{"id":6718,"date":"2026-06-22T13:00:27","date_gmt":"2026-06-22T06:00:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?p=6718"},"modified":"2026-06-22T12:35:36","modified_gmt":"2026-06-22T05:35:36","slug":"puisi-kontemporer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer","title":{"rendered":"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png\" alt=\"puisi kontemporer\" width=\"820\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!<\/span><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam karya sastra, selain puisi lama dan puisi baru, ada juga puisi kontemporer yang punya ciri khas berbeda dari puisi pada umumnya. Kenapa bisa begitu? Karena puisi jenis ini sudah tidak lagi terikat aturan baku seperti rima, jumlah baris, dan pola bait tertentu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi kontemporer tercipta dari kebebasan berekspresi penyairnya. Alih-alih mengikuti aturan lama, para penyair justru lebih mementingkan bagaimana pesan dan rasa bisa sampai ke pembaca. Bahkan, tak jarang penyair bereksperimen dengan bentuk visual dan tata letak yang terlihat tidak biasa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, seperti apa contoh puisi kontemporer itu? Yuk, langsung saja simak beberapa contohnya di bawah ini!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Apa itu Puisi Kontemporer?<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengertian<\/span> <strong>puisi kontemporer<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah <\/span><strong>jenis puisi yang dibuat berdasarkan masa kini atau mengikuti arus perkembangan zaman<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>.<\/strong> Berbeda dengan puisi lama seperti pantun yang terikat aturan jumlah baris dan rima, puisi kontemporer justru bersifat sangat bebas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyairnya lebih suka bereksperimen, entah itu memainkan bentuk tulisan\/tipografi, bunyi yang mirip mantra, dan pakai kata-kata yang gak ada di kamus. Intinya, puisi ini gak mau terikat dengan tradisi lama dan lebih fokus pada kebebasan ekspresi si penulis.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sejarah sastra Indonesia, kemunculan puisi kontemporer Sutardji Calzoum Bachri menjadi salah satu penanda meledaknya fenomena estetika ini sekitar tahun 1970-an. Perkembangannya dipelopori juga oleh tokoh-tokoh revolusioner seperti Remy Sylado, Iwan Simatupang, Danarto, dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi\">Pengertian Puisi, Ciri, Struktur, Unsur dan Contohnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Ciri-Ciri Puisi Kontemporer<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi kontemporer memiliki tampilan dan gaya yang berbeda dari puisi pada umumnya. Aturannya lebih fleksibel dan kadang terasa seenaknya, tapi justru di situlah letak seninya. Berikut beberapa ciri-cirinya:<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Tipografi yang Tidak Konvensional<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bentuk tulisannya gak melulu baris-baris rata kiri, tapi ada yang membentuk zig zag, melingkar, dan gambar. Jadi, sebelum dibaca pun, puisinya sudah berbicara lewat tampilannya. Bentuk visualnya ikut menyampaikan makna dan suasana yang ingin disampaikan penyair.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Musikalisasi Kata<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam puisi kontemporer, bunyi sering kali lebih diutamakan daripada arti harfiahnya. Ada pengulangan kata, permainan ritme, dan susunan bunyi yang terdengar seperti mantra. Kadang saat dibaca keras-keras, puisinya terasa seperti pertunjukan suara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Bahasanya Fleksibel dan Campuran<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi ini sering memakai bahasa sehari-hari, bahasa daerah, dan bahasa asing. Penyair bebas memilih kata yang paling pas buat menyampaikan perasaan dan gagasannya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Berisi Simbolik &amp; Kritik<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Isi puisi kontemporer seringkali berupa kritik sosial yang tajam dan ungkapan batin yang sangat personal. Penyair menggunakan bahasa sebagai alat refleksi, kritik, dan ekspresi terhadap realitas zamannya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Jenis-Jenis Puisi Kontemporer<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi kontemporer punya banyak bentuk karena sifatnya memang bebas dan eksperimental. Berikut beberapa jenis puisi kontemporer yang sering dibahas:<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Puisi Tipografi<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi tipografi adalah jenis puisi kontemporer yang memiliki pandangan bahwa bentuk atau wujud fisik puisi, mampu memperkuat ekspresi dari puisi itu sendiri. Dalam puisi ini, kata-kata bisa disusun membentuk pola tertentu, menyebar, dan menyerupai gambar, misalnya zigzag atau melingkar. Jadi, pembaca bisa menikmati isi puisi dan tampilan visualnya sekaligus.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Puisi Mantra (Supra Kata)<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi mantra atau supra kata adalah jenis puisi kontemporer yang cenderung memutarbalikkan kata-kata konvensional, serta menemukan kata-kata baru yang belum pernah ada sebelumnya. Ciri khasnya ada pada pengulangan kata, irama yang kuat, dan bunyi yang terasa magis. Tujuannya bukan buat dimengerti maknanya, tapi untuk menciptakan efek magis dan suasana tertentu lewat bunyi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Puisi Mbeling<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis puisi yang satu ini diambil dari bahasa Jawa, yaitu <\/span><em><strong>\u201cmbeling\u201d<\/strong><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">, artinya nakal atau sukar diatur. Puisi mbeling adalah jenis puisi kontemporer yang tidak punya aturan tertentu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi ini biasanya pakai bahasa yang blak-blakan, kasar, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><em>nyeleneh<\/em> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">buat menyindir atau mengkritik kondisi sosial dan politik. Isinya cenderung menghadirkan humor dan kelakar melalui lagu sederhana.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Puisi Konkret<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir mirip dengan tipografi, tapi kalau puisi konkret lebih menekankan pada bentuk visual yang nyata. Puisi konkret adalah jenis puisi kontemporer yang cara penulisannya menggunakan permainan huruf, kata, dan bentuk garis seperti pola atau lambang tertentu. Kamu gak perlu baca katanya satu-satu, tapi cukup lihat bentuk keseluruhannya saja kamu sudah bisa paham apa maksud si penulis.