Apa Itu Perubahan Iklim? Penyebab, Dampak & Cara Mengatasi

perubahan iklim

Perubahan iklim membawa banyak dampak negatif bagi bumi dan kehidupan sehari-hari. Yuk, cari tahu penyebab dan bagaimana cara mengatasinya!

Apakah kamu menyadari kalau musim di Indonesia akhir-akhir ini sering nggak menentu? Biasanya, musim hujan terjadi dari Oktober sampai Maret, lalu berganti jadi musim kemarau pada April-September. Tapi akhir-akhir ini, hujan masih sering turun meskipun sudah musim kemarau. Bahkan, di beberapa daerah hujan deras sampai menyebabkan banjir. 

Ini merupakan salah satu tanda perubahan iklim. Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim? Apa penyebab dan dampaknya bagi kehidupan, serta bagaimana cara mengatasinya? Yuk, kita bahas!

 

Pengertian Perubahan Iklim 

Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada suhu dan pola cuaca di bumi. Secara alami, perubahan ini bisa terjadi karena faktor alam, seperti siklus matahari. Tapi, sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia menjadi penyebab utamanya, terutama karena pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.

contoh dampak perubahan iklim

Contoh dampak perubahan iklim, tanah yang sangat kering akibat kekeringan panjang dan suhu ekstrem. (Sumber: freepik.com)

Pembakaran ini menghasilkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana. Gas-gas ini nemumpuk di atmosfer dan memerangkap panas dari matahari, sehingga suhu di bumi semakin panas.  

Beberapa contoh perubahan iklim yang bisa kita rasakan antara lain musim yang tidak menentu, suhu semakin panas, curah hujan ekstrem, dan kekeringan panjang. 

Baca juga: Sumber Daya Alam, Jenis, Contoh, dan Cara Melestarikannya

 

Penyebab Perubahan Iklim 

Berikut beberapa faktor penyebab perubahan iklim:

  • Pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, solar, dan batu bara untuk kendaraan yang menghasilkan CO₂.
  • Efek rumah kaca terjadi karena gas-gas seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida menumpuk di atmosfer dan memerangkap panas matahari.
  • Aktivitas industri dan pabrik juga menyumbang emisi gas rumah kaca dari proses produksinya.
  • Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, peternakan, dan pemukiman mengurangi kemampuan alam menyerap CO₂.
  • Sampah organik yang membusuk di TPA dan menghasilkan gas metana. 
  • Penggunaan Chlorofluorocarbon (CFC), zat kimia dari AC, kulkas, dan aerosol yang bisa merusak lapisan ozon.
  • Pertanian dan peternakan menghasilkan gas rumah kaca dari kotoran ternak dan pupuk kimia. 

 

Baca juga: Lapisan Atmosfer: Urutan, Karakteristik dan Fungsinya

 

Dampak Perubahan Iklim 

Ternyata, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor perubahan iklim yang paling besar. Lalu, apa saja efek perubahan iklim ini? Yuk, simak!

1. Suhu Bumi Semakin Panas 

Perubahan iklim membuat suhu rata-rata bumi terus meningkat, sehingga bumi terasa semakin panas dari waktu ke waktu. Apakah di daerahmu juga terasa sangat panas akhir-akhir ini? 

Sejak tahun 1980-an, setiap dekade selalu lebih panas dari dekade sebelumnya. Bahkan, tercatat periode 2011-2020 adalah dekade paling panas. Hampir semua daratan di dunia mengalami hari panas dan gelombang panas.

 

2. Meningkatnya Suhu dan Permukaan Air Laut

Laut menyerap sekitar 90% panas dari pemanasan global, akibatnya suhu air laut ikut meningkat. Saat suhu air laut meningkat, volumenya akan membesar karena air memuai. Hal ini membuat permukaan air laut semakin naik. 

Selain itu, mencairnya es di kutub juga menambah volume air laut. Akibatnya, wilayah pesisir seperti Jakarta dan Manila terancam tenggelam. Kamu mungkin pernah mendengar berita tentang permukaan laut di Jakarta yang lebih tinggi dari daratannya. Selain karena penurunan tanah dan pembangunan infrastruktur, kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim juga menjadi penyebabnya.

 

3. Semakin Banyak Kekeringan 

Dampak selanjutnya adalah, air bersih yang semakin sulit didapat. Suhu bumi yang semakin panas membuat air lebih cepat menguap dan memperparah kondisi kekeringan di daerah yang sudah mengalami kesulitan air. 

Kekeringan juga bisa memengaruhi lahan pertanian, menyebabkan gagal panen, serta membuat sungai, hutan, dan danau menjadi kering.

 

4. Hilangnya Spesies 

Perubahan iklim membuat banyak hewan dan tumbuhan sulit bertahan hidup. Menurut PBB, spesies punah 1.000 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. 

Perubahan suhu, kebakaran hutan, badai, dan berbagai penyakit membuat makhluk hidup kehilangan tempat tinggal dan makanan. Beberapa hewan mungkin bisa berpindah tempat untuk beradaptasi, tapi banyak juga yang tidak bisa bertahan dan akhirnya punah. 

 

5. Risiko Kesehatan

Perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan, seperti penyakit pernapasan akibat polusi udara, risiko kanker kulit karena panas ekstrem, dan penyakit tropis seperti demam berdarah dan malaria. 

 

6. Kemiskinan dan Perpindahan Penduduk

Perubahan iklim dapat menyebabkan banjir, badai, kekeringan, dan panas ekstrem yang merusak rumah, lahan pertanian, dan mata pencaharian. Akibatnya, orang terpaksa pindah ke tempat lain, baik ke kota atau ke negara lain.

