Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita Tangguh dari Aceh

Cut Nyak Dien merupakan pahlawan perempuan yang berasal dari Aceh. Yuk, ketahui latar belakang Cut Nyak Dien dan kisah perjuangannya melawan penjajah!
—
Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal karena keberanian dan semangat juangnya dalam melawan Belanda. Cut Nyak Dien berasal dari Aceh. Ia adalah perempuan yang memiliki peran besar dalam perjuangan Aceh melawan penjajahan.
Sejak muda, Cut Nyak Dien sudah terlibat dalam perjuangan melawan Belanda. Bersama suaminya, Teuku Umar, ia terus melawan dan berjuang meski menghadapi berbagai kesulitan. Penasaran seperti apa kisah dan peranan Cut Nyak Dien dalam melawan Belanda? Simak biografinya berikut ini!
Biografi Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien lahir di Aceh Besar pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim (uleebalang adalah bangsawan sekaligus pemimpin adat). Sementara itu, ibunya merupakan putri dari uleebalang Lampageu. Cut Nyak Dien merupakan keluarga bangsawan.

Gambar Pahlawan Cut Nyak Dien. (Sumber: surau.co)
Saat kecil, Cut Nyak Dien dikenal sebagai anak yang cantik. Banyak laki-laki yang menyukai dan berusaha melamarnya. Lalu, pada usia 12 tahun, Cut Nyak Dien dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Suami Cut Nyak Dien ini merupakan pemuda dengan wawasan yang luas dan taat agama. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putra. Namun, pada 29 Juni 1878, Teuku Ibrahim gugur dalam perang melawan Belanda. Hal ini membuat Cut Nyak Dien sangat marah dan ingin melawan Belanda.
Tidak lama setelah kematian Teuku Ibrahim, pada 1880 Cut Nyak Dien dilamar oleh Teuku Umar. Teuku Umar juga salah satu tokoh yang melawan Belanda.
Awalnya, Cut Nyak Dien menolak lamaran tersebut. Namun, karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut dalam medan perang, akhirnya Cut Nyak Dien menerimanya. Di pernikahan ini, mereka memiliki seorang putri yang diberi nama Cut Gambang.
Baca juga: Biografi Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia
Pendidikan Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien tidak menempuh pendidikan formal. Tapi, sejak kecil ia mendapatkan banyak pengetahuan dan wawasan. Sebagai anak dari keluarga bangsawan, ia dididik dengan baik, terutama dalam ilmu agama, budaya, dan tradisi.
Pendidikan agama ia dapatkan dari kedua orang tua dan guru agama di sekitar rumahnya. Cut Nyak Dien belajar membaca dan menulis huruf Arab, serta mendalami agama di masjid.
Selain belajar agama, Cut Nyak Dien juga belajar ilmu rumah tangga, seperti memasak, melayani suami, dan mengurus kehidupan sehari-hari. Ia belajar semua itu dari ibunya.
Baca juga: Biografi R.A Kartini, Wanita Tangguh Pejuang Emansipasi
Perjuangan Cut Nyak Dien
Setelah menikah dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dien juga turut berjuang melawan Belanda. Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda terus berlanjut dengan cara gerilya. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar mulai mendekati Belanda. Ia bahkan mempererat hubungan dengan Belanda untuk mempelajari taktik dan kekuatan mereka.
Pada 30 September 1893, Teuku Umar dan 250 pasukannya datang ke Kutaraja (Banda Aceh) dan menyatakan menyerah kepada Belanda. Belanda sangat senang karena menganggap musuh berbahaya mereka akhirnya berhasil ditaklukkan. Teuku Umar bahkan diberi gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan diangkat menjadi pasukan Belanda. Sebenarnya, ini adalah rencana untuk menipu Belanda. Saat itu, banyak yang mengira Teuku Umar berkhianat, bahkan Cut Nyak Meutia sempat memahari Cut Nyak Dien karena hal itu.
Teuku Umar kemudian berpura-pura akan menyerang pasukan Aceh. Padahal sebenarnya ia membawa pasukan, senjata, dan amunisi Belanda untuk pihak Aceh. Peristiwa ini dikenal sebagai Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).
Belanda sangat marah dan melakukan operasi besar untuk menangkap Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Tapi, pasukan Aceh kini memiliki persenjataan dari Belanda sehingga perlawanan mereka menjadi lebih kuat. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien berhasil menekan Belanda dan menyerang beberapa daerah seperti Banda Aceh dan Meulaboh.
Belanda kemudian mengirim pasukan khusus untuk menumpas perlawanan Aceh. Akhirnya, Belanda mengetahui rencana serangan Teuku Umar ke Meulaboh pada 11 Februari 1899. Dalam pertempuran ini, Teuku Umar gugur karena terkena tembakan.
Setelah wafatnya Teuku Umar, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perjuangan memimpin pasukan kecil di pedalaman Meulaboh. Tapi, kondisi mereka semakin sulit. Pasukan semakin sedikit, persediaan makan terbatas, dan Cut Nyak Dien juga sudah semakin tua.
Karena merasa iba dengan keadaan itu, salah satu panglima perang Cut Nyak Dien yang bernama Pang Laot Ali memberitahu lokasi markas mereka di Beutong Le Sageu kepada Belanda. Kemudian, Belanda menyerang markas tersebut. Pasukan Aceh berusaha melawan sekuat tenaga, Cut Nyak Dien juga berusaha melawan dengan rencong, tapi akhirnya ia tetap tertangkap.
Baca juga: Achmad Soebardjo, Perumus Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Masa Tua dan Wafatnya Cut Nyak Dien
Setelah ditangkap oleh Belanda, Cut Nyak Dien dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia sempat dirawat hingga penyakit rabun dan encoknya membaik. Tapi, pada 1906 Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang bersama beberapa tahanan dari Aceh. Ia dibuang karena Belanda khawatir kehadirannya akan membangkitkan semangat perlawanan rakyat Aceh.

