{"id":511,"date":"2025-07-03T15:00:48","date_gmt":"2025-07-03T08:00:48","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=511"},"modified":"2025-07-03T15:08:36","modified_gmt":"2025-07-03T08:08:36","slug":"cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","title":{"rendered":"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 820px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg\" alt=\"cara-berpikir-sejarah\" width=\"820\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sejarah berkaitan dengan konsep waktu, ruang, dan periodesasi atau pembabakan zaman. Yuk, kita bahas definisi, ciri, tujuan, dan contohnya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Eh, eh, aku mau ceritaa. T<\/em><em>adi ada 2 orang berantem di jalan raya. Rusuh banget deh,&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Wah, jam berapa kejadiannya?&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Jam 5 sore. Sangking lamanya, <\/em><em>Pak Polisi sampai datang buat melerai,&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Emang gara-gara apa sih? Kok bisa berantem?&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Hehe, aku juga nggak tau,&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Ah,<\/em>\u00a0<em>nanggung nih ceritanya,<\/em>&#8220;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/meme%20spill%20the%20tea.jpg\" alt=\"meme spill the tea\" width=\"600\" \/><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-size: 14px;\">Ekspresi kamu ketika mendengar cerita yang tidak lengkap (sumber: Pinterest)<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px;\">Pernah nggak lagi cerita tapi lupa dengan urutan kejadiannya? Atau justru kamu kurang paham mengenai alasan mengapa peristiwa itu terjadi, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Waduh, bisa-bisa ceritanya malah nggak lengkap dan berujung pada <em>hoax\u00a0<\/em>alias berita palsu!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px;\">Bicara tentang cerita, kita teringat pada mapel Sejarah. <span style=\"font-weight: bold;\">Sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang memuat peristiwa atau cerita di masa lampau yang disusun secara sistematis agar teruji kebenarannya<\/span>. <em>Hayo<\/em>, siapa di sini yang ngantuk setiap pelajaran Sejarah?<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Dalam ilmu Sejarah, kita mengenal konsep ruang dan waktu. Konsep ini juga disebut sebagai sinkronik dan diakronik<\/span>. Keduanya diperlukan dalam Ilmu Sejarah sebagai bukti bahwa peristiwa yang terjadi memang benar adanya sesuai dengan fakta.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Lalu, apa sih pengertian, ciri, serta contoh dari cara berpikir diakronik dan sinkronik? Kita bahas bareng-bareng di artikel ini, ya!<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/pengertian-akuntansi\">Akuntansi: Pengertian, Sejarah, Fungsi, Manfaat, &amp; Jenisnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 20px;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">1. Pengertian Diakronik<\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Secara etimologis, Diakronik berasal dari Bahasa Yunani. &#8216;Dia&#8217; artinya &#8216;melalui&#8217; atau &#8216;melampaui&#8217;, dan &#8216;chronicus&#8217; yang artinya &#8216;waktu&#8217;.<span style=\"font-weight: bold;\"> Jadi, diakronik adalah memanjang dalam waktu, namun terbatas pada ruang<\/span>.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Cara berpikir diakronik dalam sejarah disebut juga berpikir secara kronologis. <span style=\"font-weight: bold;\">Peristiwa disusun berdasarkan urutan waktu dari awal hingga akhir, supaya tidak melompat-lompat dan berujung pada kekeliruan<\/span>. Kita diajak menelusuri dan menganalisa peristiwa berdasarkan jam, hari, minggu, bulan, atau tahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Ngomong-ngomong, kamu tahu nggak lawan kata dari kronologis? Ya, betul! <span style=\"font-weight: bold;\">Lawan kata dari kronologis adalah<\/span>\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\">anakronis<\/span><span style=\"font-weight: bold;\">,\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">yang artinya kesalahan dalam penempatan peristiwa yang tidak sesuai dengan semestinya. Dalam bahasa Yunani, anakronis berarti &#8216;melawan waktu&#8217;.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a style=\"background-color: #eeeeee;\" href=\"\/blog\/jurusan-sejarah\" rel=\"noopener\">Jurusan Sejarah, Menyelami Masa Lalu Lewat Mata Kuliah<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">Ciri-Ciri Berpikir Diakronik<\/span><\/h3>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Memanjang dalam waktu, menyempit dalam ruang<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, cara berpikir diakronik lebih mengutamakan urutan waktu dengan sedikit memerhatikan keluasan ruang.