{"id":4719,"date":"2025-10-06T11:00:10","date_gmt":"2025-10-06T04:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?p=4719"},"modified":"2025-10-06T13:28:52","modified_gmt":"2025-10-06T06:28:52","slug":"historiografi-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah","title":{"rendered":"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png\" alt=\"historiografi\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi berkaitan dengan metode penulisan dan penelitian sejarah. Apa saja contohnya? Simak informasinya disini!<\/span><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8212;<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Babad Tanah Jawi merupakan salah satu contoh yang terkenal di Indonesia. Karya ini menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan perkembangan masyarakat dari masa ke masa, mulai dari era mitologi, kerajaan Hindu-Budha, hingga masuknya Islam di Nusantara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tahukah kamu apa sebenarnya historiografi itu? Historiografi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang penulisan sejarah. Nah, agar lebih memahami tentang\u00a0 historiografi, yuk kita bahas lebih lanjut di artikel berikut!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Pengertian Historiografi<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara etimologi, kata historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><em>historia<\/em> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang berarti sejarah, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><em>graphia<\/em> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang berarti penulisan. Oleh karena itu, secara sederhana,<\/span> <strong>historiografi adalah penulisan sejarah.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai cabang ilmu, historiografi mempelajari tentang perkembangan penulisan sejarah dari masa ke masa. Melalui historiografi, kita dapat memahami sejarah bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai narasi yang dibentuk oleh para ahli sejarah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/apa-itu-sejarah\">Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli, Unsur &amp; Manfaatnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Pengertian Historiografi Menurut Para Ahli<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian historiografi antara lain:<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Louis Gottschalk<\/span><\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi merupakan suatu bentuk publikasi, baik itu dalam bentuk lisan maupun juga tulisan mengenai peristiwa kejadian atau kombinasi peristiwa-peristiwa di masa lampau.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>2. Kuntowijoyo<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi adalah tahap menuliskan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan sejarah.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>3. Prof. Dr. Ismaun, M.Pd<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi berarti pelukisan sejarah, gambaran sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang disebut sejarah.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Soejatmoko<\/span><\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi atau penulisan sejarah dalam ilmu sejarah merupakan titik puncak dari kegiatan penelitian oleh sejarawan. Dalam metodologi sejarah, historiografi merupakan bagian terakhirnya. Langkah terakhir, tetapi langkah tersebut adalah langkah terberat.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>5. Abdurahaman Hamid dan Muhammad Saleh Majid<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi adalah berbagai pernyataan mengenai masa silam yang telah disintesiskan selanjutnya ditulis dalam kisah sejarah<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Jenis-Jenis Historiografi<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi di Indonesia dibagi menjadi 4 jenis, yaitu historiografi tradisional. kolonial, nasional, dan modern. Berikut penjelasan dari masing-masing jenisnya.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Historiografi Tradisional<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang dilakukan oleh para sastrawan atau pujangga keraton dan bangsawan kerajaan<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>.<\/strong> Penulisan sejarah pada masa ini tidak bertujuan untuk mendapatkan kebenaran sejarah melalui pembuktian fakta, melainkan diperoleh dari pengakuan dan untuk diabadikan kepada penguasa. Oleh karena itu, historiografi tradisional sering mengandung unsur-unsur sastra yang menghasilkan karya bersifat mitologi dan imajinatif.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri-Ciri Historiografi Tradisional<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengandung banyak unsur mitos<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bersifat istana-sentris, regiosentris atau kaya akan unsur kedaerahan, serta feodalistis-aristokratis, artinya fokus membicarakan kehidupan para kaum bangsawan feodal, tanpa melibatkan sifat kerakyatannya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ditulis dengan tujuan sebagai alat legitimasi kekuasaan raja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak secara jelas membedakan antara peristiwa nyata dan unsur khayalan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi tradisional mulai berkembang pada masa Kerajaan Hindu dan Buddha sekitar abad ke-14 M hingga masa Kerajaan Islam pada awal abad ke-20 M.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bdf7cba4-7525-4dae-89bd-782b403d30de.png\" alt=\"Babad Tanah Jawa\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu halaman pada Babad Tanah Jawa yang disalin pada tahun 1862 (Sumber: wikipedia.org)<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Contoh historiografi masa Hindu dan Buddha<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah Babad Tanah Jawi, Babad Parahiangan, Kitab Pararaton, Babad Tanah Pasundan, Babad Sriwijaya, Kitab Negarakertagama, Babad Galuh, Kitab Ramayana, dan Kitab Mahabharata. Sedangkan <\/span><strong>contoh historiografi masa Islam<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Babad Demak, Babad Tanah Jawi, dan Babad Giyanti.