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>5. Puisi Tanpa Kata<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi tanpa kata adalah salah satu bentuk puisi kontemporer yang tidak mengandalkan rangkaian diksi seperti puisi pada umumnya. Alih-alih menggunakan kata, jenis puisi ini memanfaatkan tanda baca, simbol, garis, titik, dan bentuk visual tertentu untuk menyampaikan gagasan dan emosi penyair. Maknanya tidak dibaca melalui bunyi, melainkan ditafsirkan melalui tampilan visualnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>6. Puisi Multi Lingual<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis puisi kontemporer ini menggunakan lebih dari satu bahasa dalam satu karya. Misalnya, Bahasa Indonesia dipadukan dengan bahasa daerah atau bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan lainnya. Perpaduan bahasa ini dapat memperkaya nuansa, mempertegas identitas budaya, dan menghadirkan lapisan makna yang lebih kompleks.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>7. Puisi Idiom Baru<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita beralih ke puisi idiom baru. Puisi idiom baru merupakan bentuk puisi kontemporer yang menghadirkan ungkapan segar atau idiom yang diciptakan sendiri oleh penyair.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam puisi ini, keterkaitan makna antar kata sering kali tidak mengikuti pola konvensional. Bahkan, hubungan makna bisa dipelintir, dibalik, dan diputus secara sengaja untuk menghasilkan kesan yang unik, mengejutkan, dan penuh tafsir.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>8. Puisi Mini Kata<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan sebutannya, puisi mini kata merupakan salah satu bentuk puisi kontemporer yang ditulis dengan jumlah kata yang sangat sedikit. Dalam puisi ini, kepadatan makna lebih diutamakan dibandingkan panjang teksnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, puisi mini kata juga memanfaatkan unsur pendukung seperti tanda baca, huruf tertentu, garis, titik, dan simbol lainnya untuk memperkuat kesan dan makna. Dengan keterbatasan kata tersebut, penyair justru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pesan secara singkat, padat, dan penuh tafsir.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/contoh-puisi-lama\">Contoh Puisi Lama Beserta Pengertian dan Jenis-Jenisnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Perbedaan Puisi Lama, Baru, dan Kontemporer<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari bentuk dan karakteristiknya, puisi dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu <\/span><strong><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/contoh-puisi-lama\">puisi lama<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/contoh-puisi-baru\">puisi baru<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, dan puisi kontemporer. Pada pembahasan sebelumnya, kamu sudah mempelajari tentang puisi lama dan puisi baru.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, apa yang membedakan ketiganya? Nah, perhatikan tabel berikut ya buat tahu perbedaan puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer.<\/span><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\"><strong>Puisi Lama<\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center;\"><strong>Puisi Baru<\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center;\"><strong>Puisi Kontemporer<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nama pengarang bersifat anonim atau tidak diketahui.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyampaiannya dilakukan secara lisan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terikat oleh aturan-aturan tertentu, seperti jumlah kata, jumlah baris, rima, dan sebagainya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/td>\n<td>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nama pengarang puisi tercantum di dalam karyanya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyampaiannya dilakukan secara lisan dan tulisan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu, namun bentuk penulisannya tetap rapi dan simetris.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/td>\n<td>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nama pengarang tercantum di dalam karya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyampaiannya dilakukan secara lisan dan tulisan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu, namun bentuk penulisannya lebih menekankan pada efek tipografi dan kebebasan berekspresi penulis.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Contoh Puisi Kontemporer<\/b><\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Puisi Shang Hai Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SHANG HAI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ping di atas pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pong di atas ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ping ping bilang pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pong pong bilang ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mau pong? bilang ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mau mau bilang pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mau ping? bilang pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mau mau bilang ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ya pong ya ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ya ping ya pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tak ya pong tak ya ping<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ya tak ping ya tak pong<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sembilu jarakMu merancap nyaring<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Puisi Kontemporer Tragedi Winka dan Sihka Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>TRAGEDI WINKA DAN SIHKA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">winka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sihka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawin<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">winka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sihka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">win<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">win<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">win<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">wi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">wi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">wi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">si<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">si<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">si<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ka<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Contoh Puisi Kontemporer Mbeling<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>PEDAS<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pedas<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">cabai rawit<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">semua kecanduan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pedas<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">harga cabe rawit<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">haruskah mati kecanduan?