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"background-color: transparent;\">2. Fokus pada kronologis<\/span><\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: transparent;\">Dalam berpikir diakronik, kronologis dibutuhkan untuk menempatkan kejadian secara urut dan tidak melompat-lompat.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"background-color: transparent;\">3. Bersifat vertikal<\/span><\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: transparent;\">Alur waktu berjalan lurus tanpa ada penjelasan lebih lanjut tentang kejadian tersebut.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-diakronik-dalam-sejarah.jpg\" alt=\"ciri berpikir diakronik atau konsep waktu dalam sejarah\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>Contoh Pemaparan Sejarah Berdasarkan Cara Berpikir Diakronik<\/strong><\/span><\/h3>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">a. <a href=\"\/blog\/sejarah-dan-penerapan-demokrasi-di-indonesia\" rel=\"noopener\">Sejarah Penerapan Demokrasi di Indonesia<\/a><\/h4>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: normal;\">Demokrasi Parlementer (1945-1959)<\/li>\n<li style=\"font-weight: normal;\">Demokrasi Terpimpin (1959-1965)<\/li>\n<li style=\"font-weight: normal;\">Demokrasi Pancasila pada Era Orde Baru (1966-1998)<\/li>\n<li style=\"font-weight: normal;\">Demokrasi Pancasila pada Era Reformasi (1998-sekarang)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">b. Urutan Presiden Indonesia Sejak Kemerdekaan hingga Sekarang<\/h4>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Ir. Soekarno (1945-1967)<\/li>\n<li>Soeharto (1967-1998)<\/li>\n<li>B.J. Habibie (1998-1999)<\/li>\n<li>Abdurrahman Wahid (1999-2001)<\/li>\n<li>Megawati Soekarnoputri (2001-2004)<\/li>\n<li>Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)<\/li>\n<li>Joko Widodo (2014-2024)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: bold; font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">2. Pengertian Sinkronik<\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Sinkronik juga berasal dari bahasa Yunani. Kata &#8216;syn&#8217; yang berarti &#8216;bersamaan&#8217;, dan &#8216;chronos&#8217; yang artinya &#8216;waktu&#8217;. Maka dalam sejarah, <span style=\"font-weight: bold;\">sinkronik adalah cara berpikir yang meluas dalam ruang, tetapi terbatas pada waktu<\/span>.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Cara berpikir sinkronik berfokus pada aspek-aspek peristiwa. Seperti penyebab, dampak, tokoh, tempat, dan lain-lain. Jadi, <span style=\"font-weight: bold;\">sinkronik berusaha menceritakan kejadian secara lebih mendalam<\/span>. Gimana? Paham kan bedanya sinkronik dengan diakronik?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 18px;\">Ciri-Ciri Berpikir Sinkronik<\/span><\/h3>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Mengkaji waktu tertentu<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, sinkronik hanya fokus mengkaji pada satu periode atau waktu tertentu.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"background-color: transparent;\">2. Bersifat horizontal<\/span><\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, sinkronik memandang peristiwa pada ruang yang lebih luas dalam berbagai aspek. Misalnya, aspek politik, aspek ekonomi, aspek sosial budaya, dan sebagainya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Menitikberatkan pengkajian pada strukturnya<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika menganalisis peristiwa, cara berpikir sinkronik berusaha mengaitkannya dengan aspek tertentu. Misalnya, saat membahas kepemimpinan Presiden Joko Widodo, kamu juga mengaitkannya dengan aspek politik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sinkronik-dalam-sejarah.jpg\" alt=\"ciri berpikir sinkronik atau konsep ruang\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">Contoh Pemaparan Sejarah Berdasarkan Cara Berpikir Sinkronik<\/h3>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\">a. Latar Belakang Diterapkannya Masa Demokrasi Terpimpin<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: normal;\">Presiden Soekarno menyampaikan amanat kepada konstituante (dewan pembentuk UUD) tentang pokok-pokok demokrasi terpimpin, yaitu:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"text-align: justify;\" aria-level=\"1\">Demokrasi terpimpin bukan diktator.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\" aria-level=\"1\">Demokrasi terpimpin sesuai dengan dasar hidup dan kepribadian\u00a0 bangsa Indonesia.