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Historiografi Kolonial<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang berkembang pada masa Kolonial Belanda, yaitu sejak zaman VOC abad ke-17 M hingga Pemerintahan Hindia Belanda pada abad ke-20 M.<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> Fokus utama historiografi kolonial adalah kehidupan warga Belanda di Indonesia, dan karena untuk kepentingan Belanda, maka tulisan sejarah disusun menurut penafsiran dan pandangan Belanda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri-Ciri Historiografi Kolonial<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisannya bersifat diskriminatif terhadap rakyat Hindia Belanda.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sudut pandang penulisannya adalah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Neerdelandosentris<\/em> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">Eropasentris<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisannya bersifat subjektif terhadap pemerintah kolonial.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyusunannya cenderung mengabaikan sumber lokal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengisahkan sejarah dari orang-orang besar, misalnya Daendels dan Raffles.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berfokus pada kajian penguasaan Belanda di Hindia Belanda, sedangkan kondisi rakyat Indonesia yang terjajah tidak diperhatikan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa <\/span><strong>contoh karya historiografi kolonial<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> antara lain:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Beknopt Leerboek Geschiedenis van Nederlandsch Oost-Indie <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya A.J. Eijkman dan F.W. Stapel<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Schets eener Economische Geschiedenis van Nederlands-Indie<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\"> karya G. Gonggrijp<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Geschiedenis van den Indischen Archipel <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya B.H.M. Vlekke<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Reizen<\/em> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">(Catatan Perjalanan) yang ditulis mulai tahun 1600-an oleh Nicholaus de Graff<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Geschiedenis van Indonesie <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya H. J. de Graaf<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">History of Jav<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400;\">a<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1817) karya Thomas S. Raffles<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Historiografi Nasional<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Historiografi nasional merupakan penulisan sejarah dengan subjek utama adalah bangsa Indonesia.<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> Historiografi nasional dimulai setelah bangsa Indonesia merdeka pada Agustus 1945.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan penulisan historiografi nasional adalah untuk kepentingan menanamkan rasa nasionalisme kepada seluruh rakyat Indonesia. Salah satu ciri utama historiografi ini adalah menggunakan perspektif nasionalisme Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri-Ciri Historiografi Nasional<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penulisannya menggunakan sudut pandang rakyat Indonesia atau indonesiasentris.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menceritakan tentang perjuangan dan semangat kebangsaan Indonesia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menonjolkan peranan bangsa Indonesia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bertujuan membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa <\/span><strong>contoh historiografi nasional<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> antara lain:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">6000 Tahun Sang Merah Putih <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya Muhammad Yamin<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">Karya Muhammad Yamin<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Atjeh Sepintas Lalu<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\"> Karya SM Amin<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/8b22e47e-391c-4dd0-ab85-517669800f85.png\" alt=\"buku 6000 Tahun Sang Merah Putih\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh historiografi nasional, yaitu buku 6000 Tahun Sang Merah Putih karya Muhammad Yamin (Sumber: simpus,mkri.id)<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Historiografi Modern<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Historiografi modern adalah penulisan sejarah yang berdasarkan metode ilmiah dengan analisis kritis terhadap sumber-sumber sejarah.<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> Historiografi ini dimulai dengan munculnya studi sejarah kritis yang menggunakan prinsip metode penelitian sejarah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri-Ciri Historiografi Modern<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bersifat metodologis, yaitu sejarawan diwajibkan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bersifat kritis historis artinya dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan multidimensional.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lahir sebagai kritik terhadap historiografi nasional yang dianggap memiliki kecenderungan menghilangkan unsur asing dalam proses pembentukan keindonesiaan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Munculnya peranan rakyat kecil.