{"id":1576,"date":"2021-02-06T02:00:00","date_gmt":"2021-02-06T02:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=1576"},"modified":"2021-02-06T02:00:00","modified_gmt":"2021-02-06T02:00:00","slug":"mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","title":{"rendered":"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\" alt=\"03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1\" width=\"820\" style=\"width: 820px;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Artikel ini membahas mengenai tantrum yang dialami oleh anak down syndrome dan cara mengatasinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">&#8212;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Setiap orang tua pasti pernah merasakan perilaku anak di luar kendali atau lebih sering dikenal dengan tantrum. Kenyataannya, tantrum bisa dialami oleh semua anak di dunia ini.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Namun, <em>parents<\/em> harus mengerti tantrum yang dialami oleh anak <em>down syndrome<\/em> berbeda dengan tantrum yang dialami oleh anak biasanya. Tantrum yang dialami oleh anak<em> down syndrome <\/em>dinamakan <strong><em>meltdown<\/em><\/strong>.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lalu apa yang membedakan perilaku tantrum dengan <em>meltdown<\/em> dan cara mengatasi saat anak <em>down syndrome<\/em> mengalami <em>meltdown<\/em>?&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Simak ulasan berikut ini.<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Tantrum&nbsp;<\/strong><\/span><\/h2>\n<h2 style=\"font-size: 18px; text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/mother-with-sad-daughter-128867-17-495435ecf7d217266f590647f438eb05.jpg\" alt=\"Ibu Menenangkan Anak Menangis\" width=\"600\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\"><\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 12px;\"><\/span><\/h2>\n<h2 style=\"font-size: 18px; text-align: center;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; font-size: 14px;\">Anak Menangis Dihibur oleh Orangtua (Sumber: Pop mama)<\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Tantrum adalah luapan emosi marah, kecewa, frustasi si anak dikarenakan anak belum dapat mengungkapkan keinginannya atau kebutuhannya secara terang dan jelas.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ketidakmampuan si anak dalam menyampaikan keinginan atau kebutuhannya pada orang tua, guru, atau orang lain di sekitarnya yang membuat orang di sekitarnya tidak mengerti apa yang anak butuhkan atau inginkan. Kondisi seperti ini yang akhirnya dapat memicu anak menjadi marah dan frustasi dan disalurkan melalui perilaku tantrum.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Biasanya, perilaku tantrum dialami pada anak-anak yang belum memiliki kemampuan berbicara secara maksimal atau pada anak balita.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Pemicu perilaku tantrum pada anak biasanya beragam. Mulai dari anak tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, ucapan orangtua yang membuat anak kesal, hingga ketakutan atas lingkungan yang baru anak datangi.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Seperti lingkungan yang begitu bising, ramai, ataupun lingkungan yang dapat membatasi ruang gerak yang dapat memicu tantrum pada anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Berbeda dengan tantrum biasa. Perilaku tantrum yang dialami oleh anak <em>down syndrome, <\/em>biasanya terjadi karena ada masalah di bagian sensori anak, maka seringkali disebut <em>sensory meltdown.<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Apa itu<em> sensory meltdown?<\/em> Simak lebih lanjut ya,<em> parents!<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/4-tanda-tantrum-anak-sudah-melebihi-batas-normal-dan-cara-mengatasinya\" style=\"color: #0b5394;\"><strong>4 Tanda Tantrum Anak Sudah Melebihi Batas Normal dan Cara&nbsp;<\/strong><\/a><a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/4-tanda-tantrum-anak-sudah-melebihi-batas-normal-dan-cara-mengatasinya\" style=\"color: #0b5394;\"><strong>Mengatasinya<\/strong><\/a><\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong><em>Sensory Meltdown&nbsp;<\/em><\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 12px; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/000459600_1536730367-Tips-Mengatasi-Anak-Menangis-dan-Merengek-di-Tempat-Umum-By-MIA-Studio-Shutterstock.jpg\" alt=\"Anak Merengek di Tempat Umum\" width=\"600\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 14px; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Anak Menangis di Tempat Umum (Sumber: Klik Dokter)<\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Berbeda dengan tantrum, <em>sensory meltdown<\/em> adalah kondisi di mana anak mengamuk karena<strong> terlalu banyak rangsangan sensorik yang masuk ke dalam indera <\/strong>anak sehingga membuat anak kebingungan dengan apa yang terjadi dengan dirinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Anak dengan gangguan <em>down syndrome<\/em> biasanya akan sering berperilaku <em>meltdown <\/em>karena mereka sulit untuk mengekspresikan emosi dengan baik. Mudahnya ketika mengalami <em>meltdown,<\/em> anak sedang merasa kewalahan dengan perasaan atau emosi yang dirasakan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ketika anak merasa kewalahan dengan perasaanya, anak akan mulai berperilaku agresif untuk melampiaskan emosi mereka seperti menangis, memukul-mukul, menendang, menggaruk-garuk kulitnya, hingga melempar benda di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Pemicu anak berperilaku <em>meltdown<\/em> pun bisa sangat beragam dan tidak selalu mudah untuk ditebak. Penyebabnya bisa karena suara bising di sekitar anak, anak melihat sesuatu yang mereka tidak suka, rasa makanan yang asing dalam mulutnya, perubahan rencana yang mendadak, cahaya yang sangat silau di sekitar anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lalu apa yang bisa dilakukan ketika anak mengalami <em>sensory meltdown<\/em>?