{"id":1594,"date":"2021-01-26T06:15:00","date_gmt":"2021-01-26T06:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=1594"},"modified":"2021-01-26T06:15:00","modified_gmt":"2021-01-26T06:15:00","slug":"kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","title":{"rendered":"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\" alt=\"21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1\" width=\"820\" style=\"width: 820px;\"><\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Artikel ini membahas mengenai tanda-tanda perilaku yang termasuk dalam kategori <em>toxic<\/em> <em>parenting<\/em>&nbsp;dalam mengasuh anak&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">&#8212;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Pernahkah <em>parents<\/em> mendengar <em>toxic parenting<\/em>?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Toxic parenting<\/em> bukan lah konsep yang tetap dalam dunia medis namun ketika orang membahas <em>toxic parenting<\/em> atau<em> toxic parent, <\/em>hal ini dapat <strong>mengarah pada perilaku orang tua yang tidak memperlakukan anak mereka dengan baik dan menyebabkan anak merasa bersalah, ketakutan, dan merasa harus berperilaku sangat patuh pada orangtuanya<\/strong>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Perilaku orang tua yang dapat dikatakan sebagai<em> toxic <\/em>ketika perilaku yang disebutkan di atas berulang dilakukan oleh orang tua sehingga menimbulkan sebuah pola kebiasaan yang mengakibatkan dampak negatif pada kehidupan anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orang tua yang termasuk kategori&nbsp; <em>toxic parents<\/em> biasanya melakukan cara apapun termasuk cara yang dapat mencelakakan atau merusak anak demi memenuhi kebutuhan orang tua sendiri. Contohnya melakukan kekerasan seksual, kekerasan emosional, fisik, dan pengabaian pada anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Parahnya, orang tua yang berperilaku <em>toxic<\/em> tidak akan mengakui kesalahan mereka pada anak dan tidak peduli jika mereka akan melakukan perilaku tersebut pada anak di kemudian hari. Hal ini tentunya akan menciptakan lingkungan yang tidak sehat untuk tumbuh kembang anak secara psikis dan mental.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lalu, tanda-tanda apa yang termasuk dalam kategori <em>toxic parenting<\/em> dalam pengasuhan anak?&nbsp;<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #073763; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong><span style=\"font-size: 18px;\">1. Keinginan Selalu Mengontrol Anak<\/span><\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #073763; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/059697500_1543458004-Dampak-Pola-Asuh-Toxic-Parents-pada-Tumbuh-Kembang-Anak-By-Dmytro-Zinkevych-Shutterstock.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; margin: 0px auto;\" alt=\"Orang tua Terlalu Mengontrol Anak \"><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 14px; font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #4c1130;\">Orang tua Terlalu Mengontrol Anak (Sumber: klikdokter.com)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Hati-hati jika <em>parents<\/em> mempunyai keinginan untuk selalu mengontrol apapun di kehidupan anak termasuk orang-orang yang ada di lingkungan si anak. Hal ini bisa menjadi pertanda bahwa <em>parents <\/em>sudah melakukan <em>emotional abuse<\/em> (kekerasan emosional) dalam kehidupan anak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Keinginan orangtua untuk melakukan yang terbaik adalah hal baik dan wajar, namun <strong>hal ini menjadi bahaya jika orangtua memiliki ketakutan berlebih atas keputusan atau pilihan sang anak dan menganggap anak belum cukup dewasa untuk memutuskan pilihan hidupnya.<\/strong>&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Contohnya, melarang anak memutuskan jurusan kuliahnya sendiri, melarang anak berteman tanpa alasan yang jelas.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Sayangnya, ketakutan berlebihan pada orangtua ini dapat memicu <em>over-controlling<\/em> pada kehidupan anak. Sebabnya anak tidak mempunyai kesempatan untuk memilih keputusannya sendiri.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Hal ini dapat berdampak pada perasaan anak, pada akhirnya anak merasa tersinggung dan berpikir bahwa anak tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk memutuskan pilihan personal hidupnya.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #073763;\">2. Menyiksa&nbsp;<\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #073763;\">Fisik atau Verbal<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #073763;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/ilustrasi-orangtua-memarahi-anak.