{"id":1039,"date":"2025-08-27T09:00:03","date_gmt":"2025-08-27T02:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=1039"},"modified":"2025-08-27T10:43:19","modified_gmt":"2025-08-27T03:43:19","slug":"mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","title":{"rendered":"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><img decoding=\"async\" style=\"width: 820px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png\" alt=\"Brainies Bertanya - Header Ekologi\" width=\"820\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 16px;\"><em><span style=\"text-align: center; background-color: transparent;\">Apa itu ekologi? Berikut definisi, ruang lingkup, dan macam-macam piramida ekologi dalam kehidupan.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 16px;\">&#8212;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebayang nggak kalau di bumi ini hanya tersisa manusia? Tidak ada hewan, tidak ada tumbuhan, air sungai mengering, bahkan bakteri pun lenyap. Kehadiran mereka sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Nah, ilmu yang mempelajari interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya disebut <span style=\"font-weight: bold;\">ekologi<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Apakah kamu sudah mempelajarinya di sekolah? Kalau lupa, baca artikel ini dulu ya!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify; font-size: 20px; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Ekologi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Dalam bahasa Yunani,\u00a0<em>oikos<\/em> artinya habitat dan\u00a0<em>logos\u00a0<\/em>berarti ilmu. <strong>Ekologi adalah <\/strong><\/span><span style=\"font-weight: normal;\">cabang ilmu Biologi yang membahas <strong>hubungan antar makhluk hidup dengan makhluk hidup lain serta lingkungan di sekitarnya<\/strong>. Istilah ekologi pertama kali ditemukan oleh <strong>Ernst Haeckel<\/strong><span style=\"font-weight: normal;\">, seorang ahli biologi dan <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/seluk-beluk-jurusan-zoologi-untuk-pencinta-hewan\" rel=\"noopener\">zoologi<\/a><\/strong><\/span><strong>\u00a0<\/strong>pada\u00a0tahun 1869.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify; font-size: 20px; font-weight: bold;\"><span style=\"background-color: #ffffff; font-size: 18pt;\">Ruang Lingkup Ekologi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff;\">Apa saja yang dibahas di dalam ekologi? Tentu saja bermacam-macam. Bukan cuma ekosistem, tetapi juga bioma, populasi, komunitas, piramida ekologi, hingga simbiosis antar makhluk hidup.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 18px; font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff; font-size: 18pt; color: #000000;\">1. Ekosistem<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekosistem merupakan tempat organisme berinteraksi dengan habitatnya. Jika kamu pernah mendengar istilah &#8220;<span style=\"font-weight: bold;\">bioma<\/span>&#8220;, kata ini merujuk pada area di permukaan bumi dengan kondisi lingkungan dan organisme yang mirip. <span style=\"font-weight: bold;\">Sebuah ekosistem bisa memiliki lebih dari satu bioma yang disebabkan oleh perbedaan komponen biotik dan abiotiknya.<\/span> Hmm, biar nggak bingung, simak penjelasannya di bawah ini, oke?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">A. Komponen Penyusun Ekosistem<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Di dalam ekosistem, terdapat komponen biotik dan abiotik. <span style=\"font-weight: bold;\">Komponen biotik<\/span>\u00a0terdiri dari <span style=\"font-weight: bold;\">makhluk<\/span> <span style=\"font-weight: bold;\">hidup<\/span>, meliputi: <strong><a href=\"\/blog\/perbedaan-virus-dan-bakteri\" rel=\"noopener\">bakteri<\/a><\/strong>, protista, tumbuhan, hewan, dan manusia. Sedangkan <span style=\"font-weight: bold;\">abiotik<\/span> terdiri dari komponen <span style=\"font-weight: bold;\">tak hidup<\/span>, seperti<\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"color: #000000;\">: tanah, udara,<\/span> air, <span style=\"color: #000000;\">cahaya matahari, curah hujan,<\/span> garam mineral, <span style=\"color: #000000;\">suhu, dan sebagainya.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000;\">B. Bioma<\/span><\/h4>\n<h5 style=\"font-size: 16px; font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Bioma Terestrial<\/span><\/h5>\n<p style=\"font-size: 16px; font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"color: #000000;\">Adalah <span style=\"font-weight: bold;\">bioma yang terdapat pada ekosistem daratan<\/span>. Ada tundra, taiga, hutan gugur, stepa, savana, hutan hujan tropis, dan gurun. Bioma terestrial dibedakan berdasarka<\/span>n <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/kenapa-hujan-bikin-kita-galau-mager-dan-laper\" rel=\"noopener\">jumlah curah hujan<\/a>,<\/strong> <span style=\"color: #000000;\">suhu, serta jenis flora dan fauna yang berada di tempat tersebut.