&nbsp;<\/span><\/p>\n<h2 style=\"font-size: 18px;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>3 Cara Mengatasi <\/strong><strong><em>Sensory<\/em><\/strong> <strong><em>Meltdown<\/em><\/strong><strong> pada Anak <\/strong><strong><em>Down Syndrome<\/em><\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10px; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/1111191142.jpg\" alt=\"Ibu Menenangkan anak Menangis\" width=\"600\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\"><\/span><span style=\"font-size: 12px; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 14px; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ibu Menghibur Anak yang menangis (Sumber: Kompas.com)<\/span><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Parents<\/em> dapat mengikuti tiga tips di bawah untuk mengatasi <em>sensory meltdown<\/em> pada anak <em>down syndrome<\/em>, yaitu<\/span><\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"color: #783f04;\"><strong><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">1. Bantu Anak Mengungk<\/span>apkan Emosi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #000000;\">Penyebab anak berperilaku meltdown dikarenakan mereka tidak bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan sehingga anak berperilaku agresif. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu anak memahami dan mengungkapkan perasaan yang mereka rasakan dengan lembut.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: normal; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orang tua bisa membantu anak menyampaikan emosi atau perasaannya melalui visual seperti anak bisa menunjukan perasaannya melalui gambar muka kartun atau animasi, membantu anak memperjelas emosi yang dirasakan melalui mimik wajah, menunjukan bagian tubuh apa yang dirasa tidak nyaman, dan hal-hal lain yang dapat memperjelas emosi atau perasaan yang anak rasakan.&nbsp;&nbsp;<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"color: #783f04;\"><strong style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">2. Beri Instruksi yang Jelas pada Anak<\/strong><\/span><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: 16px;\">Ketika anak mulai berperilaku<em> meltdown<\/em>, orang tua dapat memberikan instruksi yang jelas pada anak apa yang mereka dapat lakukan untuk mengurangi perilaku <em>meltdown<\/em>. Misalnya, \u201cSetelah mandi, kamu boleh bermain sepeda di luar bersama ayah\u201d.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Sebisa mungkin, orang tua menghindari instruksi yang akan membuat anak bingung seperti, \u201cKamu harus mandi sekarang kalau tidak mama akan marah!\u201d atau memberikan instruksi dengan berteriak-teriak yang akan membuat anak semakin bingung.&nbsp;<\/span><\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif; color: #783f04;\"><strong>3. Ajak anak untuk bernyanyi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><span style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">Meskipun mustahil untuk mengajak anak bernyanyi pada saat mengalami <\/span><em style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">meltdown<\/em><span style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">, ternyata aktivitas bernyanyi atau melakukan aktivitas musik bisa menjadi metode yang ampuh dalam mengurangi anak berperilaku <\/span><em style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">meltdown<\/em><span style=\"background-color: transparent; font-size: 1rem;\">.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Penelitian pada tahun 2009 menunjukan bahwa terapi musik dapat memberikan efek positif jangka panjang bagi anak penyandang <em>down syndrome<\/em>. Lipsky (2007) juga menuliskan, musik dapat menjadi media yang tepat untuk mengembangkan potensi anak <em>down syndrome<\/em> karena irama dalam musik secara alamiah dapat mengaktifkan irama dalam otak anak yang berefek pada sensorik dan motorik anak <em>down syndrome<\/em>.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Orangtua dapat meluangkan waktu setiap harinya untuk bermain musik dengan anak, seperti bernyanyi, bermain alat musik, dan menari sambil mendengarkan lagu. Aktivitas musik dapat membantu anak untuk fokus dan membantu anak memunculkan emosi positif yang dapat menurunkan perilaku <em>meltdown<\/em> pada anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/blog.ruangguru.com\/10-cara-menghukum-anak-agar-mereka-memahami-kesalahannya\" style=\"color: #0b5394;\"><strong>10 Cara Menghukum Anak agar Mereka Memahami Kesalahannya<\/strong><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Memang butuh kesabaran dan keahlian yang khusus dalam menangani anak&nbsp; berperilaku &nbsp; <em>meltdown<\/em>. Namun bukan berarti orang tua tidak bisa mengurangi perilaku tersebut pada anak.