Foto Makam Cut Nyak Dien. (Sumber: commons.wikimedia.org)
Selama di Sumedang, Belanda melarang orang-orang memberitahukan identitas tahanan. Karena itu, hingga akhir hidupnya, identitas Cut Nyak Dien tidak diketahui warga Sumedang.
Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dien meninggal karena usia yang sudah tua. Makamnya baru ditemukan pada 1959 di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Sumedang Selatan. Penemuan ini dilakukan karena permintaan Gubernur Aceh saat itu, dengan bantuan data yang ditemukan di Belanda.
Atas jasa-jasanya, Cut Nyak Dien diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI No.106 tahun 1964. Ia juga pernah diabadikan dalam uang kertas Rp10.000 yang diterbitkan pada 1998.
—
Nah, itulah sejarah Cut Nyak Dien mulai dari masa kecil, pernikahan, perjuangan melawan Belanda, hingga diasingkan dan wafat. Cut Nyak Dien dikenal sebagai wanita yang kuat dan pemberani. Ia tidak gentar melawan Belanda. Bersama Teuku Umar, mereka berjuang sampai akhir.
Perjuangan Cut Nyak Dien juga menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki keberanian dan peran penting dalam melawan ketidakadilan dan penjajahan. Baik laki-laki maupun perempuan, haknya sama untuk memperjuangkan hal yang benar.
Seru ya belajar tentang cerita Cut Nyak Dien? Kalau kamu mau belajar hal seru atau menarik lainnya, yuk belajar di Brain Academy!
Sumber:
Institut Harkat Negeri. Cut Nyak Dhien, Ksatria Wanita dari Tanah Rencong [daring]. Tautan: https://institutharkatnegeri.org/pahlawan/cut-nyak-dhien-ksatria-wanita-dari-tanah-rencong/
Gramedia. Biografi Cut Nyak Dien: Pahlawan Perempuan yang Ditakuti Belanda [daring]. Tautan: https://www.gramedia.com/literasi/biografi-cut-nyak-dien/
Vredeburg. 2021. Cut Nyak Dien, Tunaikan Sumpah Hancurkan Penjajah [daring]. Tautan: https://vredeburg.id/id/post/cut-nyak-dien-tunaikan-sumpah-hancurkan-penjajah (Diakses 23 Februari 2026)
Sumber foto:
https://www.surau.co/2025/07/22573/cinta-jihad-dan-perjuangan-kisah-heroik-cut-nyak-dien/
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/77/Makam_Cut_Nyak_Dien_5.jpg/640px-Makam_Cut_Nyak_Dien_5.jpg


