{"id":1924,"date":"2025-10-20T11:00:19","date_gmt":"2025-10-20T04:00:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?p=1924"},"modified":"2025-10-20T11:05:59","modified_gmt":"2025-10-20T04:05:59","slug":"peribahasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa","title":{"rendered":"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian &#038; Cirinya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg\" alt=\"Pengertian peribahasa, asal usul, fungsi dan contohnya\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Peribahasa sering kita temukan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Bagaimana peribahasa terbentuk dan apa fungsinya?<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Sebagai orang Indonesia, tentu sudah nggak asing dengan istilah \u201cperibahasa\u201d. Contohnya kayak gini nih:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><span style=\"font-weight: 500;\">\u201cBesar pasak daripada tiang,\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Artinya pemasukan tidak berbanding lurus dengan pengeluaran.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Tapi, kamu penasaran nggak dari mana peribahasa itu berasal? Lalu, apa saja sih peran atau fungsi peribahasa dalam komunikasi? Yuk, kita belajar bersama lewat artikel contoh peribahasa berikut ini!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Peribahasa<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, <strong>peribahasa adalah<\/strong><\/span><span style=\"font-weight: 500;\"><strong> kalimat yang mengiaskan maksud tertentu<\/strong>. Peribahasa dapat berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip atau aturan tingkah laku.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Itu sebabnya, kalau kamu perhatikan lebih detail, peribahasa tak sembarang dibuat. Ada nasihat yang tersirat untuk menjalani kehidupan. Misalnya, peribahasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">besar pasak daripada tiang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> mengingatkan kita untuk tidak boros dan hidup sesuai kemampuan. Lalu, peribahasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">nasi sudah menjadi bubur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> yang artinya perbuatan yang telah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Sejarah Peribahasa<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Dari mana asal usul peribahasa?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Peribahasa punya sejarah yang panjang dan kompleks, sehingga asal-usulnya sulit dilacak secara pasti. Namun, perlu diketahui, peribahasa tidak hanya berlaku di Indonesia saja, lho. Peribahasa berkembang dalam budaya dan bahasa yang berbeda di seluruh dunia selama berabad-abad. Beberapa peribahasa berasal dari cerita rakyat, dongeng, mitologi, atau <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/jenis-teks-sejarah\"><strong>kisah-kisah sejarah<\/strong><\/a> tertentu. Isi peribahasa mencerminkan pengalaman hidup dan nilai moral yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Nah, kalau di Indonesia, peribahasa diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita yaitu bangsa Melayu. Namun, tidak diketahui secara detail identitas pencipta dari setiap peribahasa. Sejak dahulu, orang Melayu sudah menggunakan bahasa yang puitis untuk mengungkapkan pemikiran mereka berdasarkan pengamatan terhadap alam, budaya, adat istiadat, serta pengalaman hidup.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Ciri-Ciri Peribahasa<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa saja sih ciri-ciri dari peribahasa? Berikut diantaranya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>1. Mengandung Makna Kiasan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peribahasa menggunakan bahasa kiasan atau metafora untuk menyampaikan pesan atau makna yang lebih dalam.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>2. Mengandung Nasihat<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri utama peribahasa adalah susunan kalimat yang mengandung nasihat tentang nilai kehidupan, etika, dan kearifan lokal. Peribahasa memberi arahan tentang bagaimana seharusnya bertindak atau menjalani hidup.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>3. Singkat dan Padat<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peribahasa terdiri dari susunan kata atau frasa yang sifatnya tetap. Kata dalam peribahasa sudah ada sejak zaman dahulu dan tidak bisa diubah. Contoh: \u201c<em>ada udang di balik batu<\/em>,\u201d artinya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seseorang yang bertindak dengan maksud tersembunyi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Peribahasa ini tidak bisa diubah menjadi \u201c<em>ada udang di balik bakwan<\/em>,\u201d atau \u201c<em>ada udang di balik aquarium,<\/em>\u201d ya hehe.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/contoh-pantun\">Penjelasan Jenis Pantun Beserta Contohnya, Jangan Tertukar Ya!<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><strong>Fungsi Peribahasa<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 500;\">Peribahasa mempunyai peran khususnya dalam bidang bahasa dan budaya. Apa saja ya?<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>1. Melestarikan Nilai dan Kearifan Lokal<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peribahasa diperoleh dari pengalaman hidup dalam suatu budaya. Mereka menjadi sarana untuk mewariskan nilai-nilai, etika, dan kebijaksanaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan menggunakan peribahasa, nilai-nilai budaya dapat dilestarikan dan dipelajari secara lebih menyeluruh.