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\" aria-level=\"1\">Demokrasi terpimpin berarti demokrasi di seluruh persoalan kenegaraan dan kemasyarakatan, termasuk sosial, politik, dan ekonomi.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\" aria-level=\"1\">Inti pimpinan di dalam demokrasi terpimpin adalah permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\" aria-level=\"1\">Di dalam demokrasi terpimpin, oposisi wajib mampu melahirkan pendapat yang sehat dan membangun.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika melihat pokok-pokok di atas, demokrasi terpimpin tentunya terlihat baik dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Namun nyatanya, konsep-konsep tersebut tidak direalisasikan sebagaimana mestinya. Akibatnya, demokrasi terpimpin kerap kali malah menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, juga budaya bangsa Indonesia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a style=\"background-color: #eeeeee;\" href=\"\/blog\/contoh-dan-struktur-teks-sejarah\" rel=\"noopener\">Bikin Teks Sejarah dengan Ciri-ciri, Contoh, &amp; Struktur Ini, Yuk!<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">b. Demonstrasi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUKHP)<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil di berbagai daerah menolak RUKHP dengan melakukan aksi besar-besaran. Di Jakarta, mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi menggelar demonstrasi di depan gedung MPR\/DPR RI. Mereka juga menyampaikan mosi tidak percaya dan RUKHP yang dinilai bermasalah, salah satunya pasal korupsi yang hukumannya lebih rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena tidak mendapat respon, demonstrasi kembali berlanjut dan mahasiswa mengajukan 7 tuntutan, yaitu:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Menolak RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, dan RUU Ketenagakerjaan. Mendesak pembatalan UU KPK dan UU Sumber Daya Air. Mendesak disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.<\/li>\n<li>Batalkan pimpinan KPK bermasalah pilihan DPR<\/li>\n<li>Tolak TNI dan Polri menempati jabatan sipil<\/li>\n<li>Hentikan militerisme di Papua dan daerah lain, bebaskan tahanan politik Papua segera<\/li>\n<li>Hentikan kriminalisasi aktivis<\/li>\n<li>Hentikan pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang dilakukan oleh korporasi dan pidanakan korporasi pembakar hutan serta cabut izinnya<\/li>\n<li>Tuntaskan pelanggaran HAM dan adili penjahat HAM, termasuk yang duduk di lingkaran kekuasaan, pulihkan hak-hak korban segera.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sayangnya, unjuk rasa lanjutan ini berujung ricuh dan menimbulkan 232 korban jiwa, yang terdiri dari mahasiswa, aparat keamanan, masyarakat sipil, dan wartawan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: bold; font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">3. Periodesasi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain diakronik dan sinkronik, ada pula Periodesasi yang berarti &#8216;pembabakan&#8217;. Dalam konsep Periodesasi, Sejarah disusun menurut klasifikasi tertentu dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">Tujuan Periodesasi<\/span><\/h3>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Menyederhanakan rangkaian peristiwa sejarah.<\/li>\n<li>Mempermudah pembaca untuk memahami sejarah.<\/li>\n<li>Membantu mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa sejarah.<\/li>\n<li>Memudahkan daIam menganaIisis perkembangan dan perubahan yang terjadi di setiap periode.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 18px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">Contoh Periodesasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Periodesasi sejarah Indonesia terbagi menjadi zaman prasejarah dan zaman sejarah, sebagai berikut:<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">a. Zaman Prasejarah<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman prasejarah yaitu zaman manusia sebelum mengenal tulisan. Penelitian zaman prasejarah didasarkan pada peninggalan benda purbakala, seperti:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Artefak, yaitu semua benda yang memperlihatkan hasil garapan sebagian atau seluruhnya sebagai pengubahan sumber alam oleh tangan manusia.<\/li>\n<li>Fiture, yaitu artefak yang tidak dapat dipindahkan tanpa merusak tempatnya.<\/li>\n<li>Ekofak, yaitu benda dari unsur biotik. Contohnya fosil makhluk hidup.<\/li>\n<li>Situs, yaitu bidang tanah yang mengandung peninggalan purbakala.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a href=\"\/blog\/jurusan-arkeologi\" rel=\"noopener\">Kuliah Jurusan Arkeologi, Cari Kerjanya Susah?