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: bold; color: #000000;\">i. Tundra<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Suhu di Tundra sangatlah dingin, yaitu sekitar -30 sampai 12 derajat Celcius dengan curah hujan 25 cm setiap tahunnya. Kamu dapat menemukan tumbuhan lumut dan <em>lichenes<\/em> di sini. Beruang dan rusa kutub menjadi fauna khas bioma Tundra, karena hanya merekalah yang bisa bertahan di suhu rendah.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">ii. Taiga<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Meskipun tergolong area dingin, suhu di Taiga lebih hangat dibandingkan Tundra, yaitu sekitar -10 sampai 25 derajat Celcius. Curah hujannya berkisar antara 30-100 cm per tahun. Jenis flora yang dapat kamu temui yaitu pohon pinus dan cemara. Sedangkan fauna yang mendominasi bioma Taiga biasanya beruang hitam dan serigala.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">iii. Hutan Gugur \/ Hutan Hujan Temperata<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Mau lihat burung hantu? Kamu bisa berkunjung ke hutan gugur nih. Selain burung hantu, ada pula rusa, pohon\u00a0<em>maple<\/em> dan\u00a0<em>oak<\/em>. Suhu di hutan gugur sekitar -1 sampai 22 derajat Celcius dengan curah hujan 77 hingga 152 cm per tahun.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">iv. Stepa<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Di sini kamu akan menemukan hamparan rumput yang sangat luas. Nggak heran, banyak rusa, bison, sampai kangguru lucu yang mencari makan. Suhu di kawasan stepa memang lumayan panas, bisa mencapai 40 derajat Celcius! Sedangkan curah hujannya berkisar 25 hingga 50 cm per tahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">v. Savana<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Tahukah kamu? Indonesia memiliki savana yang terdapat di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Berbeda dengan stepa yang hanya didominasi rerumputan, Savana juga dikelilingi oleh semak dan pepohonan. Satwa yang terdapat di savana antara lain: sapi, kambing, kerbau, jerapah, bahkan macan. Suhu di sini berkisar antara 20 &#8211; 30 derajat Celcius.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">vi. Hutan Hujan Tropis<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Hutan tropis merupakan bioma yang kaya akan keanekaragaman hayati. Curah hujan di wilayah ini cukup tinggi, yaitu sebanyak 200 &#8211; 450 cm\/tahun dengan suhu 29 derajat Celcius. Indonesia memiliki banyak bioma hutan tropis di setiap pulaunya. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua dengan biodiversitas tertinggi di dunia.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">vii. Gurun<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Gurun merupakan bioma dengan curah hujan terendah, yaitu kurang dari 25 cm per tahun. Suhu di gurun sangat panas dan kering, bisa mencapai 78 derajat Celcius. Hal ini membuat gurun hanya dapat ditempati oleh flora dan fauna tertentu, seperti kaktus, ular, dan unta.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h5 style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000;\">b. Bioma Akuatik<\/span><\/h5>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Adalah bioma yang terdapat pada ekosistem perairan. Terdiri dari bioma air tawar dan bioma air laut. Keduanya dibedakan berdasarkan kadar garam dan tingkat kedalaman air.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">i. Bioma Air Tawar (<em>fresh water<\/em>)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Bioma air tawar memiliki kadar garam yang sangat rendah, yaitu kurang dari 1%. Bioma air tawar digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu Lotik (sungai) dan Lentik (danau). Arus air di lotik lebih deras dan dangkal, sedangkan arus air di lentik cenderung tenang dan lebih dalam.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-weight: bold;\">ii. Bioma Air Laut (<em>marine<\/em>)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Bioma air laut memiliki kadar garam cukup tinggi, sekitar 3,5 %. Contoh flora yang hidup di perairan laut yaitu pohon bakau dan rumput laut. Sedangkan faunanya beranekaragam, seperti udang, cumi-cumi, <a style=\"color: #000000;\" href=\"\/blog\/ikan-adalah-hewan-poikiloterm\" rel=\"noopener\">ikan tuna<\/a>, terumbu karang, dan sebagainya. Secara umum, bioma air laut dibagi menjadi 2 wilayah, yakni <strong>wilayah air laut<\/strong> dan\u00a0<strong>perairan payau<\/strong>.<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff;\"><span style=\"font-weight: normal; background-color: #eeeeee;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Ruang%20Lingkup%20dalam%20Ekologi.png\" alt=\"Ruang Lingkup dalam Ekologi\" width=\"600\" \/><\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"font-size: 18px; font-weight: bold; text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">C. Populasi dan Komunitas<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Populasi adalah kumpulan<span style=\"font-weight: bold;\">\u00a0individu atau organisme dari spesies yang sama<\/span>, berada di area dan waktu yang bersamaan. Contoh: sekelompok sapi di peternakan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sedangkan <strong>komunitas adalah kumpulan populasi dari berbagai spesies yang pada wilayah yang sama<\/strong>. Contoh: di kawasan Savana, terdapat populasi sapi, populasi kerbau, populasi semut, populasi semak-semak, serta populasi pepohonan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 20px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 18pt;\">2. Bentuk Interaksi Antar Makhluk Hidup<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sepanjang hidupnya, <span style=\"font-weight: bold;\">organisme atau makhluk hidup akan terus berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan mereka<\/span>. Namun, tidak semua interaksi bersifat menguntungkan. Ada yang menimbulkan kerugian, bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Supaya lebih paham, simak 7 simbiosis antar organisme di bawah ini!