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>2. Mendorong Kreativitas Berbahasa<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peribahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, terutama pada pembuatan karya sastra. Peribahasa sering kita temukan dalam cerita pendek, novel, maupun hikayat. Hal ini memberikan daya tarik, memancing minat pembaca, serta menjadikan teks lebih enak dibaca.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\"><strong>3. Menyampaikan Pesan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peribahasa dibentuk dari kalimat singkat serta mengandung pesan yang sarat makna. Di dalamnya, terdapat bahasa kiasan untuk menggambarkan situasi atau memberikan nasihat. Dengan penggunaan peribahasa, pesan-pesan kompleks dapat disampaikan dengan cara yang singkat, jelas, dan mudah diingat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/pengertian-pantun\">Belajar Membuat Pantun dengan Mengenal Struktur dan Ciri-Cirinya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><strong>Contoh Peribahasa dan Artinya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Supaya lebih paham, yuk lihat contoh peribahasa beserta artinya berikut ini.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada gula, ada semut: Jika ada sesuatu yang menguntungkan, pasti akan ada orang yang tertarik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga: Keuntungan yang kecil tetap berguna.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada asap, ada api: Jika ada tanda-tanda masalah, maka ada kemungkinan masalah yang lebih besar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada udang di balik batu: Ada sesuatu yang tersembunyi dari sebuah tindakan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Air beriak tanda tak dalam: Kehadiran masalah atau konflik menunjukkan ada ketidakharmonisan di dalam.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ada air, ada ikan: di mana kita tinggal, pasti akan ada rezeki.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Air susu dibalas air tuba: Kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ada angin ada pohonnya: Segalahal ada asal-usulnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai aur dengan tebing: Sangat cocok atau serasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kera mendapat bunga: Sangat senang atau gembira.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai pinang dibelah dua: Saling berkepentingan atau membagi hasil.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai pungguk merindukan bulan: Merindukan sesuatu yang mustahil.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kucing mati rasa: Tidak peka atau acuh tak acuh.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai tikus ke kandang kelinci: Tertipu atau masuk ke tempat yang tidak seharusnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai telur di ujung tanduk: Dalam keadaan kritis atau berbahaya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai air di daun talas: Tidak memiliki dampak atau manfaat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai air di tempayan yang retak: Terbongkar rahasia atau aib.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kera mendapat bala: Mengalami kesialan atau kesulitan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai burung hantu bertengger di siang hari: Seseorang yang tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai api dalam sekam: Seseorang yang memiliki potensi berbahaya tapi belum terungkap.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kacang lupakan kulit: Seseorang yang tidak menghargai atau melupakan bantuan atau bakti orang lain.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai paku dalam kantong: Seseorang yang tidak berguna atau tidak memiliki kegunaan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai gajah di pelupuk mata: Seseorang yang terlalu besar atau mencolok.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai anjing dengan kucing: Saling bermusuhan atau tidak akur.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kuda lumping tak berkepala: Tanpa pimpinan atau kepemimpinan yang jelas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai mencari jarum di tumpukan jerami: Sangat sulit atau hampir tidak mungkin.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai anjing mati tak berbunyi: Seseorang yang tidak ada reaksinya atau diam seribu bahasa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai rumah tak beratap: Tidak lengkap atau tidak sempurna.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai menelan mentah-mentah: Menerima sesuatu tanpa pikir panjang atau tanpa mempertimbangkan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai kepiting dalam rebusan: Berada dalam bahaya atau kesulitan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai menepuk air di dulang: Usaha yang tidak menghasilkan apapun atau sia-sia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai menanam padi di atas batu: Tidak mungkin atau mustahil.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai telur di ujung tanduk: Dalam keadaan kritis atau berbahaya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai batu dalam sumur: Seseorang yang tidak peka atau acuh tak acuh.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagai air di daun talas: Tidak memiliki dampak atau manfaat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cepat bergaul, cepat berpulang: Orang yang mudah bergaul juga cepat meninggalkan tempat tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cucu-cucu jadi panglima, kakek moyang tinggal nama: Generasi penerus yang berhasil menggantikan peran yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Cacing menjadi ular naga: Orang yang semula miskin berubah menjadi orang kaya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Campak bunga dibalas dengan tahi: Kebaikan dibalas dengan keburukan (kejahatan).