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" alt=\"Orang tua Memarahi Anak dengan kata Kasar\"><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #073763;\"><span style=\"font-size: 14px;\"><span style=\"color: #4c1130;\">Orang tua Memarahi Anak dengan kata Kasa<span style=\"background-color: #ffffff;\">r<\/span><\/span><span style=\"background-color: #ffffff; color: #4c1130;\"> (Sumber: jabar.tribunnews.com)<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Jika <em>parents<\/em> sering melakukan kekerasan fisik seperti memukul dan mencubit anak, atau melakukan kekerasan verbal seperti memanggil anak dengan perkataan tidak senonoh, mengejek anak dengan kata-kata kasar, mendiami anak dalam waktu lama, mengalihkan kesalahan pada anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Hati-hati! Sebaik mungkin <em>parents<\/em> harus menghentikan kebiasaan tersebut dalam mendidik anak. Apapun bentuk, tindakan, intensitas kekerasan pada anak tidak dapat dibenarkan dan parahnya<strong> kekerasan yang dialami anak dapat menyebabkan terganggunya fungsi otak dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang<\/strong>.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Dilansir dari laman Alodok, kekerasan pada anak juga dapat menimbulkan rendahnya kepercayaan diri anak, kesulitan mempercayai orang lain, keinginan untuk melukai diri sendiri, sampai keinginan untuk bunuh diri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Yuk<\/em> mulai hentikan kekerasan pada anak!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/toxic-positivity\"><strong><span>Toxic Positivity: Ketika Ucapan Positif Berdampak Negatif<\/span><\/strong><\/a><\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong>3. Kurang Empati<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-size: 14px; text-align: center;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/jika-orangtua-terlalu-ikut-campur-dalam-kehidupan-anak-1-700x467.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" alt=\"Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak \"><\/strong><span style=\"color: #741b47;\"><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 14px; text-align: center;\"><span style=\"color: #073763;\"><span style=\"color: #741b47;\">Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak (Sumber: halosehat.com)<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Orang tua yang tidak empati terhadap keadaan anak akan menganggap kebutuhan orang tua lebih penting dari kebutuhan anak<\/strong>. Orang tua seperti ini akan <strong>selalu menuntut anak untuk melakukan sesuatu untuk keuntungan atau kesenangan pribadi si orang tua<\/strong>.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Misalnya, anak harus dituntut untuk selalu mendapat nilai sempurna di sekolah karena hal tersebut dapat menimbulkan kesenangan atau kebanggaan pada diri orang tua.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Namun sayangnya, orang tua tidak memikirkan kemampuan si anak, apakah anak akan mampu untuk selalu mendapatkan nilai sempurna, apakah hal tersebut bisa mengganggu kesehatan mental anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua yang kurang empati akan menimbulkan dampak negatif pada anak, seperti anak akan sering mengabaikan kebutuhannya sendiri, menyalahkan diri sendiri atas ketidakpuasan orang tuanya, tidak memiliki pendapat sendiri.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #073763;\">4. Terlalu Mengkritik Anak<\/span><\/h2>\n<p style=\"font-size: 12px; font-weight: bold; text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-family: helvetica;\"><br \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/toxic-parents.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" alt=\"Orang tua teralu Mengkritik Anak \"><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #741b47;\"><\/span><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #741b47;\"><\/span><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #741b47;\">Orang tua Terlalu Mengkritik Anak (Sumber: id.theasianparent.com)<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-weight: normal;\">Hati-hati <em>parents<\/em> jika telah melakukan kritik berlebih pada anak. Semua hal yang dilakukan oleh anak ditanggapi secara negatif oleh orang tua. <strong>Perilaku orang tua yang \u201cterlalu mengkritik\u201d akan cenderung menyakiti perasaan anak.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-weight: normal;\">Mungkin orang tua bermaksud baik atas kritik yang diberikan namun salah-salah mengkritik dapat menghancurkan kepercayaan diri si anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-weight: normal;\">Misalnya, orang tua mengkritik penampilan anak saat anak mencoba berpenampilan baru, tidak menghargai pencapaian anak dengan membandingkan pencapaian anak lain, mengkritik saat anak menunjukan bakatnya.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-weight: normal;\">Sifat terlalu mengkritik dapat menurunnya rasa kepercayaan diri anak karena anak merasa tidak mampu untuk melakukan apapun dengan benar.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-weight: normal;\"><em>Yuk<\/em>, <em>parents<\/em> lebih sering lagi memberi pujian dan menghargai usaha anak!