<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">a. Simbiosis Mutualisme<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis mutualisme adalah interaksi yang <span style=\"font-weight: bold;\">saling menguntungkan<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Ada 2 jenis mutualisme, yaitu\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\">obligat<\/span><span style=\"font-weight: normal;\"> dan\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\">fakultatif<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Mutualisme obligat<\/span> terjadi apabila <span style=\"font-weight: bold;\">kedua organisme tidak bisa hidup tanpa kehadiran organisme lainnya<\/span>. Contoh: interaksi antara jamur dengan alga agar keduanya tidak mati. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Sedangkan <span style=\"font-weight: bold;\">mutualisme fakultatif<\/span> merupakan bentuk simbiosis yang saling <span style=\"font-weight: bold;\">menguntungkan tetapi tidak ketergantungan<\/span>. Contoh: interaksi antara burung jal<\/span><\/span><\/span><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: normal;\">ak yang memakan kutu dari badan kerbau. Namun, burung jalak masih bisa hidup tanpa harus makan kutu dari kerbau. Begitu pun sebaliknya.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">b. Simbiosis Komensalisme<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis komensalisme adalah interaksi yang <span style=\"font-weight: bold;\">menguntungkan 1 spesies saja<\/span>, sedangkan <span style=\"font-weight: bold;\">spesies lainnya tidak terpengaruh apa-apa<\/span>. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Contoh: interaksi antara bunga anggrek yang menempel dengan pohon besar agar memperoleh cahaya matahari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">c. Simbiosis Parasitisme<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis parasitisme adalah interaksi yang <span style=\"font-weight: bold;\">menguntungkan 1 spesies<\/span> dan <span style=\"font-weight: bold;\">menimbulkan kerugian bagi spesies lainnya<\/span>. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Contoh: interaksi antara tali putri yang mengambil nutrisi dari tumbuhan inang. Lama-kelamaan, inang tadi bisa mati deh.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Macam-macam%20Interaksi%20Antar%20Organisme.png\" alt=\"Macam-macam Interaksi Antar Organisme\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">d. Simbiosis Amensalisme<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis amensalisme adalah interaksi yang <span style=\"font-weight: bold;\">merugikan 1 spesies saja<\/span>, sedangkan <span style=\"font-weight: bold;\">spesies lainnya tidak terpengaruh apa-apa<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Interaksi ini disebabkan oleh <span style=\"font-weight: bold;\">alelokimia<\/span>, yaitu zat kimia yang dihasilkan organisme tertentu yang mempengaruhi kelangsungan hidup organisme lain. <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Contoh: jamur <em>penicillium notatum<\/em> menghasilkan antibiotik yang dapat membunuh bakteri <em>staphylococcus<\/em>.<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">e. Simbiosis Netralisme<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis netralisme adalah <span style=\"font-weight: bold;\">interaksi dari spesies berbeda di tempat yang sama tetapi tidak saling mempengaruhi<\/span>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Contoh: Interaksi antara kucing dengan ayam di halaman rumah. Mereka hidup berdampingan tanpa saling memakan satu sama lain. Kecuali kalau kucing kamu dikasih ayam goreng, mungkin bakal doyan kali ya? Hehe.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">f. Simbiosis Predasi<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis predasi adalah kondisi di mana <span style=\"font-weight: bold;\">salah<\/span> <span style=\"font-weight: bold;\">satu organisme memangsa organisme lainnya untuk dijadikan makanan<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Organisme yang memangsa disebut\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\"><em>predator<\/em><\/span>, sedangkan yang dimangsa dikenal dengan istilah\u00a0<span style=\"font-weight: bold;\"><em>prey<\/em><\/span>. Contoh: macan memangsa rusa.<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-size: 18px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">g.