<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Cepat kaki ringan tangan: Cekatan dan cepat melakukan suatu perbuatan. Senantiasa cepat bersedia menolong orang lain.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Cerdik perempuan melabuhkan, saudagar muda mengutangkan: Orang yang tidak pandai dan juga belum berpengalaman seringkali mendatangkan kesusahan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung: Menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan di tempat yang dikunjungi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Diam-diam ubi berisi: Orang yang pendiam ternyata memiliki kelebihan atau keahlian yang tak terduga.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam laut dapat ditumpangi, dalam hati siapa yang tahu: Sebenarnya hanya diri sendiri yang mengetahui isi hati seseorang.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Datang kelihatan muka, pergi tampak punggung: Datang mengucapkan salam, pergi berpamitan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Darah lebih kental daripada air: Hubungan keluarga lebih kuat dari hubungan apa pun.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Dahan pembaji batang: Orang kepercayaan yang menyalahgunakan harta benda tuannya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Dahulu bajak daripada jawi: Orang muda yang belum memiliki pengalaman dijadikan pemimpin orang tua yang berpengalaman.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Dahulu duduk dari cangkung: Cepat marah sebelum mengetahui perkara sebenarnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Enak di mulut, sakit di perut: Sesuatu yang terasa enak atau menyenangkan pada awalnya, tetapi memiliki dampak negatif atau konsekuensi yang tidak diinginkan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Emas tidak akan luntur: Nilai atau kebaikan seseorang tidak akan berubah atau hilang seiring waktu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Esok hari lebih baik dari pada hari ini: Harapan atau keyakinan bahwa masa depan akan lebih baik daripada saat ini.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gantung harap di ujung tanduk: Berharap pada sesuatu yang tidak pasti atau tidak bisa diandalkan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gantungkan cita-cita setinggi langit: Menetapkan tujuan yang tinggi dan tidak terbatas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gantung sejuta harapan di ujung jari: Memiliki banyak harapan atau ekspektasi yang tinggi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang: Keberhasilan atau prestasi seseorang yang ditinggalkan setelah mereka tiada.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Garam di laut, asam di hati: Menyimpan perasaan atau ketidakpuasan yang mendalam.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gemah ripah loh jinawi: Keadaan hidup yang aman, makmur, dan damai.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Habis manis sepah dibuang: Setelah mendapatkan manfaat atau keuntungan dari seseorang, mereka akan dilupakan atau diabaikan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri: Orang sering kali lebih dihormati atau dihargai di tempat asing daripada di tempat sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading: Orang yang kuat atau berpengaruh meninggalkan warisan atau jejak setelah mereka tiada.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Harapkan pagar, pagar makan padi: Kepercayaan terhadap seseorang atau sesuatu yang dapat merugikan kita sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan datang tak diundang, air mata pun mengalir tak terbendung: Kita tidak dapat mengendalikan atau menghindari semua hal buruk yang terjadi dalam hidup.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup segan, mati tak mau: Kehidupan yang dijalani dengan rasa hormat dan penuh tanggung jawab akan mempersiapkan kita untuk kematian dengan baik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Harapkan cemas, tak akan dapat selemas: Mengharapkan atau memikirkan sesuatu tidak akan memberikan hasil yang sebanyak atau sebaik tindakan nyata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ikan hiu dengan buaya berjuang di air, gajah berjuang di darat: Setiap orang berada di keahliannya sendiri-sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan menilai buku dari sampulnya: Jangan menilai seseorang berdasarkan penampilan luar saja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh di mata, dekat di hati: Walaupun jarak fisik jauh, tetapi rasa kasih sayang atau perhatian tetap dekat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan mencampur aduk antara telur dan ayam: Jangan mengacaukan atau membingungkan urutan atau hubungan yang seharusnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan panjang dimulai dengan satu langkah: Setiap perjalanan atau usaha dimulai dengan tindakan pertama.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kecil hati, jadi kecil langkah: Kurangnya kepercayaan diri akan menghambat kemajuan atau kesuksesan seseorang.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Karena nila setitik, rusak susu sebelanga: Hanya karena kesalahan kecil menghilangkan segala kebaikan yang diperbuat.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Laut beriak, akibatnya terasa di sungai: Dampak atau konsekuensi dari suatu peristiwa akan dirasakan oleh orang-orang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Makan buah simalakama: Berada dalam dilema atau situasi sulit di mana setiap pilihan memiliki konsekuensi yang sulit.