Mengenal Academic Burnout: Lelah Psikis dalam Belajar

Salsabila Nanda Jun 11, 2021 • 5 min read


Brainies_Bertanya_-_Mengenal_Academic_Burnout-01

Apakah kamu terus menerus merasa lelah karena aktivitas sekolah? Hati-hati, bisa jadi kamu terkena academic burnout. Kenali penyebab dan gejalanya yuk.

---

Hai, Brainies! Memasuki bulan Juni kita akan dihadapkan oleh Penilaian Akhir Tahun (PAT) serta Ujian Mandiri beberapa perguruan tinggi. Sudah sampai mana persiapanmu? Masih semangat atau mulai capek? 

BTW, kamu tahu nggak sih kalau kita bisa mengalami lelah psikis akibat belajar. Hal ini dikenal sebagai academic burnout. Keren ya namanya hihi. Meski begitu, kondisi tersebut dapat mengakibatkan penurunan motivasi, mudah marah, bahkan kehilangan minat dan apatis terhadap keinginan bersekolah. Waduh, terus gimana cara ngilanginnya?

Mengenal Academic Burnout

Istilah burnout pertama kali dikemukakan oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Sindrom ini ia temukan sebagai hasil dari pengamatannya terhadap beberapa pekerja di sektor pelayanan tatap muka. Kebanyakan dari mereka mengalami stres akibat konflik dan tekanan di kantor.

Beberapa tahun kemudian, konsep burnout juga diteliti di sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa juga dapat merasakan stres seperti pekerja. Academic burnout atau kelelahan akademik merupakan reaksi emosional, fisik, dan mental yang negatif terhadap studi yang berkepanjangan.

Penyebab dan Ciri-ciri Academic Burnout

Academic burnout berbeda dengan stres pada umumnya. Bukan pula kelelahan yang terjadi akibat belajar semalaman. Academic burnout merupakan puncak dari segala rasa capek yang terlalu lama mengendap di tubuh dan pikiran kamu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi:

  • Aktivitas yang terlalu padat

Bangun pagi sekolah online, sorenya bimbel, malamnya ngerjain latihan soal. Akhir pekan dipakai buat les lagi. Energi dan pikiranmu pun lama-lama terkuras. Akhirnya, nggak ada waktu buat santai.

  • Persaingan dan tingkat kepercayaan diri

Kadang kita suka insecure alias nggak pede dengan kemampuan sendiri. Misalnya, takut gagal masuk PTN karena banyak saingan. Hal ini membuat kamu terus menerus belajar kapanpun dan dimanapun. Coba deh pakai teknik Feynman biar lebih cepat paham dan menghemat waktu belajar.

  • Tugas yang terlalu banyak

Semenjak pandemi, PR semakin menumpuk. Belum lagi jadwal try out yang datang tiap minggu. Kamu harus membagi waktu antara belajar, mengerjakan PR, serta membantu orangtua di rumah. Banyaknya tanggung jawab yang dipikul bisa jadi sumber burnout loh, Brainies.

Tenang aja, Academic burnout tidak dikategorikan sebagai gangguan mental. Akan tetapi, penderitanya dapat mengalami kelelahan fisik dan emosional. Jadi sering capek, marah-marah, sampai berdampak terhadap penurunan prestasi akademik. Berikut ciri-cirinya!

Gejala Academic Burnout

Buat kamu yang sedang mengalami burnout (atau pengen jaga-jaga biar nggak kena) deretan tips di bawah ini bisa membantu kamu untuk mengatasinya!

Tips Mengatasi Academic Burnout

Pertama, kamu harus kasih batasan. Bahasa kerennya boundaries. Pisahkan waktu buat belajar, main, dan mengerjakan tugas rumah. Misalnya, jam 8 sampai 2 siang untuk sekolah. Jam 3 sampai 5 sore bantu Mama beres-beres. Malamnya dipakai untuk istirahat dan nonton series.

Atau, kalau kamu sibuk banget pas weekday, jadwal santai bisa dipindahkan ke hari Sabtu dan Minggu. Dengan catatan nggak boleh nyentuh buku sekalipun. Otak kamu juga butuh refreshing buat balikin energi yang habis terpakai.

Cara Mengatasi Academic Burnout

Kedua, komunikasi dengan guru dan orangtua. Yah, memang sulit sih, tapi nggak ada salahnya dicoba. Kamu bisa diskusi dengan teman yang mengalami hal serupa, lalu menyampaikannya lewat kalimat yang sopan ke Bapak dan Ibu Guru. 

Kalau kamu lagi sibuk dengan persiapan ujian mandiri, kamu bisa bilang ke Mama dan Papa bahwa kamu butuh ruang untuk berkonsentrasi. Bukannya nggak mau bantuin beres-beres, tapi prioritasnya sedang berbeda. 

Ketiga, journaling alias menuangkan seluruh pikiran dan perasaan kamu ke dalam bentuk tulisan. Seringkali kita nggak punya kesempatan untuk curhat karena takut membebani orang lain. Melalui journaling, kamu bisa bercerita tentang hal-hal yang mengganggu pikiran. Hal ini membantu melepaskan stres dan menurunkan tekanan darah tinggi.

Baca Juga: Benarkah Journaling Baik untuk Kesehatan Mental?

Keempat, take a break! Istirahat selama apapun yang kamu mau. Kalau kamu ngerasa udah capek dan pengen berhenti sebentar, gapapa kok. Cari waktu buat jalan-jalan, belanja, ketemu pacar, kulineran, pokoknya yang bikin kamu semangat dan seneng lagi.

---

Semoga artikel ini bermanfaat buat kamu yang lagi berjuang meraih cita-cita. Belajar boleh, pusing jangan. Kalau pengen ngerasain suasana belajar yang asyik, Brain Academy Online tempatnya. Ada live teaching gratis loh!

Referensi:

Academic Burnout [Daring]. Tautan: https://lib.unnes.ac.id/32751/1/1301414112.pdf

https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/598349

https://www.uopeople.edu/blog/what-is-academic-burnout/

https://collegeinfogeek.com/student-burnout/ (diakses 06 Juni 2021)

Profile

Salsabila Nanda

Anak broadcasting yang cita-citanya mau jadi PR, tapi malah jadi content writer. Siang kerja, malam nonton teen drama. Terima kasih sudah baca tulisanku!

Beri Komentar