<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">b. Zaman Sejarah<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman sejarah yaitu zaman di mana manusia sudah mengenal tulisan. Zaman sejarah dibagi menjadi 3, yaitu:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Zaman Kuno, dimulai sejak kerajaan tertua sampai abad ke-14 yang dipengaruhi agama Hindu dan Buddha.<\/li>\n<li>Zaman Indonesia Baru, dimulai dari abad ke-15 sampai abad ke-18 yang dipengaruhi perkembangan kerajaan Islam.<\/li>\n<li>Zaman Indonesia Modern, dimulai sejak pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia merdeka, hingga sekarang.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang kamu sudah mengerti definisi, ciri, serta contoh dari cara berpikir diakronik, sinkronik, dan periodesasi. Sebelum bercerita, perhatikan lagi unsur ruang dan waktu agar tidak menimbulkan <span style=\"font-style: italic;\">hoax<\/span> ya. Mau belajar lebih banyak tentang Sejarah? Coba <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"https:\/\/kelas.brainacademy.id\/\" rel=\"noopener\">kelas gratis Brain Academy<\/a>, yuk. Bisa online atau datang langsung ke cabang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/bayar.ruangguru.com\/npf\/packages?tag=brainacademy-offline\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/289c64b7-123e-48be-a3f9-842a150e3fa2.png\" alt=\"IDN CTA Blog Brain Academy Center\" width=\"799\" height=\"195\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify; font-size: 16px;\">Referensi:<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Demo RKUHP 2019 [Daring]. Tautan: https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2022\/06\/21\/17233991\/saat-rkuhp-picu-demo-besar-mahasiswa-pada-2019<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Peninggalan Masa Pra Sejarah [Daring]. Tautan: https:\/\/balarjabar.kemdikbud.go.id\/sumberdaya-arkeologi\/\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Sumber Gambar:<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; font-size: 16px; text-align: justify;\">Meme Spill The Tea [Daring]. Tautan: https:\/\/id.pinterest.com\/pin\/703335666807652446\/<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Diakses 6-7 September 2022)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":4,"featured_media":511,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg"],"_edit_lock":["1751530006:1"],"_edit_last":["1"],"_wp_old_date":["2022-09-08","2023-10-17","2024-08-26"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Cara berpikir sejarah berkaitan dengan konsep waktu (diakronik), ruang (sinkronik), dan periodesasi. Berikut penjelasan, ciri, tujuan, dan contoh-contohnya."],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[""],"_aioseo_og_description":[""],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[""],"_aioseo_twitter_description":[""]},"categories":[1],"tags":[28,16,19],"class_list":["post-511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-materi-belajar","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-03T08:00:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-03T08:08:36+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah\",\"name\":\"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-03T08:00:48+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-03T08:08:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\",\"name\":\"Salsabila Nanda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Salsabila Nanda\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2025-07-03T08:00:48+00:00","article_modified_time":"2025-07-03T08:08:36+00:00","author":"Salsabila Nanda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Salsabila Nanda","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah","name":"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg","datePublished":"2025-07-03T08:00:48+00:00","dateModified":"2025-07-03T08:08:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/cara-berpikir-sejarah.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/cara-berpikir-diakronik-dan-sinkronik-dalam-sejarah#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cara Berpikir Sejarah: Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783","name":"Salsabila Nanda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Salsabila Nanda"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=511"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/511\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5549,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/511\/revisions\/5549"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}