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Malu bertanya, sesat di jalan: Rasa malu atau sungkan untuk bertanya akan membuat seseorang tersesat atau kehilangan arah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi sudah menjadi bubur: Suatu hal atau situasi sudah tidak dapat diubah atau dikembalikan seperti semula.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Orang bijak berbicara, orang bodoh beraksi: Orang yang cerdas atau bijak akan mengungkapkan pemikirannya melalui kata-kata, sementara orang yang bodoh akan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Padi jangan dikebiri: Jangan menghalangi atau menghambat pertumbuhan atau perkembangan seseorang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti ayam jantan mendapat ayam betina: Merasa bahagia atau bangga atas pencapaian atau keberhasilan yang diperoleh.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga: Seseorang yang cerdas atau pandai pun bisa membuat kesalahan atau menghadapi kegagalan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil menyelam minum air: Melakukan dua hal sekaligus atau memanfaatkan kesempatan dengan baik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setitik air hujan jatuh ke pelimbahan, sepenuh hari kurma di pangkuan tak akan basah: Hal kecil yang konsisten lebih berharga daripada hal besar yang hanya dilakukan sesekali.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sedia payung sebelum hujan: Bersiap-siap atau berjaga-jaga sebelum terjadi masalah atau kesulitan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti ketiban durian runtuh: Mendapatkan sesuatu yang diinginkan secara tiba-tiba atau dengan keberuntungan yang besar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti katak dalam tempurung: Seseorang yang memiliki pandangan terbatas atau tidak terbuka terhadap pemikiran baru atau pengalaman yang berbeda.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Serapat-rapat menyimpan bangkai pasti tercium juga: Walau menutupi kejahatan, pasti akan diketahui orang juga.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Semudah membalik telapak tangan: Terlalu mudah.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Selama hayat masih dikandung badan: Selama masih hidup, tidak boleh putus asa.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga: Tidak ada yang sempurna, setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan atau mengalami kegagalan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Seperti anak ayam kehilangan induknya: Orang yang mengalami kebingungan dan kebimbangan dalam hatinya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada rotan, akar pun jadi: Ketika seseorang tidak memiliki pilihan atau sumber daya tertentu, mereka harus menggunakan apa yang ada.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada gading yang tak retak: Tidak ada yang sempurna, setiap orang atau benda memiliki kelemahan atau kekurangan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tangan di atas, tangan di bawah: Orang yang memiliki kekuasaan atau otoritas lebih tinggi harus melindungi atau membantu yang lebih rendah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada burung terbang tinggi jika tak melayang: Setiap pencapaian besar memerlukan usaha dan risiko yang sesuai.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tong kosong nyaring bunyinya: Orang yang tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman yang cukup seringkali bersuara keras tanpa makna yang sebenarnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tak kenal maka tak sayang: Kesempatan untuk mencintai atau menghargai seseorang hanya muncul ketika kita mengenal mereka lebih baik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada gunung tinggi yang tidak bisa didaki: Tidak ada tantangan yang terlalu besar jika kita memiliki tekad dan usaha yang kuat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Umur manusia sepasang sepatu: Orang memiliki pasangan hidup yang cocok atau setara.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang dikejar tak dapat, yang dikendong berciciran: Ketika seseorang terlalu berambisi atau terlalu rakus, mereka mungkin kehilangan apa yang sudah mereka miliki.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yang tinggi itu akan rendah, yang rendah akan tinggi: Keadaan dapat berubah seiring waktu, dan yang sebelumnya tinggi dapat menjadi rendah, begitu pula sebaliknya.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\">Acap melempar akan jatuh jua: Karena rajin, lambat-laun berhasil juga.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Abu saja tak hinggap: Kiasan kepada sesuatu yang sangat licin dan mengkilap (atau suatu hal yang tak terjangkau).<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ada adat dan lembaganya, ada undang dan laksananya: Segala sesuatu ada hukum dan aturannya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ada bukit di balik pendakian: Ada masalah baru di balik masalah yang sudah dipecahkan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Air tenang menghanyutkan: Orang yang pendiam, tapi banyak ilmu atau berdampak besar secara diam-diam.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Bergantung pada akar lapuk: Mengharapkan bantuan pada orang yang tak mungkin memberikan bantuan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Dari telaga yang jernih tak akan mengalir air yang keruh: Orang baik akan melahirkan keturunan yang baik pula.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Hangat-hangat tahi ayam: Kemauan yang tidak tetap (mudah berubah).