{"id":394,"date":"2025-09-29T11:00:00","date_gmt":"2025-09-29T04:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=394"},"modified":"2025-09-29T16:06:55","modified_gmt":"2025-09-29T09:06:55","slug":"teks-hikayat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat","title":{"rendered":"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"height: auto; max-width: 100%; width: 820px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg\" alt=\"hikayat\" width=\"820\" height=\"410\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Hikayat adalah salah satu cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Apa bedanya dengan cerpen dan novel? Kita bahas di artikel ini ya!<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pasti kamu pernah mendengar cerita mengenai Perang Bharatayudha. Itu, lho, perang yang terjadi antara keluarga Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan kota Hastinapura. Perang tersebut merupakan puncak dari kisah Mahabharata, hikayat terkenal dari India.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Tunggu-tunggu, hikayat? Apa sih hikayat? Kalau cerpen atau novel sih tahu, tetapi hikayat itu kayak gimana?&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, untuk menjawab rasa penasaran kamu, hari ini kita belajar tentang Hikayat, yuk!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Layaknya cerpen maupun novel, hikayat juga termasuk prosa atau karya sastra berupa karangan yang berbentuk narasi dan tidak terikat oleh rima. <span style=\"font-weight: bold;\">Hikayat adalah cerita Melayu klasik yang menonjolkan unsur penceritaan berciri kemustahilan dan kesaktian para tokohnya<\/span>. Melalui hikayat, kamu bisa memetik nilai-nilai kehidupan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contohnya, kisah Mahabharata mengandung pesan agar umat manusia senantiasa berbuat berkata jujur, setia, bertanggungjawab, ikhlas, serta menggali potensi yang ada dalam diri masing-masing.<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a style=\"background-color: #eeeeee;\" href=\"\/blog\/ciri-struktur-unsur-dan-kebahasaan-novel\" rel=\"noopener\">Mengenal Unsur, Ciri, Struktur, Kebahasaan Novel<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Ciri-Ciri Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah karangan dapat dikatakan sebagai hikayat apabila memiliki ciri atau karakteristik sebagai berikut:<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">1. Kemustahilan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baik cerita, tokoh, dan latar dalam hikayat mengandung kemustahilan. Dengan kata lain, <span style=\"font-weight: bold;\">hikayat tidak logis serta tidak bisa diterima oleh nalar<\/span>. Contohnya, air susu harimau dapat menyembuhkan sakit mata yang diderita seorang puteri kerajaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18px;\">2. Tokoh Sakti<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Tokoh-tokoh yang terkandung pada hikayat biasanya mempunyai kemampuan seperti di film <em>superhero<\/em><\/span>. Dalam kisah Mahabharata, ada tokoh Arjuna yang memiliki kemampuan memanah di atas rata-rata. Ada pula Gatotkaca, tokoh perwayangan Jawa yang bisa terbang tanpa menggunakan sayap.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18px;\">3. Anonim<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Kebanyakan <span style=\"font-weight: bold;\">penulis cerita hikayat tidak diketahui secara pasti (anonim)<\/span>. Hikayat disampaikan melalui lisan dan turun-temurun. Meski begitu, ada beberapa sumber yang mengungkap penulis dibalik cerita hikayat terkenal seperti Mahabharata, yaitu Vyasa Krisna Dwipayana yang berkebangsaan India pada tahun 400 sebelum Masehi.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"height: auto; max-width: 100%; width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/ciri-ciri-hikayat.jpg\" alt=\"ciri-ciri-hikayat\" width=\"600\" height=\"900\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">4. Istanasentris<\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Kalau kamu perhatikan, <span style=\"font-weight: bold;\">latar belakang cerita dalam hikayat berlangsung di istana<\/span>. Perebutan tahta, konflik antar saudara, perjodohan puteri dan pangeran, perang antar kerajaan, dan sebagainya. Itulah sebabnya, hikayat bersifat istanasentris.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">5. Alur Berbingkai<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karakteristik lain yang terdapat pada hikayat yaitu alurnya yang berbingkai. Artinya, suatu <span style=\"font-weight: bold;\">hikayat dapat memiliki lebih dari satu cerita<\/span>. Contohnya, Mahabharata mengisahkan para leluhur Pandawa dan Kurawa, hingga diterimanya Pandawa di surga. Hikayat ini terbagi menjadi 18 bagian dengan kurang lebih 1,8 juta kata. Wah, banyak banget!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">6. Statis<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat adalah karya sastra yang statis atau tetap. Artinya, <span style=\"font-weight: bold;\">penggambaran dan penulisan antara satu hikayat dengan hikayat lainnya tidak terlalu berbeda<\/span>. Bahkan, beberapa tokohnya bisa jadi mempunyai kemiripan. Contohnya, tokoh Srikandi terdapat di dalam kisah Mahabharata dan pewayangan Jawa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 18px; text-align: justify;\">7. Edukatif<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun bercerita tentang hal-hal di luar nalar, kenyataannya <span style=\"font-weight: bold;\">hikayat mengandung amanat yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari<\/span>. Bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua, belajar untuk ikhlas, berkorban demi kepentingan bersama, hingga pelajaran mengenai karma baik dan buruk.