<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/mengenal-emotional-neglect-and-suppression-dari-film-nkcthi\" rel=\"noopener\" target=\"_blank\">Mengenal Emotional Neglect and Suppression dari film NKCTHI<\/a><\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px; text-align: left;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong>5. Mengganggu Privasi Anak<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/_80530880_708ae04b-df13-4a65-abf9-32e5453d9fa8.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" alt=\"Orang tua Melewati batas privasi anak\"><\/strong><span style=\"font-size: 14px; color: #741b47;\">Orang tua Melewati batas privasi anak (Sumber: bbc.com)<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #000000;\">Ciri-ciri jika<em> parents <\/em>sudah mulai mengganggu privasi anak, yaitu seperti melihat seluruh isi pesan anak dengan teman-teman, membaca buku jurnal anak, mengikuti kemana anak pergi dengan temannya, hingga melanggar batasan yang sudah anak tetapkan&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #000000;\"><span style=\"font-size: 14px;\"><\/span><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #000000;\">Jika orangtua sering menanyakan hal-hal privasi tersebut pada anak tanpa memikirkan batasan yang sudah ditentukan, tentu ini akan membuat anak merasa tidak dihargai oleh orang tuanya dan anak akan merasa tidak dapat diandalkan oleh orang tuanya.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Yuk parents<\/em>, mulai hentikan kebiasaan mengganggu privasi anak di luar batas.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px; text-align: left;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong>6. Menganggap Anak Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Orang Tua&nbsp;<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"color: #073763;\"><strong><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/signs-of-toxic-parents-1.jpg\" width=\"600\" style=\"width: 600px; display: block; margin: 0px auto;\" alt=\"Orangtua membuat Anak Memilih\"><\/strong><\/span><span style=\"font-size: 14px; color: #741b47;\">Orangtua membuat Anak Memilih (Sumber: bonobology.com)<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ciri-ciri ketika orang tua sudah melakukan<em> toxic parenting<\/em> pada anak, ketika orang tua sudah menuntut suatu hal kepada anak seperti menyuruh anak memilih antara orang tua dengan temannya bahkan pasangannya. Atau menyuruh anak sering mengorbankan aktivitas yang mereka sukai demi mengabulkan permintaan orang&nbsp; tua.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orang tua seperti ini cenderung menganggap bahwa perilaku ini untuk membangun hubungan yang sehat dengan anak namun sebenarnya orang tua malah membangun hubungan yang tidak sehat karena <strong>anak dituntut untuk terus mengorbankan apa yang membuat mereka bahagia dan membatasi mereka sebagai individu yang mandiri.&nbsp;<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/10-skill-dasar-yang-penting-untuk-anak-miliki\" rel=\"noopener\" target=\"_blank\"><strong>10 Skill Dasar yang Penting untuk Anak Miliki<\/strong><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Sebagai orangtua pasti menginginkan anaknya untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup mereka. Namun, terkadang melakukan sesuatu yang berlebihan malah akan membatasi anak untuk mendapatkan hal baik dari hidupnya.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Perilaku<em> toxic parenting<\/em> harus diubah sesegera mungkin karena pengalaman-pengalaman yang didapat anak saat mendapat perlakuan buruk dari orang tua akan tertanam dan anak dapat mewarisi perlakuan buruk pada orang lain.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Jika <em>parents<\/em> merasa telah melakukan kesalahan dalam mengasuh anak, cobalah untuk mengubah secara bertahap dan konsisten. Pikirkan bahwa anak merupakan seorang individu yang harus dihormati seperti kita menghormati orang lain.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Yuk<\/em>, mulai ubah kebiasaan <em>toxic parenting<\/em> demi memutus rantai pola asuh yang tidak sehat pada anak kelak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-style: italic;\">Parents<\/span> juga bisa <span style=\"font-style: italic;\">lho<\/span> mengajak anak untuk mendaftar <a href=\"\/online\" rel=\"noopener\" style=\"font-weight: bold;\">Brain Academy Online <\/a><span style=\"font-weight: normal;\">agar anak dapat memiliki pengalaman belajar online yang lebih efektif bersama master teacher di Ruangguru.&nbsp;<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Bunda dan Ayah, Yuk, Kenali Ciri-Ciri Toxic Parents. 3 Agustus 2020. Tautan: https:\/\/www.alodokter.com\/bunda-dan-ayah-yuk-kenali-ciri-ciri-toxic-parents (daring). (Diakses: 13 Januari 2021<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Douglas,M. 11 Mei 2017.&nbsp; Signs You Have A Toxic Parent:<\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">This how you know they&#8217;ve crossed the line from annoying to toxic. <\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Tautan: https:\/\/www.healthyway.com\/content\/signs-you-have-a-toxic-parent\/ (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Efek Kekerasan pada Anak Bisa Berlanjut Hingga Dewasa. 