<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Hasrat hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai: Ingin mempunyai atau memiliki sesuatu, tapi sayang hanya sebatas impian.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ilmu orang dihormati, lebih orang dihargai: Kepandaian dan kelebihan seseorang harus dihargai.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Makan bubur panas-panas: Terlalu berharap akan memperoleh rezeki, lalu bertindak tergesa-gesa sehingga kecewa.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Malang tak boleh ditolak, mujur tak bisa diraih: Nasib buruk tak dapat dihindarkan, begitu juga nasib baik tak bisa dipaksa.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Nasi tersaji di lutut: Keuntungan yang diperoleh dengan mudah.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Naik dari janjang, turun dari tangga: Melakukan suatu pekerjaan menurut aturan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Orang tua diajar makan pisang: Orang yang sudah tahu (ahli\/pandai) tidak usah diajari.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Seperti cacing kepanasan: Tidak tenang, selalu gelisah.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Tambah air tambah sagu: Bila pekerjaan bertambah, maka penghasilannya pun bertambah pula.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Takkan ada katak beranak ular: Seseorang yang berjiwa pengecut selamanya tidak akan menjadi pemberani.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Usul menunjukan asal: Kelakuan seseorang dapat menunjukkan dari mana asal keturunannya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Zaman beralih musim bertukar: Segala sesuatu hendaknya disesuaikan dengan keadaan zaman.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Bagai duri dalam daging: Sesuatu yang selalu menyakitkan hati atau mengganggu pikiran.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Makan keringat orang: Mengecap kesenangan dengan cara memeras orang lain.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Nyawa bergantung di ujung kuku: Dalam keadaan yang sulit dan berbahaya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Panas setahun dihapuskan hujan sehari: Kebaikan yang banyak hilang karena kesalahan sekali.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Retak-retak mentimun: Retak halus-halus hanya di luar saja.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Rambut sama hitam, hati masing-masing: Semua orang mempunyai pendapat (kemauan) masing-masing.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah: Raja yang adil disayangi dan raja yang zalim dibenci.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya: Usaha yang tiada henti pasti akan membuahkan hasil yang baik.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Sumbing melukai, retak melampaui tara: Kesalahan besar.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Sedia payung sebelum hujan: Bersiap-sedia atau berjaga-jaga sebelum terjadi masalah atau kesulitan.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Utang emas boleh dibayar, utang budi dibawa mati: Budi baik orang hanya dapat dibalas dengan kebaikan pula.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Umur setahun jagung: Belum berpengalaman.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Waktu adalah uang: Dalam melakukan sesuatu, hendaklah menghargai waktu, karena waktu yang terbuang tidak dapat dikembalikan lagi.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Walau sungai mengalir ke laut, laut tiada akan bertambah: Pemberian orang miskin kepada orang kaya tidak akan terasa atau mengubah keadaan mereka.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Yang berbaris yang berpahat, yang bertakuk yang bertebang: Pekerjaan yang dilakukan menurut aturannya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak: Kesalahan kecil orang lain tampak jelas, padahal kesalahan sendiri yang besar tidak terlihat.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Indah kabar daripada rupa: Suatu keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang kita perkirakan sebelumnya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Jatuh di atas tilam: Mendapat keuntungan besar\/tidak disangka.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Jangan memancing di air keruh: Mengambil keuntungan di atas peristiwa yang menyedihkan atau kacau.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Dunia tak selebar daun kelor: Dunia itu luas dan tidak sempit.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua: Meski jasad manusia sudah tak berbentuk lagi, kalau melakukan kebaikan maka orang akan tetap mengingatnya.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Musang berbulu ayam: Orang jahat yang berpura-pura baik.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Menang jadi arang, kalah jadi abu: Menang atau kalah tetap rugi\/kehilangan sesuatu.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Tak ada burung terbang tinggi jika tak melayang: Setiap pencapaian besar memerlukan usaha dan risiko yang sesuai.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Tangan di atas, tangan di bawah: Orang yang memiliki kekuasaan atau otoritas lebih tinggi harus melindungi atau membantu yang lebih rendah.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Murah dimulut, mahal ditimbangan: Mudah sekali berjanji tetapi tidak pernah menepati.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah: Ilmu yang tidak diamalkan tidak berguna.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Seperti pohon yang berbuah, dahan yang tinggi mudah dirobek angin: Orang yang banyak punya akan banyak diserang atau menghadapi masalah.