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">super pedas<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">ulah sang penguasa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pedas kecanduan<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Contoh Puisi Kontemporer Mini Kata<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>REFORMASI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">RR R<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">RRRR<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">R<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">RRRRRRRR<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">RRRRRRR<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">RRRRRRRR<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">!! Reformasi!!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>5. Contoh Puisi Kontemporer Konkret<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>POHON<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0daun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0daun daun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0daun daun daun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0daun daun daun daun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0batang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0batang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0batang<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>6. Contoh Puisi Konkret Karya Noorca Marendra<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Betul<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kau pasti<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sedang menghitung<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berapa nasib lagi tinggal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sebelum fajar terakhir kau tutup<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tanpa seorang pun tahu siapa kau dan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kau<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">masa kini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lengkaplah sudah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">perhitungan di luar akal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan angan-angan di dalam hati kita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tentang sesuatu yang tak bias siapa pun<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menerangkatakan pada saat itu kau mungkin sedang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Betul<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>7. Puisi Jadi Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>JADI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Jadi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap derita<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi luka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap duri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi duri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap tanda<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi makna<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap tanya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi ragu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap jawab<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi sebab<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap seru<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi mau<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap tangan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi pegang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap kabar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi tahu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak setiap luka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0jadi kaca<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0memandang kau<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0pada wajahku!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>8. Puisi Dua Jembatan: Mirabeau &amp; Asemka Karya Remy Sylado<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>DUA JEMBATAN: MIRABEAU &amp; ASEMKA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa orang mau mendengar Apollonaire<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang berkisah tentang kebohongan dunia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-Et Sous le pount Mirabeau coule la Seine<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-Et nouns amours<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa tak mau dengan Remifasolasido<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang berkisah tentang kejujuran dunia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-Ning ngisore kreteg Asemka iku<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-Akeh umbele Cino<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">-?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>9. Puisi Mantera Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>MANTERA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">lima percik mawar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tujuh sayap merpati<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sesayat langit perih<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">dicabik puncak gunung<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sebelas duri sepi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">dalam dupa rupa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tiga menyan luka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mengasapi duka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">puah!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kau jadi Kau!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kasihku<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>10. Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>PERINGATAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika rakyat pergi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika penguasa pidato<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus hati-hati<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali mereka putus asa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau rakyat bersembunyi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dan berbisik-bisik<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membicarakan masalahnya sendiri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penguasa harus waspada dan belajar mendengar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bila rakyat berani mengeluh<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Itu artinya sudah gasat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bila omongan penguasa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak boleh dibantah<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kebenaran pasti terancam<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila usul ditolak tanpa ditimbang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dituduh subversif dan mengganggu keamanan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Maka hanya ada satu kata: lawan!