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Beri waktu untuk mengerti apa yang sering membuat anak berperilaku tantrum atau <em>meltdown <\/em>sangat membantu orangtua dalam proses pencegahan atau penanganan anak berperilaku tantrum atau <em>meltdown<\/em> semakin parah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><em>Parents<\/em> juga dapat mendaftarkan anak bimbingan online dengan <a href=\"\/online\" rel=\"noopener\"><strong>Brain Academy Online <\/strong><\/a>yang dapat membantu anak untuk mendapat pengalaman belajar secara interaktif bersama master teacher unggulan Ruangguru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong><em><br \/><a href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/online\" target=\"_blank\" style=\"text-align: center;\" class=\"rg-cta\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/1d360f7d-2de1-478b-8f5c-c8513705cd85.jpeg\" width=\"648\" height=\"227\" alt=\"BA online - Brain Academy \" \/><\/a><\/p>\n<p><\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Referensi:<\/strong>&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Alfhazri, K. 2019. IDENTIFIKASI PERILAKU TANTRUM DAN SENSORY MELTDOWNANAK AUTIS BERDASARKAN BEHAVIORAL ASSESSMENT DI SLB AUTISMA DIAN AMANAH. Jurnal Widia Ortodidaktika. Vol. 8 (9). Tautan: http:\/\/journal.student.uny.ac.id\/ojs\/index.php\/plb\/article\/view\/16179 (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Anindyaputri, I. (15 November 2019). Panduan Mengajari Anak Penderita Autisme untuk Mengendalikan Diri. Tautan: https:\/\/hellosehat.com\/parenting\/kesehatan-anak\/mengajari-anak-dengan-autisme-mengendalikan-diri\/ (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Rompkes, K. (7 September 2020). Apa Bedanya Anak Tantrum dengan Sensory Meltdown?. Tautan: https:\/\/doktersehat.com\/apa-bedanya-anak-tantrum-dengan-sensory-meltdown\/ (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Apa yang Menyebabkan Anak Mengalami Tantrum?. 29 Juli 2020. Tautan: https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/apa-yang-menyebabkan-anak-mengalami-tantrum (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Kenali Emosi Anak, Apa Perbedaan Tantrum dan Meltdown?. (7 Maret 2018). Tautan: https:\/\/www.popmama.com\/kid\/1-3-years-old\/jemima\/kenali-emosi-anak-apa-perbedaan-tantrum-dan-meltdown\/6 (daring). (Diakses: 7 Januari 2020).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lesmana, B. (18 Maret 2020). 5 Tips Mengendalikan Anak Autisme yang Sedang Alami Meltdown. Tautan: https:\/\/www.popmama.com\/kid\/4-5-years-old\/bella-lesmana\/tips-mengendalikan-anak-autisme-yang-sedang-alami-meltdown\/1 (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Nababan, F. (2015). Efektivitas Perlakukan Bernyanyi Untuk Mengurangi Perilaku Meltdown\/Temper Tantrum Pada Remaja Autis. Jurnal Seni dan Pendidikan Seni. Vol. 13 (2). Tautan: https:\/\/journal.uny.ac.id\/index.php\/imaji\/article\/view\/7889 (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Morin, A. Taming Tantrums vs. Managing Meltdowns. https:\/\/www.understood.org\/en\/learning-thinking-differences\/child-learning-disabilities\/sensory-processing-issues\/taming-tantrums-vs-managing-meltdowns (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<strong><em><br \/><\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>Sumber Gambar:&nbsp;<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Anak Menangis ditenangin oleh orangtua. Tautan: https:\/\/www.popmama.com\/kid\/1-3-years-old\/putri-syifa-nurfadilah\/faktor-penyebab-anak-bisa-tantrum\/5 (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Anak Menangis di Tempat Umum. Tautan: https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3613766\/tips-mengatasi-anak-menangis-dan-merengek-di-tempat-umum (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Ibu Menghibur Anak yang menangis. Tautan: https:\/\/lifestyle.kompas.com\/read\/2018\/07\/26\/092817920\/anak-berteriak-di-depan-umum-jangan-panik-terapkan-4-langkah-ini?page=all (daring). (Diakses: 7 Januari 2021).&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\"><strong><em><\/p>\n<p><\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":52,"featured_media":1576,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg"]},"categories":[1],"tags":[52],"class_list":["post-1576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-counselling-parenting"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"&nbsp;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-02-06T02:00:00+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Elisabeth Garnistia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Elisabeth Garnistia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya\",\"name\":\"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\",\"datePublished\":\"2021-02-06T02:00:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a\",\"name\":\"Elisabeth Garnistia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Elisabeth Garnistia\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/elisabeth-garnistia\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_description":"&nbsp;","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2021-02-06T02:00:00+00:00","author":"Elisabeth Garnistia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Elisabeth Garnistia","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya","name":"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg","datePublished":"2021-02-06T02:00:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/03022021_DOWNSYNDROM_Content_Blog_820x410_Draft1.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-tantrum-anak-down-syndrome-dan-cara-mengatasinya#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengenal Tantrum Anak Down Syndrome dan Cara Mengatasinya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/31396e683ecda3ee253fe8f5e528091a","name":"Elisabeth Garnistia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Elisabeth Garnistia"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/elisabeth-garnistia"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/52"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1576"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1576\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1576"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}