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut beberapa <\/span><strong>contoh historiografi modern<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">antara lain:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Pemberontakan Petani Banten <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya Sartono Kartodirdjo<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Revolusi Pemuda <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya Benedict Anderson<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">karya R. Moh. Ali<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/jenis-teks-sejarah\">Teks Cerita Sejarah: Jenis, Ciri, Struktur, dan Contohnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Prinsip Historiografi<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut adalah prinsip-prinsip dalam historiografi:<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>1. Disusun Secara Kronologis<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa sejarah harus diceritakan berdasarkan urutan waktu, dari awal hingga selesai, untuk memudahkan pemahaman alur kejadian secara runtut.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>2. Ada Penentuan Sebab Akibat dari Fakta<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap fakta sejarah harus dianalisis hubungannya dengan sebab dan akibat, sehingga pembaca memahami alasan di balik peristiwa tersebut serta dampaknya.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>3. Pemilihan Peristiwa Penting<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua peristiwa dalam historiografi dapat dicatat. Historiografi hanya memilih kejadian yang dianggap berpengaruh terhadap jalannya sejarah.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>4. Periodisasi<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu ada pembagian periode atau waktu tertentu yang sesuai dengan kriteria, seperti era, dinasti, atau peristiwa penting, untuk membantu struktur penulisan sejarah.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>5. Memiliki Konsekuensi Tertentu<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap peristiwa yang ditulis harus memiliki konsekuensi atau pengaruh yang jelas, baik bagi masyarakat, budaya, maupun perkembangan peradaban.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>6. Memerlukan Pengurutan Jika Bersifat Deskriptif<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam historiografi yang deskriptif, peristiwa harus disusun secara berurutan agar cerita mudah dipahami dan tetap tersambung dengan baik.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>7. Bersifat Deskriptif Analitis<\/b><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menggambarkan peristiwa (deskriptif), historiografi juga harus mencakup analisis mendalam terhadap peristiwa tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/penelitian-sejarah\">Tahapan Penelitian Sejarah Menurut Ahli dan Contohnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Kelebihan dan Kekurangan Historiografi<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi adalah studi tentang penulisan sejarah, termasuk metode, pendekatan, dan perspektif yang digunakan oleh sejarawan dalam merekonstruksi peristiwa masa lalu. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan historiografi:<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Kelebihan Historiografi<\/b><\/span><\/h3>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Banyak Sudut Pandang<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi membantu kita melihat sejarah dari berbagai sisi. Misalnya, satu peristiwa bisa dilihat dari sisi pahlawan, rakyat biasa, atau bahkan lawannya. Jadi, kita dapat pemahaman yang lebih luas.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Mempelajari Pemikiran Zaman Dulu<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kita bisa tahu bagaimana orang zaman dulu berpikir atau apa yang mereka anggap penting saat menulis sejarah.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>3. Melatih Pikiran Kritis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan mempelajari historiografi, kita diajarkan untuk tidak langsung percaya pada satu cerita saja. Kita jadi lebih kritis dan paham kalau ada cerita yang mungkin berat sebelah.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>4. Dapat Digunakan untuk Membenahi Sejarah<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada bukti baru ditemukan, historiografi memungkinkan kita untuk memperbaiki cerita lama agar lebih akurat.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>5. Menyambungkan Sejarah dengan Kondisi Zaman<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi membantu kita memahami kenapa sejarah ditulis seperti itu, misalnya karena pengaruh politik atau budaya pada waktu tertentu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Kekurangan Historiografi<\/b><\/span><\/h3>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Cerita Bisa Tidak Netral<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, penulis sejarah punya keberpihakan atau pandangan pribadi, jadi ceritanya bisa tidak sepenuhnya objektif.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Sumbernya Terbatas<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bukti-bukti sejarahnya kurang lengkap atau hilang, penulis hanya bisa menebak-nebak, dan ini bisa membuat cerita sejarah kurang akurat.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>3. Campur Tangan Pendapat Pribadi<\/b><b><br \/>\n<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam historiografi, kadang fakta sejarah dicampur dengan opini penulis. Ini bisa bikin sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang pendapat.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>4. Belum Bisa Menjelaskan Sejarah Secara Optimal<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi kadang masih terbatas dalam menyampaikan keseluruhan detail sejarah, sehingga pemahaman terhadap peristiwa bisa kurang lengkap.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>5. Cenderung Kurang Fleksibel<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Historiografi biasanya mengikuti metode ilmiah yang kurang fleksibel, sehingga sulit untuk menemukan sudut pandang yang lebih modern.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8212;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah penjelasan mengenai pengertian historiografi, mulai dari pengertian, jenis, prinsip, hingga kelebihan dan kekurangannya. Bagi kamu yang punya pertanyaan seputar materi sejarah lainnya, yuk, tanyakan ke Master Teacher berpengalaman di <\/span><strong><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/\">Brain Academy<\/a><\/strong><b>!