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>11. Puisi O Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>O<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O..<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/contoh-puisi\">Contoh Puisi Pendek yang Menyentuh Hati<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>12. Puisi Sepisaupi Karya Sutardji Calzoum Bachri<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SEPISAUPI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisau luka sepisau duri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepikul dosa sepukau sepi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisau duka serisau diri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisau sepi sepisau nyanyi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisaupa sepisaupi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisapanya sepikau sepi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisaupa sepisaupi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepikul diri keranjang duri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisaupa sepisaupi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisaupa sepisaupi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sepisaupa sepisaupi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sampai pisauNya ke dalam nyanyi<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>13. Puisi Olahraga Karya Remy Sylado<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>OLAHRAGA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Orang kota<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengangkat barbel<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di fitnes centre<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Olahraga<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Orang desa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memacul tanah<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di sawah ladang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang satu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mencari sehat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karena anjuran<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lain<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menemukan sehat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karena terlanjur<\/span><b><\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>14. Puisi Menyingkat Kata Karya Remy Sylado<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>MENYINGKAT KATA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karena<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kita orang Indonesia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">suka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">menyingkat kata wr.wb.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Maka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">rahmat dan berkah Ilahi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">menjadi singkat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">dan tak utuh buat kita.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>15. Puisi Percakapan Rahasia Karya Remy Sylado<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>PERCAKAPAN RAHASIA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kucuri uang ini saat perut amat lapar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Belikan nasi, kumakan, tapi tetap terasa lapar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, kucuri lagi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kumakan lagi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tetap terasa lapar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu seterusnya hingga terkapar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Aku sadar tanpa khayal<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup ini penuh rasa lapar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lapar uang, kekuasaan, wanita dan sebagainya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Aku berbisik kepada malaikat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ssssstt\u2026.sssssttttt<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan bilang siapa-siapa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ini percakapan rahasia dengan Tuhan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>16. Puisi Sajak tentang Sebuah Mimpi Karya Noorca Marendra<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SAJAK TENTANG SEBUAH MIMPI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anak yang malang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mimpi ketemu sinterklas, tadi malam<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya: \u201cSorga ada di bawah telapak kaki ibu&#8230;\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi-pagi sekali anak yang malang itu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menangis di depan ibunya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang telah terputus kedua kakiknya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan ini, sesungguhnya agak mengharukan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tapi kalau nasib menghendakinya begitu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kita mau pa lagi?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>17. Contoh Puisi Multi Lingual<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>MERAPI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">merapi\u2026<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">gagah bak penguasa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">asap putih memayungimu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">lebat hutan pengawalmu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">sejarah laharmu abadi kini<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">merapi\u2026<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">saumpamane kowe bisa nguri-uri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kabeh sing kaleksana ing tanah Jawi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">prilakune manungsa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">becik lan ora<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">marang alam<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">karunia sang Illahi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>18. Puisi Jaman Bahari Karya Sides Sudyarto DS<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>PUISI JAMAN BAHARI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>GIRISA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya meraja jaramaya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya marani niramaya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya silapa palasiya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya mirado rodamiya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya midosa sadomiya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya dayuda dayudaya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya siyaca cayasiya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sihama mahasiya<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>19. Puisi Forsythia Karya Mary Ellen Solt<\/b><\/span><\/h3>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/ab93194d-edf9-4b26-abac-9085d5ee623d.png\" alt=\"Puisi berjudul \u201cForsythia\u201d\" width=\"300\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Puisi berjudul \u201cForsythia\u201d tahun 1966 karya Mary Ellen Solt (Sumber: https:\/\/www.britannica.com\/art\/concrete-poetry)<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>20. Contoh Puisi Idiom Baru<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>TIDAK<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">keheningan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah sepi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kesepian<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah sunyi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">penderitaan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah luka<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">pertanyaan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah ketidakpercayaan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">menghilang<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">bukanlah ketakutan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">firasat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">jadi pertanda<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">kau pergi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">tuk selamanya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itu tadi penjelasan lengkap mengenai pengertian, ciri-ciri, jenis, dan contoh puisi kontemporer yang biasanya dibahas pada pelajaran Bahasa Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu masih bingung dengan materi pelajaran Bahasa Indonesia lainnya, yuk tanyakan langsung ke Master Teacher di<\/span> <strong><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/\">Brain Academy<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Kini, tersedia juga Brain Academy Center buat kamu yang mau les secara tatap muka <\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">lho<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">!<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/branch\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/2a0fe942-beea-415a-9afc-8d08e0a7dcb6.png\" alt=\"Brain Academy Branch\" width=\"799\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Abdul W. B. S. 2022. Puisi Mbeling [Daring]. Tautan: https:\/\/badanbahasa.kemendikdasmen.go.id\/artikel-detail\/896\/puisi-mbeling. Diakses 10 Februari 2026<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Britannica. 2025. Concrete Poetry [Daring]. Tautan: https:\/\/www.britannica.com\/art\/concrete-poetry. Diakses 10 Februari 2026<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Juwati. 2017. Diksi dan Gaya Bahasa Puisi-Puisi Kontemporer Karya Sutardji Calzoum Bachri (Sebuah Kajian Stilistik) [Daring]. Tautan: https:\/\/journal.ipm2kpe.or.id\/index.php\/KIBASP\/article\/view\/96\/32. Diakses 10 Februari 2026<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut! \u2014 Dalam karya sastra, selain puisi lama dan puisi baru, ada juga puisi kontemporer yang punya ciri khas berbeda dari puisi pada umumnya. Kenapa bisa begitu? Karena puisi jenis ini sudah tidak lagi terikat aturan baku seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":6718,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1782107591:1"],"_edit_last":["1"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!"],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png"],"_yoast_wpseo_primary_category":[""],"_yoast_wpseo_focuskw":["puisi kontemporer"],"_yoast_wpseo_metadesc":["Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!"],"_yoast_wpseo_linkdex":["80"],"_yoast_wpseo_content_score":["60"],"_yoast_wpseo_estimated-reading-time-minutes":["10"]},"categories":[1],"tags":[28,16,19],"class_list":["post-6718","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-materi-belajar","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-22T06:00:27+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Olivia Yunita\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Olivia Yunita\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer\",\"name\":\"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png\",\"datePublished\":\"2026-06-22T06:00:27+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85\"},\"description\":\"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85\",\"name\":\"Olivia Yunita\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Olivia Yunita\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/olivia-yunita\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_description":"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2026-06-22T06:00:27+00:00","author":"Olivia Yunita","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Olivia Yunita","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer","name":"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png","datePublished":"2026-06-22T06:00:27+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85"},"description":"Puisi kontemporer tidak terikat aturan kaku seperti puisi umumnya. Yuk, simak beberapa contoh puisi kontemporer di artikel berikut!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/\/landing-pages\/assets\/6ac3b30a-b93d-4f38-913b-62b9cba3f2aa.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/puisi-kontemporer#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"20 Contoh Puisi Kontemporer Singkat, Pengertian dan Jenisnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85","name":"Olivia Yunita","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g","caption":"Olivia Yunita"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/olivia-yunita"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6718","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6718"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6718\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6720,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6718\/revisions\/6720"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6718"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6718"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6718"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}