\u00a0 Simbiosis Kompetisi<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Simbiosis kompetisi adalah interaksi antar organisme yang <span style=\"font-weight: bold;\">saling memperebutkan sumber daya yang sama dengan jumlah terbatas<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. Sumber daya yang dimaksud bisa berupa makanan, wilayah, atau pasangan.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: normal;\">Ada 2 jenis kompetisi, yaitu <span style=\"font-weight: bold;\">intraspesifik<\/span> dan <span style=\"font-weight: bold;\">interspesifik<\/span>. <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Kompetisi <span style=\"font-weight: bold;\">intraspesifik terjadi pada spesies yang sama.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">Contoh: D<\/span><\/span><span style=\"font-weight: normal;\">ua zebra jantan memperebutkan seekor zebra betina. <\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal; color: #000000;\">Sedangkan kompetisi <span style=\"font-weight: bold;\">interspesifik terjadi pada spesies yang berbeda<\/span><span style=\"font-weight: normal;\">. <\/span>Contoh:\u00a0 singa dan hyena memangsa zebra untuk dijadikan santapan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 20px; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 18pt;\">3. Piramida Ekologi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Piramida ekologi adalah susunan tingkatan trofik yang menunjukkan kepadatan populasi, berat organisme, maupun kemampuan menyimpan energi pada tiap trofik secara berurutan dalam ekosistem. Ada 3 jenis piramida ekologi, yaitu:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #434858;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Jenis-jenis%20Piramida%20Ekologi.png\" alt=\"Jenis-jenis Piramida Ekologi\" width=\"600\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 18px; color: #000000;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">a. Piramida Jumlah<\/span> <\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Piramida Jumlah menunjukkan jumlah organisme dalam tiap tingkatan. Idealnya produsen harus lebih banyak supaya seimbang agar tidak menimbulkan kompetisi dan berujung pada penurunan populasi. Pada gambar di atas, jumlah tumbuhan lebih banyak daripada jumlah konsumen tingkat 1.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 18px; color: #000000;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">b. Piramida Biomassa<\/span> <\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Piramida Biomassa menunjukkan berat organisme hidup dari masing-masing tingkatan trofik. Piramida ini terdapat di ekosistem terestrial dan akuatik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pada ekosistem terestrial, yang menjadi produsen adalah pohon yang memiliki massa lebih berat dibandingkan konsumen tingkat 1. Pada ekosistem akuatik,\u00a0yang berperan sebagai produsen di laut adalah plankton, dengan massa kurang dari 1kg.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\"><span style=\"font-size: 18px; color: #000000;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">c. Piramida Energi<\/span> <\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Piramida energi menunjukkan jumlah energi setiap tingkatan trofik. Cahaya matahari sebagai sumber energi utama untuk tumbuhan. Energi cahaya berubah jadi energi kimia melalui rantai makanan. Pada piramida ini, jumlah energi yang bisa dimanfaatkan hanya sekitar 10%.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt; color: #000000;\">Manfaat Ekologi<\/span><\/h2>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">1. Kelestarian Lingkungan Hidup<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ekologi membantu dalam memahami bagaimana ekosistem beroperasi dan bagaimana komponen-komponen lingkungan saling bergantung. Pengetahuan ini penting untuk melindungi dan melestarikan lingkungan hidup agar dapat berfungsi dengan baik dan terhindar dari kerusakan yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\"><strong>2. Keseimbangan Ekosistem<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ekosistem yang seimbang akan menciptakan lingkungan yang stabil dan produktif. Pengetahuan tentang rantai makanan, interaksi predator-mangsa, dan peran organisme dalam rantai makanan membantu menjaga keseimbangan populasi, mencegah ledakan populasi tertentu, dan menghindari kepunahan spesies tertentu yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">3. Pertanian dan Pangan<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pengetahuan ekologi dapat diterapkan dalam pengelolaan pertanian yang berkelanjutan. Misalnya, rotasi tanaman, pola tanam, dan penggunaan organik dapat meminimalkan dampak negatif terhadap tanah dan lingkungan sekitarnya, sambil tetap memastikan produksi pangan yang cukup untuk populasi manusia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">4. Pengendalian Hama Alami<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ekosistem yang seimbang menciptakan pengendalian hama alami, seperti predator alami yang memakan hama tanaman. Dengan memahami dinamika ekosistem, petani dapat menggunakan metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan daripada bergantung pada pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">5. Pendukung Keberlanjutan<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pengetahuan ekologi adalah landasan penting dalam pembangunan berkelanjutan. Memahami dampak dari aktivitas manusia terhadap lingkungan membantu dalam merancang kebijakan, praktik bisnis, dan proyek-proyek infrastruktur yang memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">6. Konservasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ekologi memainkan peran utama dalam upaya konservasi untuk melindungi spesies yang terancam punah dan habitatnya. Pengetahuan tentang ekologi spesies tertentu membantu dalam merancang strategi konservasi yang efektif untuk mempertahankan keragaman hayati.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000; font-size: 14pt;\">7. Pengaturan Iklim<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ekosistem seperti hutan dan lautan memiliki peran penting dalam mengatur iklim global. Mereka menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen, serta mempengaruhi pola cuaca dan iklim.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih belum paham? Tenang, kamu bisa rebahan sambil dengerin penjelasan dari STAR Master Teacher <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/\" rel=\"noopener\">Brain Academy<\/a> lho! Gurunya lulusan PTN ternama, dan ada fitur klinik PR buat bantu <span style=\"font-style: italic;\">ngerjain<\/span><span style=\"font-style: normal;\"> soal-soal sulit. Kalau ragu, bisa coba gratis dulu kok!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-style: normal;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/kelas.brainacademy.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/e5070f85-673f-4221-bef5-1021e2f4d494.jpeg\" alt=\"[IDN] CTA Blog Kelas Gratis Brain Academy Online \" width=\"821\" height=\"200\" \/><\/a><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":4,"featured_media":1039,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png"],"_edit_lock":["1756266138:1"],"_edit_last":["1"],"_wp_old_date":["2022-02-25","2023-08-10","2024-08-22"],"_aioseo_title":[null],"_aioseo_description":["Yuk, pahami komponen penyusun ekosistem, jenis-jenis bioma, populasi, komunitas, bentuk interaksi antar organisme, dan piramida ekologi."],"_aioseo_keywords":["a:0:{}"],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":["a:0:{}"],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null]},"categories":[1],"tags":[28,31,19],"class_list":["post-1039","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brainies-bertanya","tag-fakta-menarik","tag-pojok-sekolah"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-27T02:00:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-27T03:43:19+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Salsabila Nanda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya\",\"name\":\"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png\",\"datePublished\":\"2025-08-27T02:00:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-27T03:43:19+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/\",\"name\":\"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783\",\"name\":\"Salsabila Nanda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Salsabila Nanda\"},\"url\":\"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","og_url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","og_site_name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","article_published_time":"2025-08-27T02:00:03+00:00","article_modified_time":"2025-08-27T03:43:19+00:00","author":"Salsabila Nanda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Salsabila Nanda","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya","name":"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya - Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png","datePublished":"2025-08-27T02:00:03+00:00","dateModified":"2025-08-27T03:43:19+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Brainies%20Bertanya%20-%20Header%20Ekologi.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/mengenal-ekologi-piramida-dan-ruang-lingkupnya#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memahami Ekologi: Pengertian, Piramida, dan Ruang Lingkupnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/","name":"Portal Belajar &amp; Latihan Soal Terlengkap | Blog Brain Academy","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/7a2f56f2643f738a30f42b8f2a6ba783","name":"Salsabila Nanda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Salsabila Nanda"},"url":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/author\/salsabila-nanda"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1039","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1039"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1039\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5793,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1039\/revisions\/5793"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.brainacademy.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}