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Tujuan Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat merupakan salah satu karya sastra lama yang memiliki berbagai tujuan penting. Secara umum, hikayat ditulis untuk <strong>memberikan hiburan kepada pembaca atau pendengarnya<\/strong> melalui kisah-kisah penuh imajinasi, keajaiban, petualangan, maupun kepahlawanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, tujuan hikayat tidak berhenti pada aspek hiburan saja. Di dalamnya, terselip <strong>nilai-nilai moral dan pendidikan<\/strong> yang dapat dijadikan teladan, seperti kejujuran, kesetiaan, keberanian, dan kesabaran. Selain itu, hikayat juga berfungsi sebagai <strong>sarana pelestarian tradisi dan budaya<\/strong>, karena memuat gambaran kehidupan, adat istiadat, serta kepercayaan masyarakat pada zamannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak jarang, hikayat menampilkan tokoh-tokoh heroik atau raja yang bijaksana sehingga dapat menumbuhkan rasa bangga, identitas, dan bahkan nasionalisme. Pada masa penyebaran agama, hikayat juga dimanfaatkan sebagai media untuk <strong>menyampaikan nilai religius<\/strong> dengan cara yang mudah dipahami.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u2014<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Psst, udah tau belum kalau di\u00a0<strong>Aplikasi belajar Ruangguru<\/strong>, ada<strong>\u00a0fitur Drill Soal<\/strong>? Aplikasi ini berisi\u00a0<strong>kumpulan contoh soal latihan beserta pembahasannya<\/strong>, loh. Pas banget buat kamu mempersiapkan ujian. Langsung aja\u00a0<strong>cobain dengan klik banner<\/strong>\u00a0di bawah ini!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/link.ruangguru.com\/blPk\/drillsoalgeneralBA\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/63046608-1a3b-4381-a4df-4521a254ff09.png\" alt=\"Drill Soal\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u2014<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Kaidah Kebahasaan Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu ciri yang melekat pada hikayat yaitu penggunaan kata-kata kuno dan majas dalam teksnya. Hal ini dikenal sebagai kaidah kebahasaan. Ada apa saja sih? Disimak ya!<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18px;\">1. Kata Arkais<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Kata arkais adalah <span style=\"font-weight: bold;\">kata yang berhubungan dengan masa dahulu, kuno, dan tidak lazim digunakan di zaman sekarang<\/span>. Contoh kata arkais seperti <em>jangat, langis<\/em>, atau <em>maharana<\/em>. <em>Jangat<\/em> artinya keranjang, <em>langis<\/em> artinya punah, dan <em>maharana<\/em> artinya perang besar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Karena dipakai di masa lalu, beberapa kata arkais tidak bisa kamu temukan dalam KBBI, lho! Oh iya, kata arkais berasal dari berbagai negara, tergantung darimana hikayat tersebut ditulis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; font-size: 18px; text-align: justify;\">2. Konjungsi Temporal<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konjungsi temporal atau konjungsi kronologis adalah <span style=\"font-weight: bold;\">kata penghubung untuk menandakan urutan waktu<\/span>, Contohnya: <em>sebelum. sesudah, lalu, setelahnya, hingga, sampai, sejak, kemudian,<\/em> dan\u00a0<em>akhirnya<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a style=\"background-color: #eeeeee;\" href=\"\/blog\/kalimat-kompleks\" rel=\"noopener\">Memahami Kalimat Kompleks, Benarkah Tak Serumit Kelihatannya?<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"height: auto; max-width: 100%; width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/kaidah-kebahasaan-hikayat.jpg\" alt=\"kaidah-kebahasaan-hikayat\" width=\"600\" height=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 18px; font-weight: bold; text-align: justify;\">3. Majas<\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/blog\/penjelasan-dan-contoh-majas\" rel=\"noopener\">Majas adalah<\/a> <span style=\"font-weight: bold;\">gaya bahasa agar kalimat menjadi lebih hidup<\/span>. Dalam hikayat, ada dua jenis majas yang sering digunakan, yaitu majas simile, antonomasia, dan hiperbola. Kita bahas perbedaan dan contohnya, yuk!<\/p>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">a. Majas Simile<\/h4>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Majas simile adalah majas pertautan yang membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa. Ditandai dengan kata\u00a0<em>bagai, bagaikan, bak, laksana, seperti, serupa,\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>semisal<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span> &#8220;<em>Puan mencari-cari Tuan bak kesetanan<\/em>,&#8221;<\/p>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">b. Majas Antonomasia<\/h4>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Majas antonomasia adalah majas yang menyebutkan sesuatu bukan dengan nama aslinya, tetapi dari sifat yang melekat pada seseorang atau benda tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:\u00a0<\/span><em>&#8220;Si Kecil bermain dengan riang,&#8221;<\/em><\/p>\n<h4 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">c. Majas Hiperbola<\/h4>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Majas hiperbola adalah majas yang menggunakan ungkapan berlebihan dan terkesan tidak masuk akal.