 

7. Kelangkaan Pangan

Perubahan iklim bisa mengganggu ketersediaan pangan karena cuaca tak menentu, tanah kering, dan rusaknya laut membuat hasil pertanian, perikanan, dan peternakan menurun.

Baca juga: Cuaca dan Iklim: Pengertian, Perbedaan dan Unsur-Unsurnya

 

Cara Mengatasi Perubahan Iklim 

Ternyata, dampak dari perubahan iklim global sangat banyak dan serius, ya. Tapi, kabar baiknya, kita semua bisa ikut berpartisipasi dalam mengatasinya. Ini beberapa cara yang bisa kita lakukan!

1. Hemat Energi di Rumah

Menghemat listrik adalah salah satu cara paling mudah yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Contohnya, mematikan lampu dan alat elektronik saat nggak digunakan, memanfaatkan cahaya alami di siang hari, dan menggunakan peralatan rumah tangga yang hemat energi. 

Listrik yang kita gunakan sehari-hari, umumnya dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara dan minyak. Proses ini melepaskan banyak CO₂ ke udara, yang menjadi penyebab pemanasan global. Jadi, saat kita menghemat listrik, kita sedang mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

2. Jalan Kaki dan Naik Transum 

Kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Kita bisa membantu menguranginya dengan berjalan kaki atau bersepeda jika jaraknya dekat. Untuk jarak jauh, gunakan transportasi umum seperti bus, angkot, atau kereta.

 

3. Gerakan Menanam Pohon 

Pohon menyerap gas karbondioksida dari udara dan melepaskan oksigen yang kita butuhkan untuk bernapas. Oleh karena itu, menanam pohon menjadi salah satu cara untuk mengatasi perubahan iklim. 

Kita bisa menanam pohon di halaman rumah, di lingkungan sekitar, atau mengikuti kegiatan menanam pohon di taman kota dan hutan. Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin bersih udara yang kita hirup dan semakin rendah emisi karbon di atmosfer.

 

4. Hemat Penggunaan Air

Menggunakan air dengan bijak menjaga ketersediaan air bersih tetap ada. Caranya bisa dimulai dari hal kecil, seperti menutup keran saat tidak digunakan, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan air secukupnya. Selain itu, kita juga bisa menggunakan air bekas cucian sayur atau air hujan untuk menyiram tanaman. 

 

5. Lakukan 5R (Rethink, Reduce, Reuse, Recycle dan Replace)

5R membantu kita mengelola sampah dan limbah secara bijak. Apa itu 5R? Ini penjelasannya! 

  • Rethink artinya mengubah pola pikir dan kebiasaan agar lebih ramah lingkungan. 
  • Reduce artinya mengurangi penggunaan barang yang tidak diperlukan. 
  • Reuse adalah menggunakan kembali barang-barang yang masih layak dipakai. 
  • Recycle berarti mendaur ulang barang-barang yang tidak langsung dibuang ke tempat sampah.
  • Replace artinya mengganti barang-barang yang sulit terurai dengan barang-barang yang lebih ramah lingkungan.

Dengan menerapkan 5R, kita dapat mengurangi jumlah sampah yang akan berakhir di tempat pembuangan akhir dan mencegah perubahan iklim di Indonesia yang lebih parah.

 

6. Gunakan Produk Ramah Lingkungan

Menggunakan produk ramah lingkungan bisa dimulai dengan tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai. Kita bisa menggunakan tas belanja yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali. Selain itu, biasakan membawa botol minum sendiri, jadi nggak perlu selalu membeli air minum dalam kemasan plastik.

Membeli produk lokal yang nggak perlu dikirim dari jauh serta menggunakan alat makan sendiri saat beli makanan di luar juga merupakan contoh lain dari gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. 

 

7. Mengurangi Pemborosan Makanan 

Tahukah kamu, Indonesia adalah negara penghasil sampah makanan rumah tangga terbanyak se-Asia Tenggara? Jumlahnya mencapai 14,73 juta ton per tahun! Banyak banget, kan? Makanan yang dibuang dapat menghasilkan gas metana saat membusuk, yang juga berkontribusi pada pemanasan global.

Terus gimana? Kita bisa mengurangi masalah ini dengan membuat perencanaan makanan yang akan dimasak (meal prep), membeli bahan makanan secukupnya, menyimpan makanan dengan baik, dan mengolah sisa makanan biar nggak terbuang.

Nah, itulah pembahasan tentang perubahan iklim, mulai dari apa itu perubahan iklim, penyebab, dampak, hingga solusi perubahan iklim. Semoga setelah membaca ini, kita jadi lebih sadar dan tergerak untuk ikut menjaga lingkungan, sekecil apa pun tindakan yang bisa kita lakukan.

Seru, kan belajar tetang perubahan iklim? Kalau kamu tertarik belajar materi menarik lainnya, yuk belajar bareng di Brain Academy!

Brain Academy Center

Sumber: 

PBB Indonesia. Apa Itu Perubahan Iklim? [daring]. Tautan: https://indonesia.un.org/id/172909-apa-itu-perubahan-iklim

Tysara, Laudia. 2024. Cara Mencegah Perubahan Iklim, Dimulai dari 15 Kebiasaan Kecil Ini! [daring]. Tautan: https://www.liputan6.com/hot/read/5614685/cara-mencegah-perubahan-iklim-dimulai-dari-15-kebiasaan-kecil-ini

DLHK Kab Mamuju. 2023. Apa Itu Perubahan Iklim? Penyebab Dampak Perubahan Iklim [daring]. Tautan: https://dlhk.mamujukab.go.id/berita-5193-apa-itu-perubahan-iklim-penyebab-dampak-perubahan-iklim.html 

Gambar Perubahan Iklim. Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/trees-grown-dry-cracked-dry-soil-dry-season-global-warming_5469304.htm (Diakses 16 Mei 2025)

Devi Lianovanda