30 Desember 2018. Tautan: https:\/\/www.alodokter.com\/efek-kekerasan-pada-anak-bisa-berlanjut-hingga-dewasa (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Fajar, A. 24 November 2020. Anak yang Dibesarkan Oleh Ortu Narsis Tumbuh Jadi Orang Rendah Diri. Tautan: https:\/\/hellosehat.com\/parenting\/remaja\/efek-pola-asuh-orangtua-narsis\/#gref (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Kusumoastuti,W. 29 November 2019. Dampak Pola Asuh Toxic Parents pada Tumbuh Kembang Anak. Tautan: https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3618988\/dampak-pola-asuh-toxic-parents-pada-tumbuh-kembang-anak (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Gabba, S. 2 Maret 2020. 4 Signs You Are the Child of a Toxic Parent. Tautan: https:\/\/www.psychologytoday.com\/intl\/blog\/addiction-and-recovery\/202003\/4-signs-you-are-the-child-toxic-parent (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ulio &amp; Saskara, A. (2020). Peran Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi \u201cToxic Parents\u201d Bagi Kesehatan Mental Anak. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 5 (2). Tautan: journal.ihdn.ac.id (daring). (Diakses: 13 Januari 2021)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Septiana, T. 27 Oktober 2020. Hati-hati, ini tanda-tanda orangtua narsistik yang perlu diketahui. Tautan: https:\/\/lifestyle.kontan.co.id\/news\/hati-hati-ini-tanda-tanda-orangtua-narsistik-yang-perlu-diketahui?page=all (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Understanding and Dealing with Toxic Parents and Co-Parents. July 16, 2020.&nbsp; Tautan: https:\/\/www.healthline.com\/health\/parenting\/toxic-parents#What-can-you-do-when-dealing-with-a-toxic-parent (daring). (Diakses: 13 Juli 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Sumber Gambar:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua Terlalu Mengontrol Anak. Tautan: https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3618988\/dampak-pola-asuh-toxic-parents-pada-tumbuh-kembang-anak (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Kurangnya Rasa Empati pada Perasaan Anak. Tautan: https:\/\/hellosehat.com\/parenting\/remaja\/efek-pola-asuh-orangtua-narsis\/#gref. (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua Terlalu Mengkritik Anak. Tautan: https:\/\/id.theasianparent.com\/toxic-parents. (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua Melewati Batas Privasi Anak. Tautan: https:\/\/www.bbc.com\/news\/technology-30930512 (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua Memarahi Anak dengan kata Kasar. Tautan: https:\/\/jabar.tribunnews.com\/2019\/04\/02\/hati-hati-saat-memarahi-anak-ini-dampak-yang-mungkin-terjadi?page=all (daring). (Diakses: 13 Janari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua Membuat Anak Memilih. Tautan: https:\/\/www.bonobology.com\/signs-toxic-parents\/ (daring). (Diakses: 13 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px; text-align: justify; font-size: 16px;\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":52,"featured_media":1594,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg"]},"categories":[1],"tags":[52],"class_list":["post-1594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-counselling-parenting"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-01-26T06:15:00+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Elisabeth Garnistia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Elisabeth Garnistia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak\",\"name\":\"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\",\"datePublished\":\"2021-01-26T06:15:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a\",\"name\":\"Elisabeth Garnistia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Elisabeth Garnistia\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/elisabeth-garnistia\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2021-01-26T06:15:00+00:00","author":"Elisabeth Garnistia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Elisabeth Garnistia","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak","name":"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg","datePublished":"2021-01-26T06:15:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/21012021_Yuk_Kenali_Toxic_Parenting_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kenali Toxic Parenting dan Tanda-Tanda yang Membahayakan Anak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a","name":"Elisabeth Garnistia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Elisabeth Garnistia"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/elisabeth-garnistia"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/52"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1594"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1594\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1594"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}