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span> &#8220;<em>Tangisan sang puteri terdengar hingga langit ke tujuh<\/em>,&#8221;<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: bold; font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Nilai-Nilai Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada 6 nilai yang terdapat pada hikayat, yaitu <span style=\"font-weight: bold;\">nilai religius (agama), moral, budaya, sosial, edukasi (pendidikan), dan estetika (keindahan)<\/span>. Perhatikan penjelasan dan contohnya berikut ini!<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Nilai Religius<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nilai religius atau agama mengajarkan kita untuk meyakini keberadaan Tuhan, senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya, dan meningkatkan keimanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span> &#8220;<em>Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Nilai Moral<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Nilai moral mengajarkan kita untuk bertindak hati-hati, tidak merugikan orang lain, dan mematuhi norma yang berlaku di masyarakat. Tokoh yang melanggar aturan moral biasanya mendapat balasan yang setimpal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span> &#8220;<em>Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Nilai Sosial<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Nilai sosial mengajarkan kita untuk berbuat baik pada sesama tanpa melihat perbedaan status, ras, suku, dan agama. Nilai ini menjadi pedoman untuk berinteraksi dengan orang lain yang punya latar belakang berbeda.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span> &#8220;<em>Si Kembar menolak dengan mengatakan bahwa dia adalah hamba yang hina. Tetapi, tuan puteri menerimanya dengan senang hati.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Nilai Budaya<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Nilai budaya berhubungan dengan adat istiadat masyarakat tertentu. Nilai budaya dalam hikayat bisa berbeda tergantung darimana hikayat tersebut berasal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contoh:<\/span>\u00a0<em>&#8220;Raja Kabirsudah mencanangkan bahwa barangsiapa yang dapat membunuh Buraksa\u00a0akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Nilai Edukasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Nilai edukasi berhubungan dengan kewajiban mengenyam pendidikan sejak kecil. Baik itu ilmu agama, pengetahuan umum, kesenian, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Contoh: &#8220;<em>Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Suian.<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #eeeeee;\">Baca juga: <a style=\"background-color: #eeeeee;\" href=\"\/blog\/contoh-cerita-pendek\" rel=\"noopener\">Contoh Cerita Pendek Berdasarkan Jenisnya, Jangan Sampai Lupa!<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-size: 20px; font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Bentuk Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat dapat dibagi menjadi 5 bentuk berdasarkan cara penggambarannya. Ada cerita rakyat, epos, tambeh, chara, dan roman. Biar nggak tertukar, pahami pengertian dari masing-masing bentuknya, yuk!<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Cerita Rakyat<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Cerita rakyat adalah hikayat yang menceritakan asal muasal suatu tempat atau benda. Bentuk hikayat ini digambarkan dengan jenaka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contohnya:<\/span> <em>Hikayat Rhang Manyang<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Epos<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Epos adalah hikayat yang mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contohnya:<\/span> <em>Hikayat Prang Kompeuni.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Tambeh<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Tambeh adalah hikayat yang banyak mengandung amanat sebagai pedoman kehidupan.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contohnya:<\/span> <em>Hikayat <span style=\"font-weight: normal;\">Tambek Tujoh Blah.<\/span><\/em><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Chara<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Chara adalah hikayat yang mirip dengan biografi. Chara fokus menceritakan seseorang yang dianggap sebagai figur terpuji.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contohnya:<\/span>\u00a0<em>Hikayat Hiyaken Tujoh.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Roman<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roman adalah hikayat yang menceritakan masalah asmara dan rumah tangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Contohnya:<\/span> <em>Hikayat Putroe Gambak Meuh.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: bold; font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Jenis-Jenis Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain bentuk, hikayat juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu aspek isi dan aspek hitoris. Hmm, maksudnya gimana sih?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">Aspek Isi<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Jenis hikayat berdasarkan aspek isi artinya hikayat dibedakan berdasarkan tema cerita yang dipilih. Ada Hikayat Biografi, Hikayat Peristiwa, Hikayat Agama, Hikayat Sejarah, dan Hikayat Cerita (Romansa Percintaan).