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga: Tidak ada yang sempurna atau terus selalu berhasil, setiap orang pasti pernah gagal.<\/li>\n<li aria-level=\"1\">Matahari tidak akan tertutup awan selamanya: Segala kesulitan ada akhirnya; kegelapan atau kesusahan akan berlalu.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, apa contoh dan penjelasan di atas membantu kamu dalam memahami peribahasa? Kalau kamu masih punya pertanyaan tentang materi ini, atau pelajaran lainnya, yuk ikut <strong><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/\" rel=\"noopener\">bimbel Brain Academy<\/a>\u00a0<\/strong>yang super duper seru! Apalagi dengan konsep gabungan les offline dan online. Bisa coba gratis dulu kok!<\/p>\n<p><a class=\"rg-cta\" href=\"https:\/\/bayar.ruangguru.com\/npf\/packages?tag=brainacademy-offline&amp;referralCookiesId=9745426a-a83d-4291-aaf1-de4afc5baa16&amp;referralCookiesId=9745426a-a83d-4291-aaf1-de4afc5baa16&amp;referralCookiesId=9745426a-a83d-4291-aaf1-de4afc5baa16&amp;referralCookiesId=60e26517-e3f4-4dbc-84b4-4592e3094835&amp;referralCookiesId=60e26517-e3f4-4dbc-84b4-4592e3094835\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/289c64b7-123e-48be-a3f9-842a150e3fa2.png\" alt=\"IDN CTA Blog Brain Academy Center\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah Peribahasa [Daring]. Tautan: http:\/\/sastra.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/Zaitul-Azma-UPM-Pengkategorian-Peribahasa-.-.-..pdf\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peribahasa sering kita temukan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Bagaimana peribahasa terbentuk dan apa fungsinya? &#8212; Sebagai orang Indonesia, tentu sudah nggak asing dengan istilah \u201cperibahasa\u201d. Contohnya kayak gini nih: \u201cBesar pasak daripada tiang,\u201d Artinya pemasukan tidak berbanding lurus dengan pengeluaran.\u00a0\u00a0 Tapi, kamu penasaran nggak dari mana peribahasa itu berasal? Lalu, apa saja sih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1924,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1760933026:1"],"_edit_last":["1"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Peribahasa sering kita temukan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Yuk, simak penjelasan, fungsi, ciri-ciri, sejarah, serta contohnya!"],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg"],"_wp_old_slug":["pengertian-peribahasa-asal-usul-fungsi-dan-80-contohnya"],"_wp_old_date":["2023-06-09","2023-10-12","2024-10-14"]},"categories":[1],"tags":[28,16,19],"class_list":["post-1924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-materi-belajar","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian &amp; Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian &amp; Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Peribahasa sering kita temukan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Bagaimana peribahasa terbentuk dan apa fungsinya? &#8212; Sebagai orang Indonesia, tentu sudah nggak asing dengan istilah \u201cperibahasa\u201d. Contohnya kayak gini nih: \u201cBesar pasak daripada tiang,\u201d Artinya pemasukan tidak berbanding lurus dengan pengeluaran.\u00a0\u00a0 Tapi, kamu penasaran nggak dari mana peribahasa itu berasal? Lalu, apa saja sih [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-20T04:00:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-20T04:05:59+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa\",\"name\":\"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian & Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg\",\"datePublished\":\"2025-10-20T04:00:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-20T04:05:59+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian &#038; Cirinya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\",\"name\":\"Salsabila Nanda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Salsabila Nanda\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian & Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian & Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_description":"Peribahasa sering kita temukan dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Bagaimana peribahasa terbentuk dan apa fungsinya? &#8212; Sebagai orang Indonesia, tentu sudah nggak asing dengan istilah \u201cperibahasa\u201d. Contohnya kayak gini nih: \u201cBesar pasak daripada tiang,\u201d Artinya pemasukan tidak berbanding lurus dengan pengeluaran.\u00a0\u00a0 Tapi, kamu penasaran nggak dari mana peribahasa itu berasal? Lalu, apa saja sih [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2025-10-20T04:00:19+00:00","article_modified_time":"2025-10-20T04:05:59+00:00","author":"Salsabila Nanda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Salsabila Nanda","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa","name":"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian & Cirinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg","datePublished":"2025-10-20T04:00:19+00:00","dateModified":"2025-10-20T04:05:59+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/09832574-810a-4d6a-8373-e469771bae24.jpeg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/peribahasa#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"150 Contoh Peribahasa dan Artinya serta Pengertian &#038; Cirinya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783","name":"Salsabila Nanda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Salsabila Nanda"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1924"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6010,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions\/6010"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}