<\/b><\/p>\n<p><a class=\"rg-cta\" href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send?phone=+6281574410000&amp;text=Mau%20informasi%20promo%20dan%20paket%20belajar%20Brain%20Academy%20Online\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/e5070f85-673f-4221-bef5-1021e2f4d494.jpeg\" alt=\"[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online \" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksilas Dasfordate. 2024. Buku Ajar Historiografi [daring]. Tautan: https:\/\/repository.penerbiteureka.com\/media\/publications\/563300-buku-ajar-historiografi-e4017dff.pdf (Diakses 16 November 2024)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasnawati. 2024. Ciri-ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Modern [daring]. Tautan: https:\/\/repositori.kemdikbud.go.id\/21717\/1\/X_Sejarah_KD-3.8_Final.pdf (Diakses 16 November 2024)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ruangguru.com\/blog\/historiografi-sejarah<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Historiografi berkaitan dengan metode penulisan dan penelitian sejarah. Apa saja contohnya? Simak informasinya disini! &#8212; Babad Tanah Jawi merupakan salah satu contoh yang terkenal di Indonesia. Karya ini menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan perkembangan masyarakat dari masa ke masa, mulai dari era mitologi, kerajaan Hindu-Budha, hingga masuknya Islam di Nusantara.\u00a0 Namun, tahukah kamu apa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":4719,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1759732052:1"],"_edit_last":["1"],"_oembed_dd89d91058a9bfa1d953e29a445f6924":["<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"0ScBW3s03I\"><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/historiografi-sejarah\">Memahami 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah | Sejarah Kelas 10<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;Memahami 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah | Sejarah Kelas 10&#8221; &#8212; Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" src=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/historiografi-sejarah\/embed#?secret=PVI7916ibf#?secret=0ScBW3s03I\" data-secret=\"0ScBW3s03I\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>"],"_oembed_time_dd89d91058a9bfa1d953e29a445f6924":["1737599522"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Historiografi berkaitan dengan metode penulisan dan penelitian sejarah. Yuk, simak pengertian, jenis-jenis, prinsip, contoh, hingga kelebihan dan kekurangannya."],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png"],"_wp_old_date":["2025-01-30"]},"categories":[1],"tags":[28,16,19],"class_list":["post-4719","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-materi-belajar","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Historiografi berkaitan dengan metode penulisan dan penelitian sejarah. Apa saja contohnya? Simak informasinya disini! &#8212; Babad Tanah Jawi merupakan salah satu contoh yang terkenal di Indonesia. Karya ini menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan perkembangan masyarakat dari masa ke masa, mulai dari era mitologi, kerajaan Hindu-Budha, hingga masuknya Islam di Nusantara.\u00a0 Namun, tahukah kamu apa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-06T04:00:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-06T06:28:52+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Olivia Yunita\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Olivia Yunita\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah\",\"name\":\"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png\",\"datePublished\":\"2025-10-06T04:00:10+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-06T06:28:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85\",\"name\":\"Olivia Yunita\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Olivia Yunita\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/olivia-yunita\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_description":"Historiografi berkaitan dengan metode penulisan dan penelitian sejarah. Apa saja contohnya? Simak informasinya disini! &#8212; Babad Tanah Jawi merupakan salah satu contoh yang terkenal di Indonesia. Karya ini menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan perkembangan masyarakat dari masa ke masa, mulai dari era mitologi, kerajaan Hindu-Budha, hingga masuknya Islam di Nusantara.\u00a0 Namun, tahukah kamu apa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2025-10-06T04:00:10+00:00","article_modified_time":"2025-10-06T06:28:52+00:00","author":"Olivia Yunita","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Olivia Yunita","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah","name":"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png","datePublished":"2025-10-06T04:00:10+00:00","dateModified":"2025-10-06T06:28:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/0456687a-df38-463f-ad01-6aa302257b25.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/historiografi-sejarah#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Historiografi: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Contohnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/3058ab2c54263c9db3c90859fdbb4f85","name":"Olivia Yunita","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/18f06a7f6e7842aee08f26f4f13fc6ac8ce367161a40f67172b47ac78f4c0095?s=96&d=mm&r=g","caption":"Olivia Yunita"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/olivia-yunita"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4719","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4719"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4719\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5957,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4719\/revisions\/5957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4719"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4719"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4719"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4719"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}