<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">1. Biografi<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat biografi berfokus pada cerita tentang kehidupan seorang tokoh. Tokoh yang diangkat dalam cerita bisa diambil dari tokoh nyata atau fiksi.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">2. Peristiwa<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat peristiwa menceritakan tentang sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi dengan penggambaran yang didramatisasi dengan keajaiban-keajaiban dan mukjizat.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">3. Agama<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat agama bisa menceritakan tentang seorang tokoh agama, peristiwa keagamaan, atau nilai-nilai hidup yang diajarkan dalam suatu agama.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">4. Sejarah<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat sejarah umumnya bercerita tentang tokoh atau kejadian bersejarah. Walaupun kisahnya tentang sejarah, hikayat tetap bersifat fiksi atau khayalan dari sang pujangga. Kisah dalam hikayat ini biasanya dikaitkan dengan kisah sejarah yang pernah terjadi di suatu masa. Latar belakang peristiwa dalam cerita juga bisa saja disesuaikan dengan kejadian yang pernah terjadi dalam sejarah.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">5. Cerita (Romansa Percintaan)<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti namanya, hikayat cerita menekankan pada kisah yang dikaitkan, terutama tentang romansa percintaan. Selain itu, hikayat ini biasanya juga disertai dengan latar belakang sejarah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">Aspek Historis<\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Jenis hikayat berdasarkan aspek historis artinya hikayat dibedakan berdasarkan bahasa, latar belakang agama, dan negara yang berbeda. Ada Hikayat Melayu, Hikayat Jawa, Hikayat Arab-Persia, dan Hikayat Hindu.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">1. Melayu<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat Melayu umumnya memiliki cerita yang kental akan unsur agama Islam.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">2. Jawa<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat Jawa memiiliki kemiripan dalam sifat, tokoh dan alurnya seperti hikayat yang ada di India dan Arab. Hal ini disebabkan budaya Jawa yang dipengaruhi oleh agama Islam dan Hondu. Percampuran budaya yang berbeda inilah yang pada akhirnya melahirkan budaya baru.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">3. Arab-Persia<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat Arab dan Persia umumnya mengangkat tema Islam dan mengandung nilai-nilai keislaman. Ini sejalan dengan mayoritas agama yang dianut di sana yaitu agama Islam.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">4. Hindu atau India<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikayat Hindu atau India memiliki ciri khas adanya unsur agama Hindu. Kisah utama dalam hikayat Hindu adalah cerita tentang Sri Rama dan Mattabbhroto. Namun, seiring berjalannya waktu, dua kisah tersebut sudah banyak berkembang menjadi kisah lainnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Struktur Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Struktur hikayat pada dasarnya mirip dengan karya sastra naratif lainnya, hanya saja disampaikan dengan gaya bahasa lama yang khas. Berikut struktur hikayat beserta penjelasannya:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Abstrak (jika ada)<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagian ini biasanya berupa<strong> ringkasan atau gambaran awal cerita<\/strong>. Tidak semua hikayat memiliki abstrak, tetapi jika ada, fungsinya adalah menarik perhatian pembaca atau pendengar agar tertarik mengikuti cerita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Orientasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagian ini memperkenalkan <strong>latar cerita<\/strong>, seperti waktu, tempat, suasana, dan tokoh-tokoh yang akan berperan. Orientasi berfungsi sebagai pembuka agar pembaca mengenal dunia cerita terlebih dahulu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Komplikasi (peristiwa)<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada bagian ini diceritakan <strong>urutan peristiwa<\/strong> yang dialami tokoh. Peristiwa biasanya tersusun sebab-akibat, dan di sinilah <strong>konflik atau masalah<\/strong> mulai muncul. Bagian komplikasi sering dipenuhi dengan kejadian luar biasa, keajaiban, atau kesaktian tokoh dalam hikayat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Resolusi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Resolusi adalah bagian <strong>penyelesaian konflik<\/strong>. Di sini dijelaskan bagaimana masalah yang dihadapi tokoh utama akhirnya diselesaikan, bisa dengan cara ajaib, pertolongan tokoh lain, atau kemenangan tokoh utama atas lawannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Koda (penutup)<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagian ini berisi <strong>amanat atau pesan moral<\/strong> yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Tidak semua hikayat mencantumkan koda secara eksplisit, tetapi seringkali tersirat dari akhir cerita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"font-size: 20px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Hikayat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Hikayat Bunga Kemuning<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang putri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana, tetapi iaterlalu sibuk dengan kepemimpinannya. Krena itu, ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesepuluh putri itu dinamai dengan nama-nama warna. Putri Sulung bernama Putri Jambon. Adik-adiknya dinamai Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, dan Putri Kuning. Baju yang mereka pakai pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Putri Kuning sedikit berbeda, ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua putri-putrinya. \u201cAku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?