ametung lalu merebut Tumapel. Novel ini menggambarkan ambisi, cinta segitiga, penindasan feodal, dan ketidakadilan sosial.
3. Gadis Pantai
Novel Pramoedya Ananta Toer selanjutnya adalah Gadis Pantai yang mengisahkan seorang gadis berusia 14 tahun dari keluarga nelayan miskin yang dipaksa menikah dengan seorang bangsawan (Bendono) karena hutang keluarganya. Novel ini menggambarkan kerasnya feodalisme Jawa, pernikahan dini, kesenjangan sosial, dan nasib para perempuan di era kolonial.
4. Subuh
Subuh merupakan kumpulan cerpen, bukan cerita tunggal. Cerpen ini menceritakan kehidupan getir rakyat kecil di Indonesia setelah kemerdekaan. Di dalamnya terdapat cerita-cerita seperti Blora dan Jalan Kurantil 28 yang mengangkat realitas sosial pada masa itu.
5. Panggil Aku Kartini Saja
Ini merupakan karya non-fiksi Pram yang menceritakan kisah hidup R.A Kartini secara lebih mendalam. Pram menyoroti perjuangan Kartini melawan feodalisme Jawa, kolonialisme Belanda, serta pergolakan batin yang ia alami terkait pingitan, poligami, dan keinginannya memperjuangkan rakyat kecil. Karya ini pertama kali terbit tahun 1962.

Buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. (Sumber: goodreads.com)
Selain 5 karya populer di atas, Pramoedya juga menuliskan karya lain, seperti Cerita dari Blora, Midah Simanis Bergigi Emas, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Larasati, Jejak Langkah, Sang Pemula, House of Glass, Nyanyi Seorang Bisu, dan Jalan Raya Pos.
Baca juga: Biografi R.A Kartini, Wanita Tangguh Pejuang Emansipasi
Penghargaan Pramoedya Ananta Toer
Berikut penghargaan yang dimenangkan Pramoedya Ananta Toer, baik di kancah internasional maupun nasional:
- Penghargaan Ramon Magsaysay (1995) – Untuk bidang jurnalistik, sastra, dan seni komunikasi kreatif.
- Penghargaan Freedom to Write dari PEN America Center (1998) – Atas perjuangannya melawan sensor dan penindasan.
- Penghargaan Wertheim Award (Belanda, 1992) – Untuk kontribusi dalam sastra dan perlawanan terhadap penindasan.
- Penghargaan UNESCO Madanjeet Singh (1996) – Untuk upaya mempromosikan toleransi dan perdamaian melalui karya sastra.
- Doctor Honoris Causa by University of Michigan (1999) – Atas kontribusi dalam sastra dunia.
- Penghargaan The Norwegian Author’s Union (2004) – Untuk kebebasan berekspresi.
- Hadiah Sastra BMKN (1951) – Untuk cerpen “Perburuan”.
- Hadiah Sastra Nasional (Badan Musyawarah Kebudayaan Indonesia, 1960) – Untuk novel “Keluarga Gerilya”.
- Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa Indonesia (1980-an).
- Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1999).
Warisan dan Inspirasi bagi Generasi Muda
Dari perjalanan hidup Pramoedya, ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil, yaitu:
- Menulis sebagai bentuk perlawanan dan pencatatan sejarah. Bahkan dalam kondisi serba terbatas dan penuh tekanan, Pram tidak berhenti menulis.
- Pentingnya pendidikan dan literasi bagi kemajuan bangsa. Melalui karya-karyanya, Pram mendorong masyarakat untuk memahami sejarah dan realitas sosial.
- Keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Meski menghadapi berbagai hambatan, ia tetap teguh memperjuangkan suara keadilan melalui tulisannya.
Hingga saat ini, Pramoedya dikenal sebagai simbol perlawanan, intelektualitas, dan kebebasan berekspresi. Melalui karya-karyanya, kita belajar mengenai sejarah dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan. mengetahui sejarah agar tidak terlupakan.
—
Itulah biografi Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan dengan pengetahuan luas, keberanian, dan semangat belajar yang tinggi. Dengan semangat seperti Pram, kamu juga bisa menjadi penulis, sastrawan, atau apapun yang kamu cita-citakan. Kamu bisa belajar berbagai ilmu pengetahuan dan fakta seru di Brain Academy!
Sumber:
SeabadPram. Linimasa Pramoedya Ananta Toer [daring]. Tautan: https://seabadpram.com/linimasa
Deepublish. 2020. Daftar 39 Buku Pramoedya Ananta Toer [daring]. Tautan: https://deepublishstore.com/blog/buku-pramoedya-ananta-toer/
Wiguna, Ringgana W. 2025. Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Legendaries Indonesia [daring]. Tautan: https://www.ruangguru.com/blog/pramoedya-ananta-toer
Sumber gambar:
Buku Bumi Manusia: https://www.goodreads.com/book/show/1398034.Bumi_Manusia
Buku Panggil Aku Kartini Saja: https://www.goodreads.com/book/show/735250.Panggil_Aku_Kartini_Saja