\u201d tanya raja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku ingin perhiasan yang mahal,\u201d kata Putri Jambon. \u201cAku mau kain sutra yang berkilau-kilau,\u201d kata Putri Jingga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Lain halnya dengan Putri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. \u201cAyah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,\u201d katanya. Kakak- kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAnakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,\u201d kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan putrinya masih bermain di danau, sementara Putri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAnakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apaapa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!\u201d kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,\u201d kata Putri Kuning dengan lemah lembut. \u201cYang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,\u201d ucapnya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keesokan hari, Putri Hijau melihat Putri Kuning memakai kalung barunya. \u201cWahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Putri Hijau!\u201d katanya dengan perasaan iri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAyah memberikannya padaku, bukan kepadamu,\u201d sahut Putri Kuning. Mendengarnya, Putri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudarasaudaranya dan menghasut mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarinya berbuat baik!\u201d kata Putri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Putri Kuning muncul. Kakak kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Putri Kuning meninggal.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah mempelajari karakteristik hikayat, kamu jadi tahu kan perbedaannya dengan cerita pendek serta novel? Materi ini dibahas lebih dalam di kelas <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/\" rel=\"noopener\">Brain Academy<\/a>, lho! Kamu bisa ikut kelas gratis secara online atau datang langsung ke cabang terdekat. Semangat menuntut ilmu!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/kelas.brainacademy.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/e5070f85-673f-4221-bef5-1021e2f4d494.jpeg\" alt=\"[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online \" width=\"821\" height=\"200\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\">Referensi:<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\"><em>Suherli, Maman Suryaman, Aji Septiaji, Istiqomah. 2017. Bahasa Indonesia Kelas X Edisi Revisi<\/em>. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Mahabharata [Daring]. Tautan: https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/08\/09\/140000179\/kitab-mahabharata-penulis-isi-dan-kisahnya?page=all.<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">Bentuk Hikayat [Daring]. Tautan: https:\/\/ruangpengetahuan.co.id\/pengertian-hikayat\/<\/p>\n<p style=\"font-weight: normal; text-align: justify;\">(Diakses 21-26 Oktober 2022)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":4,"featured_media":394,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg"],"_edit_lock":["1759136801:1"],"_edit_last":["1"],"_wp_old_date":["2022-11-03","2023-09-06","2024-09-19"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Hikayat adalah salah satu cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Apa saja ciri, bentuk, kaidah kebahasaan, dan contohnya? Simak penjelasannya!"],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null]},"categories":[1],"tags":[28,16,19],"class_list":["post-394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-materi-belajar","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-29T04:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-29T09:06:55+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat\",\"name\":\"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg\",\"datePublished\":\"2025-09-29T04:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-29T09:06:55+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\",\"name\":\"Salsabila Nanda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Salsabila Nanda\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2025-09-29T04:00:00+00:00","article_modified_time":"2025-09-29T09:06:55+00:00","author":"Salsabila Nanda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Salsabila Nanda","Est. reading time":"12 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat","name":"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg","datePublished":"2025-09-29T04:00:00+00:00","dateModified":"2025-09-29T09:06:55+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/hikayat.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/teks-hikayat#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783","name":"Salsabila Nanda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Salsabila Nanda"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=394"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5933,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394\/revisions\/5933"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}